Paus Fransiskus Minta Rakyat Myanmar Jangan Menyerah

CNN Indonesia | Senin, 17/05/2021 21:44 WIB
Pemimpin Vatikan, Paus Fransiskus, meminta penduduk Myanmar tidak menyerah atau terpecah belah di tengah gejolak politik selepas kudeta. Pemimpin Takhta Suci Vatikan, Paus Fransiskus. (AP/Andrew Medichini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Takhta Suci Vatikan, Paus Fransiskus, meminta supaya penduduk Myanmar tidak menyerah atau malah terpecah belah di tengah gejolak politik selepas kudeta.

Paus Fransiskus lantas menggunakan perumpamaan gejolak di Myanmar seperti kejadian yang dialami Yesus Kristus sebelum disalib.

"Negeri Myanmar tercinta Anda tengah mengalami kekerasan, konflik dan penindasan. Mari kita tanyakan ke dalam diri, apa yang harus kita jaga? Yang paling utama menjaga iman," kata Paus Fransiskus saat berkhotbah dalam Misa Khusus bagi warga Myanmar yang digelar di Vatikan pada Minggu (16/5), seperti dilansir Reuters.


"Dia (Yesus) tidak tunduk di hadapan kekuatan jahat, dia tidak membiarkan dirinya diliputi rasa sedih, dia juga tidak mundur dari kegetiran atas kekalahan dan kekecewaan," lanjut Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus juga berpesan kepada para pemeluk Katolik di Myanmar supaya mereka tidak putus asa dalam melalui situasi saat ini, yang menurut dia berada di masa kegelapan malam dan kesedihan yang panjang serta ketika kekuatan jahat tengah berkuasa.

Penduduk Myanmar memang mayoritas memeluk Buddha. Namun, ada juga yang menganut Katolik.

Paus Fransiskus adalah salah satu tokoh dunia yang secara lantang menyuarakan kritik atas kudeta dan krisis politik di Myanmar. Dia pernah berkunjung ke negara itu pada 2017 silam.

Selain meminta warga dan umat Katolik Myanmar tidak putus asa, Paus Fransiskus juga meminta supaya penduduk setempat tidak saling membenci apalagi membalas dendam atau meninggalkan nilai-nilai kemasyarakatan yang dianut selama ini. Menurut dia persatuan masyarakat tetap penting.

Aksi protes dan kekerasan terus melanda Myanmar sejak militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu.

Militer Myanmar beralasan mereka mengambil alih kekuasaan karena ada indikasi kecurangan dalam pemilihan umum pada November 2020 lalu, dan menjaga demokrasi.

Sedangkan kelompok oposisi dan komisi pemilihan umum membantah tuduhan itu.

Selain kekerasan, kelompok pro-demokrasi Myanmar terus mengajak masyarakat melakukan aksi mogok nasional. Hal itu membuat perekonomian Myanmar terjun bebas akibat kegiatan sektor usaha dan pemerintahan terhenti.

Kini kelompok pro-demokrasi juga bersekutu dengan sejumlah milisi etnis untuk melawan junta Myanmar.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK