Alasan Militer Kudeta Guinea saat Periode 3 Presiden Conde

CNN Indonesia | Senin, 06/09/2021 09:39 WIB
Salah satu perwira militer Guinea, Letnan Kolonel Mamady Doumbouya, membeberkan alasan melancarkan kudeta terhadap pemerintahan, pada Minggu (5/9). Alpha Conde saat ikut Pemilihan Presiden Guinea pada 2020. (AFP/JOHN WESSELS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu perwira militer Guinea, Letnan Kolonel Mamady Doumbouya, membeberkan alasan melancarkan kudeta terhadap pemerintahan, pada Minggu (5/9).

Doumbouya menilai pemerintahan Guinea "salah urus", sehingga ia harus mengambil tindakan pengambilalihan kekuasaan tersebut. Pihak militer melakukan kudeta setelah Conde memimpin lagi sebagai Presiden Guinea di periode ketiga pada 2020 lalu.

Doumbouya mengaku bertindak untuk kepentingan negara dan rakyat di negara Afrika Barat itu.


"Tugas seorang tentara adalah menyelamatkan negara," katanya, dikutip dari AFP.

"Personalisasi kehidupan politik sudah berakhir. Kami tidak akan lagi mempercayakan politik kepada satu orang, kami akan mempercayakan kepada rakyat," Doumbouya melanjutkan.

Menurut Doumbouya, setelah Guinea merdeka, tak ada kemajuan atau pergerakan di bidang ekonomi sejak 1958.

"Jika Anda melihat keadaan jalan kami, jika Anda melihat keadaan rumah sakit kami, Anda menyadari bahwa setelah 72 tahun, inilah saatnya untuk bangun," katanya.

"Kita harus bangun," tegas Doumbouya seperti dikutip Al-Jazeera, Senin (6/9).

Kudeta yang terjadi di tengah periode panjang ketegangan politik di Guinea. Conde sendiri menang pemilihan prsiden lagi tahun lalu untuk periode ketiga pemerintahannya.

Tepat sehari sebelum pemilihan presiden, militer memblokir akses ke Kaloum setelah dugaan pemberontakan dari salah satu kelompok militer di timur ibu kota.

Pemungutan suara pada Oktober 2020 menjadi perdebatan sengit dan dituduh adanya kecurangan dalam Pemilu. Oposisi dan lawan utama Conde, Cellou Dalein Diallo menyebut pemilihan itu palsu.

Kemenangan itu, diiringi dengan demonstrasi warga yang menentang jabatan ketiga presiden, pada 7 November 2020 lalu. Imbas insiden itu puluhan orang tewas.

Pemerintah kemudian melancarkan tindakan keras dan menangkap beberapa anggota oposisi terkemuka atas dugaan perannya dalam kekerasan pemilu di negara itu.

Conde menjadi pemimpin pertama Guinea yang terpilih secara demokratis pada tahun 2010, dan memenangkan pemilihan kembali pada tahun 2015.

Namun, harapan akan fajar politik baru di bekas jajahan Prancis itu memudar, dan dia dituduh hanyut ke dalam otoritarianisme.

Mantan pemimpin oposisi yang pernah dipenjara, dijatuhi hukuman mati olehnya.



(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK