Anak Muammar Khadafi Ingin Kembali Terjun ke Politik
CNN Indonesia
Jumat, 13 Agu 2021 05:18 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Anak mendiang Muammar Khadafi, Saif al-Islam, sebelum ditangkap pemberontak di Libya. (AFP/IMED LAMLOUM)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saif al-Islam yang merupakan anak mendiang pemimpin Libya, Muammar Khadafi, menyatakan bakal kembali terjun ke politik setelah negaranya porak poranda akibat serbuan pasukan asing dan perang saudara.
Dalam rekaman video wawancara dengan The New York Times yang dikutip Middle East Monitor, Saif menyampaikan niatnya kembali terjun ke politik setelah menghilang dari pantauan publik selama satu dasawarsa.
"Sekarang saya manusia yang bebas dan sedang berencana untuk kembali ke dunia politik," kata Saif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Saif selama dia bersembunyi selalu memantau situasi Timur Tengah dan diam-diam kembali menyusun kekuatan untuk membangkitkan Partai Hijau yang di masa lalu mendukung kekuasaan mendiang ayahnya.
Saif mengklaim gerakan politik yang bakal diusungnya bisa kembali menyatukan seluruh kelompok masyarakat Libya yang saat ini terpecah belah.
"Politikus tidak memberikan apa-apa kecuali kesengsaraan, sekarang waktunya kembali ke masa lalu. Mereka memperkosa dan mempermalukan negara kita. Kita tidak punya uang, tidak punya keamanan dan tidak punya kehidupan. Kalau Anda pergi ke stasiun pengisian bahan bakar, maka tidak akan ada bahan bakar," kata Saif.
"Kita adalah eksportir minyak dan gas ke Italia, dan kita menyediakan separuh pasokan tenaga listrik bagi Italia, tetapi kita malah sengsara karena pasokan listrik dipangkas. Apa yang terjadi saat ini lebih dari sebuah kegagalan. Ini adalah lelucon," lanjut Saif.
Saif ditangkap oleh sebuah kelompok bersenjata di Libya ketika mereka menyergap iring-iringan kendaraan yang melintas di dekat Kota Ubari pada 2011 silam. Saat itu rombongan kendaraan itu tengah dalam perjalanan menuju Niger.
Ternyata saat digeledah, Saif turut menumpang di dalam salah satu kendaraan dengan tangan kanan diperban. Kelompok bersenjata itu langsung mengenali itu adalah Saif dari perawakannya yang gundul.
Saif lantas ditawan oleh kelompok itu. Karena saat itu Saif juga menjadi buronan Mahkamah Internasional, kelompok bersenjata itu memutuskan menyembunyikannya setelah pemilihan umum di Libya pada 2012 berlangsung.
Setelah itu Saif dilepas, tetapi tidak ada yang pernah tahu keberadaannya.
Menurut penjelasan Saif, kelompok bersenjata yang menahannya sepuluh tahun silam terperdaya oleh mimpi tentang revolusi. Malah menurut Saif sikap kelompok bersenjata itu kini berbalik dari mulanya antipati terhadap rezim Khadafi dan keduanya kini bersekutu.
Kini kelompok pendukung mendiang Khadafi tengah menyusun kekuatan untuk bisa berkuasa dan meloloskan agenda rekonsiliasi nasional, melalui pemilihan presiden dan parlemen yang rencananya dihelat pada akhir 2021 mendatang.
Walau skenario seperti itu seakan mustahil terlaksana, tetapi para pendukung Khadafi tidak bisa menyembunyikan hasrat untuk mengusung Saif sebagai calon presiden Libya. Bahkan menurut laporan Rusia dan berbagai suku di Libya yang loyal terhadap Khadafi siap mendukung Saif jika diusung sebagai capres.
Akan tetapi, rencana itu baru bisa terlaksana jika sang kerabat, Ahmad Gaddaf Al-Dam, bisa kembali memperoleh hartanya dan bisa membiayai kampanye Saif.
Di sisi lain, kelompok oposisi yang menggelar pemberontakan pada 17 Februari 2011 khawatir Saif bakal membalas dendam jika terpilih sebagai presiden Libya dan berkuasa. Maka dari itu mereka juga tengah ketar-ketir dan berusaha mengganjal rencana Saif kembali terjun ke perpolitikan di Libya.
Apalagi saat ini di Libya terdapat dua pemerintahan yang saling bertentangan, yakni yang berpusat di Benghazi dan dikuasai Jenderal Khalifa Haftar serta pemerintahan yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Tripoli.
Saif adalah anak pertama dari pernikahan Khadafi dan istri keduanya, Safiya Farkash.
Muhammad yang merupakan anak Khadafi dari pernikahan dengan istri pertama, Fatiha, tidak diketahui keberadaannya.
Ibu dan adik lelaki dan perempuan Saif yakni Hannibal dan Aisha kabur ke Aljazair setelah pemberontak meletus dan serangan pasukan koalisi asing.
Satu saudaranya yang bernama Saadi dilaporkan kabur dan bersembunyi di Nigeria. Saadi sempat dilaporkan hendak pergi ke Meksiko sebagai pendatang gelap tetapi berhasil digagalkan.
Tiga saudara kandung Saif, yakni Mu'tassim, Khamis dan Saif al-Arab, dilaporkan meninggal akibat dibunuh pemberontak Libya dan serangan bom Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Jakarta, CNN Indonesia --
Saif al-Islam yang merupakan anak mendiang pemimpin Libya, Muammar Khadafi, menyatakan bakal kembali terjun ke politik setelah negaranya porak poranda akibat serbuan pasukan asing dan perang saudara.
Dalam rekaman video wawancara dengan The New York Times yang dikutip Middle East Monitor, Saif menyampaikan niatnya kembali terjun ke politik setelah menghilang dari pantauan publik selama satu dasawarsa.
"Sekarang saya manusia yang bebas dan sedang berencana untuk kembali ke dunia politik," kata Saif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Saif selama dia bersembunyi selalu memantau situasi Timur Tengah dan diam-diam kembali menyusun kekuatan untuk membangkitkan Partai Hijau yang di masa lalu mendukung kekuasaan mendiang ayahnya.
Saif mengklaim gerakan politik yang bakal diusungnya bisa kembali menyatukan seluruh kelompok masyarakat Libya yang saat ini terpecah belah.
"Politikus tidak memberikan apa-apa kecuali kesengsaraan, sekarang waktunya kembali ke masa lalu. Mereka memperkosa dan mempermalukan negara kita. Kita tidak punya uang, tidak punya keamanan dan tidak punya kehidupan. Kalau Anda pergi ke stasiun pengisian bahan bakar, maka tidak akan ada bahan bakar," kata Saif.
"Kita adalah eksportir minyak dan gas ke Italia, dan kita menyediakan separuh pasokan tenaga listrik bagi Italia, tetapi kita malah sengsara karena pasokan listrik dipangkas. Apa yang terjadi saat ini lebih dari sebuah kegagalan. Ini adalah lelucon," lanjut Saif.
Saif ditangkap oleh sebuah kelompok bersenjata di Libya ketika mereka menyergap iring-iringan kendaraan yang melintas di dekat Kota Ubari pada 2011 silam. Saat itu rombongan kendaraan itu tengah dalam perjalanan menuju Niger.
Ternyata saat digeledah, Saif turut menumpang di dalam salah satu kendaraan dengan tangan kanan diperban. Kelompok bersenjata itu langsung mengenali itu adalah Saif dari perawakannya yang gundul.
Saif lantas ditawan oleh kelompok itu. Karena saat itu Saif juga menjadi buronan Mahkamah Internasional, kelompok bersenjata itu memutuskan menyembunyikannya setelah pemilihan umum di Libya pada 2012 berlangsung.
Setelah itu Saif dilepas, tetapi tidak ada yang pernah tahu keberadaannya.
Menurut penjelasan Saif, kelompok bersenjata yang menahannya sepuluh tahun silam terperdaya oleh mimpi tentang revolusi. Malah menurut Saif sikap kelompok bersenjata itu kini berbalik dari mulanya antipati terhadap rezim Khadafi dan keduanya kini bersekutu.
Anak Muammar Khadafi Ingin Kembali Terjun ke Politik
Warga Libya memperingati pemberontakan yang menggulingkan kekuasaan mendiang Muammar Khadafi. (AP/Francois Mori)
Kini kelompok pendukung mendiang Khadafi tengah menyusun kekuatan untuk bisa berkuasa dan meloloskan agenda rekonsiliasi nasional, melalui pemilihan presiden dan parlemen yang rencananya dihelat pada akhir 2021 mendatang.
Walau skenario seperti itu seakan mustahil terlaksana, tetapi para pendukung Khadafi tidak bisa menyembunyikan hasrat untuk mengusung Saif sebagai calon presiden Libya. Bahkan menurut laporan Rusia dan berbagai suku di Libya yang loyal terhadap Khadafi siap mendukung Saif jika diusung sebagai capres.
Akan tetapi, rencana itu baru bisa terlaksana jika sang kerabat, Ahmad Gaddaf Al-Dam, bisa kembali memperoleh hartanya dan bisa membiayai kampanye Saif.
Di sisi lain, kelompok oposisi yang menggelar pemberontakan pada 17 Februari 2011 khawatir Saif bakal membalas dendam jika terpilih sebagai presiden Libya dan berkuasa. Maka dari itu mereka juga tengah ketar-ketir dan berusaha mengganjal rencana Saif kembali terjun ke perpolitikan di Libya.
Apalagi saat ini di Libya terdapat dua pemerintahan yang saling bertentangan, yakni yang berpusat di Benghazi dan dikuasai Jenderal Khalifa Haftar serta pemerintahan yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Tripoli.
Saif adalah anak pertama dari pernikahan Khadafi dan istri keduanya, Safiya Farkash.
Muhammad yang merupakan anak Khadafi dari pernikahan dengan istri pertama, Fatiha, tidak diketahui keberadaannya.
Ibu dan adik lelaki dan perempuan Saif yakni Hannibal dan Aisha kabur ke Aljazair setelah pemberontak meletus dan serangan pasukan koalisi asing.
Satu saudaranya yang bernama Saadi dilaporkan kabur dan bersembunyi di Nigeria. Saadi sempat dilaporkan hendak pergi ke Meksiko sebagai pendatang gelap tetapi berhasil digagalkan.
Tiga saudara kandung Saif, yakni Mu'tassim, Khamis dan Saif al-Arab, dilaporkan meninggal akibat dibunuh pemberontak Libya dan serangan bom Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).