Kelaparan di Madagaskar, Warga Terpaksa Makan Belalang-Kaktus

CNN Indonesia | Kamis, 26/08/2021 21:56 WIB
Serangga hingga tanaman seperti daun kaktus menjadi makanan sehari-hari warga di selatan Madagaskar yang bertahan di tengah kekeringan. Ilustrasi kekeringan Afrika. (Foto: AFP PHOTO/Rodger BOSCH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Madagaskar, termasuk anak-anak, terpaksa memakan serangga seperti belalang hingga daun kaktus akibat wabah kelaparan yang memburuk akibat perubahan iklim.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Urusan Pangan (WFP) memperkirakan sekitar 30 ribu warga negara pulau itu mengalami tingkat kerawanan pangan tertinggi.

Jumlah itu, kata WFP, akan terus bertambah dalam beberapa bulan mendatang.


Selatan Madagaskar mengalami kekeringan terburuk dalam empat dekade terakhir hingga memaksa ribuan penduduk di wilayah itu meninggalkan rumah mereka untuk mencari makanan.

Meski begitu, masih banyak warga di selatan Madagaskar yang berusaha bertahan dan mencari cara ekstrem untuk bertahan hidup di wilayah tandus tersebut mulai dari memakan serangga hingga daun kaktus.

Tamiry, salah satu warga di selatan Madagaskar, tinggal bersama ketiga anaknya yakni Trovelo (12), Mbahomamy (6), dan Manenjina (4) di Fandiova, salah satu desa paling terdampak kekeringan.

Untuk mengatasi kekurangan pangan dan kelaparan ekstrem keluarga Tamiry dan penduduk sekitar memakan belalang, daun kaktus, hingga tanaman lainnya yang disebut 'faux mimosa' yang biasa diberikan pada hewan ternak.

"Di pagi hari, saya menyiapkan sepiring serangga ini belalang). Saya membersihkannya sebaik mungkin karena hampir tidak ada air," kata Tamiry seperti dikutip The Independent pada Rabu (25/8).

Tamiry menuturkan sudah delapan bulan ia dan anak-anaknya memakan seranga dan tumbuhan seperti itu.

"Karena tidak ada lagi yang bisa di makan, tidak ada pula hujan yang turun agar kami bisa bercocok tanam," paparnya menambahkan.

Senada dengan Tamiry, Bole, ibu dari tiga anak, mengaku tak memiliki makanan untuk anak-anaknya hari itu.

Sang suami bahkan baru meninggal dunia akibat kelaparan.

"Apa yang bisa saya katakan? Kehidupan kami hanya tentang mencari daun kaktus, lagi, dan lagi, untuk bertahan hidup," ucap Bole.

PBB menuturkan WFP tengah membutuhkan dana darurat sebesar US$78.6 juta untuk dapat menyalurkan bantuan dan menyediakan bahan pangan bagi warga di selatan Madagaskar.

Dana itu cukup memasok bahan pangan warga di selatan Madagaskar setidaknya dari September 2021 sampai Maret 2022.

(rds/rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK