Anwar Ibrahim Curiga Syed Saddiq Didakwa Jelang Parlemen Buka

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 19:15 WIB
Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, curiga alasan di balik dakwaan anggota parlemen dari koalisinya, Syed Saddiq, jelang pembukaan masa sidang parlemen. Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, curiga alasan di balik dakwaan anggota parlemen dari koalisinya, Syed Saddiq, jelang pembukaan masa sidang parlemen. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, curiga dengan alasan di balik dakwaan terhadap anggota parlemen dari koalisinya, Syed Saddiq, yang dijatuhkan menjelang pembukaan masa sidang parlemen pekan depan.

Anwar curiga penahanan Syed ini dilatari motivasi politik untuk mencari dukungan bagi koalisi penguasa, Perikatan Nasional (PN). Koalisi itu memegang mayoritas kecil di parlemen sehingga mudah digoyang ketika ada mosi tidak percaya.

Saat ini, isu mosi tidak percaya mulai berembus di Malaysia karena sejumlah pihak kecewa dengan cara pemerintah menanggulangi pandemi Covid-19.


"Upaya ini terjadi terus-menerus karena pemerintah PN masih kekurangan mayoritas di Parlemen," ujar Anwar dalam keterangan tertulis yang dikutip Free Malaysia Today, Kamis (22/7).

Ia mulai mencurigai gerak-gerik PN ini setelah menerima laporan dari sejumlah anggota parlemen. Para legislator itu mengaku bahwa beberapa anggota PN berupaya menyuap dan mengintimidasi mereka agar mau mendukung koalisi pemerintahan.

Bagi mereka yang mau mendukung, PN menawarkan "posisi strategis dan/atau imunitas dari proses peradilan."

"Melihat pola penyalahgunaan kewenangan ini, saya mempertanyakan waktu penjatuhan dakwaan terhadap Syed Saddiq dan mendesak penyelidikan atas segala tuduhan dilakukan secara transparan dan profesional," tutur Anwar.

Anwar merilis pernyataan ini tak lama setelah Syed didakwa korupsi atas dugaan menyalahgunakan dana Pribumi Bersatu sebesar 1,2 juta ringgit atau Rp4,1 miliar saat ia masih menjadi kader partai berkuasa itu.

Eks menteri termuda dalam kabinet pemerintah Malaysia itu didakwa melanggar Undang-Undang Anti-Pencucian Uang dan UU Anti-Pendanaan Terorisme dan Perbuatan Melanggar Hukum di Pengadilan Johor Bahru pada Kamis (22/7).

Pria 28 tahun itu diduga melakukan korupsi ketika menjabat sebagai ketua organisasi pemuda Bersatu sebelum keruntuhan pemerintahan koalisi Pakatan Harapan pimpinan mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Setelah Mahathir lengser tahun lalu, Syed keluar dari Bersatu dan bergabung dengan partai politik berbasis pemuda pertama di Malaysia, Ikatan Demokratik Malaysia (MUDA), di bawah koalisi Pakatan Harapan yang kini menjadi oposisi.

[Gambas:Video CNN]

Menurut laporan The Star, Komisi Anti-Korupsi Malaysia mulai melakukan penyelidikan sejak Juni 2020, setelah Syed melaporkan uang tunai miliknya sebesar 25 ribu ringgit hilang.

Syed mengklaim bahwa uang tunai yang tersimpan di rumahnya di Petaling Jaya itu milik dia dan orang tuanya. Sampai saat ini, belum diketahui kaitan laporan itu dengan dugaan korupsi Syed.

Tak lama setelah ditahan, Syed juga melontarkan dugaan bahwa dakwaan ini bermotif politik agar ia mau mendukung PN menjelang masa sidang parlemen.

Menurut Syed, ancaman-ancaman seperti ini sudah terjadi selama satu tahun belakangan dan sekarang "diperbarui."

"Setiap kali ada pemungutan suara penting di parlemen, ancaman akan datang. Pada Juli, Desember, Januari, dan sekarang terjadi sepekan sebelum parlemen bersidang," katanya.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK