Myanmar Tahan Dokter Rawat Pasien Covid di Luar RS Pemerintah

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 21:05 WIB
Junta Myanmar dilaporkan menahan dokter yang merawat pasien Covid-19 secara mandiri karena tak mau ditugaskan di RS pemerintah dalam rangka menolak kudeta. Ilustrasi. (Keith Allison/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Junta militer Myanmar dilaporkan menahan beberapa dokter yang merawat pasien Covid-19 secara mandiri karena tak mau ditugaskan di rumah sakit pemerintah dalam rangka menolak kudeta.

Berdasarkan laporan dokter dan sejumlah media lokal, junta setidaknya sudah menahan sembilan dokter di Yangon dan Mandalay.

Reuters melansir bahwa salah satu dokter mengatakan empat rekannya dari Medical Family, Mandalay, ditangkap pasukan junta.


Mereka di antaranya Kyaw Kyaw Thet yang mengajar mahasiswa kedokteran dan ahli bedah senior, Thet Htay. Thet diborgol dan terlihat memar saat dibawa militer pada 16 Juli lalu, kata dokter itu.

Para dokter yang menolak bertugas di rumah sakit milik negara itu membuka konsultasi medis gratis melalui telepon. Mereka juga mengunjungi langsung orang sakit untuk memeriksa keadaannya.

Melalui telepon, mereka juga menuntun pasien cara menggunakan konsentrator oksigen, obat apa saja yang harus dibeli, termasuk cara mendapatkannya.

"Kami telah memberikan perawatan medis kepada ratusan pasien setiap hari," kata dokter itu.

Ia mengatakan bahwa akan lebih banyak pasien yang meninggal jika tak cepat ditangani.

Tiga dari antara dokter independen itu ditangkap setelah dijebak. Seorang tentara berpura-pura membutuhkan perawatan. Dokter itu pun datang ke sebuah rumah, tapi ternyata malah ditangkap.

Sementara itu, dua dokter lainnya ditangkap selama penggerebekan di kantor mereka di distrik Dagon Utara, Yangon.

Pemerintah tandingan Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), juga menuduh pasukan keamanan mengambil tabung oksigen, pakaian pelindung, dan obat-obatan selama penggerebekan.

Namun, staf informasi Dewan Administrasi Negara versi junta membantah tuduhan telah menangkap lima dokter di Yangon.

[Gambas:Video CNN]

Hingga saat ini, belum diketahui dasar hukum yang digunakan junta untuk menahan para dokter tersebut.

Di sisi lain, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) Myanmar melaporkan bahwa ratusan dokter yang aktif dalam gerakan pembangkangan sipil, didakwa menyebarkan berita palsu. Menurut catatan mereka, sebanyak 73 dokter telah ditangkap.

Penangkapan ini membuat staf medis di Myanmar kurang, padahal negara sedang mengalami lonjakan Covid-19. Publik pun kian tidak percaya kepada junta.

Kasus harian di negara itu belum menunjukkan tanda-tanda reda. Dari 15-22 Juli, kasus berkisar di angka 5 ribu hingga 7 ribuan. Sejauh ini, total kasus Covid-19 di Myanmar mencapai 247 ribu, dengan angka kematian 5.814.

(isa/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK