Erdogan soal Afghanistan: AS yang Harus Bayar Konsekuensinya

rds, CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 09:26 WIB
Erdogan mengaku relasinya dengan Presiden Biden tidak dimulai dengan awal yang mulus. Presiden Turki Erdogan mengaku memiliki relasi lebih baik dengan para pendahulu Presiden Biden. (Foto: AFP/ADEM ALTAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali melontarkan kritik pedas terhadap Amerika Serikat soal krisis yang terjadi di Afghanistan setelah Taliban kembali menguasai negara itu.

Erdogan bersikeras AS lah yang harus membayar kerugian dan konsekuensi akibat penarikan pasukan yang tidak mulus dari Afghanistan. Sebab, penarikan pasukan AS dan sekutu setelah dua dekade menduduki Afghanistan menjadi salah satu pemicu Taliban kembali berkuasa.

Kebangkitan Taliban ke pucuk kekuasaan pun dikhawatirkan memicu Afghanistan kembali menjadi sebagai sarang aktivitas terorisme hingga mendorong gelombang pengungsi.


"Amerika Serikat harus membayar harganya," kata Erdogan ketika ditanya soal eksodus besar-besaran warga Afghanistan pada Kamis (23/9).

"Ke mana para pengungsi ini akan pergi sekarang? Tidak terbayangkan bagi Turki untuk membuka pintu dan menerima mereka," paparnya menambahkan dalam wawancara bersama kantor berita Anadolu.

Erdogan telah berulangkali menolak menerima pengungsi Afghanistan. Ia berdalih bahwa selama ini, Turki telah kewalahan menanmpung sekitar lima juta pengungsi termasuk dari 3,7 juta orang dari Suriah dan 420 ribu pengungsi Afghanistan.

Dalam wawancara di sela-sela Majelis Umum PBB Ke-76 di New York itu, Biden mengaku relasi AS-Turki tidak begitu mulus saat Presiden Joe Biden menjabat di Gedung Putih pada Januari 2021 lalu.

Ia pun mengaku relasinya berjalan lebih baik dengan para pendahulu Biden, termasuk dengan Presiden Donald Trump.

"Keinginan saya adalah untuk memiliki hubungan persahabatan dan tidak bermusuhan dengan Amerika Serikat. Tetapi bagaimana keadaan antara dua sekutu NATO ini sekarang tidak terlalu menguntungkan," kata Erdogan.

Erdogan lantas mengatakan dirinya "telah berhubungan dan bekerja sama dengan baik" dengan para pendahulu Biden seperti Presiden George W. Bush, Barack Obama, hingga Trump.

"Tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa semuanya dimulai dengan baik (saat berhubungan) dengan Presiden Biden," ucap Erdogan seperti dikutip AFP.

Erdogan menuturkan beberapa waktu sebelum Biden menjabat, Turki tengah kesal dengan AS lantaran membatalkan proyek pesawat tempur F-35 Ankara setelah Ankara menyetujui akuisisi sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.

Kesepakatan dengan Rusia itu menyebabkan AS menjatuhkan sanksi dan penangguhan proyek F-35 dengan Turki.

"Kami membeli F-35, membayar 1,4 miliar dolar AS, dan F-35 tidak dikirimkan pada kami," papar Erdogan.

"Bagi kami masalah S-40 sudah selesai. Tidak mungkin lagi berubah. AS harus mengerti. Kami, Turki, jujur, tapi sayangnya AS tidak pernah (jujur)," katanya menambahkan.

Erdogan menegaskan bahwa Turki akan tetap "membeli apa saja yang dibutuhkan negara" untuk memperkuat pertahanannya.



(rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK