Dubes Singapura Bicara soal Rencana Kapal Selam Nuklir AUKUS

Titin Rosmasari, CNN Indonesia | Jumat, 24/09/2021 22:40 WIB
Dubes Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, bicara soal kesepakatan trilateral di bidang pertahanan antara Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Dubes Singapura untuk RI bicara soal rencana kapal selam tenaga nuklir AUKUS. (AFP/DANIEL MIHAILESCU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, bicara soal kesepakatan trilateral di bidang pertahanan antara Australia, Inggris dan Amerika Serikat (AUKUS).

Terkait kesepakatan itu, Nayar mengatakan, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sudah melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Perdana Menteri Scott Morrison pada 16 September.

"(Percakapan itu) menyoroti hubungan bilateral dan multilateral yang sudah lama, yang dimiliki Singapura dengan Australia, Inggris dan AS," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/9).


Nayar lalu melanjutkan, "(PM) Berharap AUKUS akan berkontribusi secara konstruktif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan dan melengkapi arsitektur kawasan."

Salah satu kesepakatan AUKUS yang menjadi sorotan dunia adalah pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia. Negara ini mendapat akses dari AS untuk membuat Alutsista tersebut.

Sejumlah pihak meyakini kesepakatan itu untuk mengimbangi kekuatan China di Indo-Pasifik. Beijing sendiri geram akan perjanjian ini dan menyebut mereka memicu perang dingin.

Sejumlah negara ASEAN, yang juga di wilayah Indo-Pasifik, turut khawatir. Indonesia, misalnya, sudah memperingatkan adanya perlombaan senjata antar negara besar yang akan mengancam stabilitas kawasan.

Sementara Malaysia khawatir AUKUS dapat memprovokasi kekuatan lain untuk bertindak lebih agresif.

Singapura bukan satu-satunya negara yang mendukung AUKUS, Filipina lebih dulu menyatakan dukungannya.

Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin, mengatakan peningkatan kemampuan sekutu untuk memproyeksikan kekuatan harus menjaga keseimbangan ketimbang mengacaukannya.

Ia juga mengatakan butuh peningkatan kapasitas militer untuk menanggapi ancaman. Diketahui Filipina dan China kerap bersitegang utamanya soal konflik di Laut China Selatan.

(bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK