Kesaksian Remaja Perempuan Disiksa-Dilecehkan Polisi Myanmar

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 14/05/2021 15:09 WIB
Polisi Myanmar diduga melakukan tindak kekerasan dan pelecehan pada remaja-remaja perempuan yang ditahan karena berdemonstrasi. Ilustrasi remaja Myanmar yang berdemonstrasi menolak junta. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang remaja perempuan Myanmar membeberkan tindak kekerasan fisik hingga seksual yang dialami dia dan sejumlah perempuan lain saat ditahan pasukan keamanan junta.

Ma Chaw (17) dan ibunya diringkus menggunakan truk dalam perjalanan pulang dari aksi protes pada 14 April di Kota Yangon.

"Mereka memaksa kami berjongkok di tanah," cerita Ma Chaw, remaja yang kini duduk di bangku SMA, kepada AFP, dikutip Jumat (14/5).


Dia ditahan di balik jeruji besi penjara Insein Yangon selama enam hari dan mengalami penyiksaan dan pelecehan.

Ma Chaw mengatakan polisi menggunakan penganiayaan ketika menginterogasi dirinya. Ia dan ibunya diinterogasi secara terpisah. 

"Seorang petugas mengatakan kepada saya bahwa dia bisa membunuh saya dan membuat saya menghilang," katanya.

Ia mengungkap ibunya ditambah sebanyak dua kali selama interogasi. Dan keesokan harinya, mereka dibawa ke pusat penahanan di pinggiran utara Yangon.

Ma Chaw mengaku bertemu wanita-wanita lain yang juga ditahan. Ia mengatakan tubuh beberapa tahanan di sana dipenuhi luka dan memar.

Salah satu di antara tahanan itu, kata dia, bahkan dipukuli begitu parah sehingga hampir tidak bisa berbicara atau makan.

Dan ketika hendak dibebaskan, ia diminta menandatangani dokumen menyatakan dia tidak mengalami penyiksaan selama ditahan.

Ia berhasil bebas pada 20 April. Namun ibunya masih berada di bawah tahanan pasukan keamanan junta.

"Ini (dokumen pernyataan tidak disika) kebalikan dari apa yang telah mereka lakukan. (...) Ini benar-benar tidak bisa diterima dan tidak adil," tutur Ma Chaw.

Pengalaman serupa juga dialami Ngwe Thanzin, tahanan lain yang ditangkap bersama empat orang lain ketika mengikuti demonstrasi di Kota Okkalapa di selatan Yangon.

Ia bercerita wajahnya ditendang oleh pasukan keamanan. Selama tiga hari ditahan di penjara yang sama dengan Ma Chaw dan ibunya, Ngew Thanzin mengaku melihat korban-korban lainnya.

"Mereka tidak memukul atau menyiksa di depan orang lain. Tapi ketika orang diinterogasi secara individu, mereka keluar dengan memar," tuturnya.

AFP telah berupaya menghubungi juru bicara junta Myanmar untuk mengkonfirmasi kesaksian Ma Chaw dan Ngwe Thanzin, namun tidak dijawab.

Menteri Kesejahteraan Sosial Myanmar Thet Thet Khine--yang ditunjuk junta--juga tidak dapat dihubungi untuk diminta berkomentar.

Kelompok anggota parlemen yang menentang Junta, Pemerintah Persatuan Nasional, menyatakan sedang menyelidiki tuduhan kekerasan seksual berbasis gender terhadap perempuan dan anak dalam penahanan yang melanggar hukum.

"Kasus-kasus ini menunjukkan pola kekerasan seksual dan berbasis gender yang lebih luas yang dilakukan oleh militer Myanmar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa hukuman, terutama terhadap perempuan dan anak perempuan etnis minoritas di daerah konflik bersenjata," ujar mereka dalam sebuah pernyataan.

(fey/vws)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK