WNI Cerita Kondisi di Singapura saat Kasus Covid-19 Naik
CNN Indonesia
Jumat, 24 Sep 2021 13:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bianglala raksasa di Singapura. (iStockphoto/TwilightShow)
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) di Singapura, Maria Ratri, mengungkapkan kondisi masyarakat di negara tersebut di tengah kenaikan kasus Covid-19 akhir-akhir ini.
Beberapa hari ini kasus harian Covid-19 di Singapura mencapai ribuan. Pada hari Selasa (21/9) saja kasus harian sebanyak 2.095, di hari berikutnya kasus bertambah hingga 1.495.
Ratri mengatakan meski kasus Covid-19 tengah meningkat kondisi di Singapura tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Hanya saja masyarakat lebih berhati-hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita pakai masker dimana-mana. Masyarakat juga lebih hati-hati, hanya boleh dine ini (makan di tempat) kalau sudah vaksinasi lengkap, sekolah lokal juga akan menerapkan sistem online," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/8).
Sejauh ini, kata Ratri, tak ada imbauan dari pemerintah mengenai pengurangan kapasitas di transportasi publik.
"Sekarang lebih pelayanan publiknya balik normal. Jadi tinggal bagaimana orang-orang mengambil pencegahan untuk diri sendiri. Bahkan katanya di MRT sudah penuh gitu," tuturnya.
Untuk mengurangi laju penularan virus, pemerintah kata Ratri, juga kerap melakukan inspeksi dadakan di kantor-kantor di Singapura. Sebab, negara ini masih menekankan para pekerja untuk bekerja dari rumah (WFH). Jika didapati ada satu orang yang positif, maka satu gedung harus ditutup.
Ihwal fasilitas kesehatan, pemerintah juga sudah mengantisipasinya. Mereka, kata Ratri, mengimbau bagi pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan agar karantina di rumah.
"Misalkan ada yang positif tapi cenderung ringan dan tak ada gejala mereka boleh di rumah. Tapi semua keluarga harus di rumah sampai katakanlah 10 hari atau dua minggu," lanjutnya.
Sebelumnya, pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan akan ditempatkan di pusat karantina yang disediakan pemerintah.
Pemerintah juga tak mengizinkan pengunjung ke rumah sakit menghindari klaster baru, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Meski tren kasus Covid-19 terus naik, tak ada kabar dari pemerintah mengenai circuit breaker atau semacam penyekatan, sebagaimana April lalu.
"Sepertinya pemerintah cenderung untuk optimistis kita nggak akan kembali ke circuit breaker kemarin sih," kata Ratri.
Total 97 persen kasus Covid-19 di Singapura tergolong ringan dan sedang, bahkan tanpa gejala.
Kondisi pelayanan publik lainnya dan rencana pembukaan di Singapura, buka di halaman berikutnya...
Di Singapura, mal-mal sudah buka secara normal pula. Anak-anak juga boleh masuk. Namun, semua yang masuk mal harus sudah divaksin.
Meski demikian, para penjaga yang bertugas juga mengingatkan pengunjung mal mengenai pemakaian masker. Mereka terus memantau agar tak ada interaksi antar meja di tempat makan atau jumlah orang dalam satu meja.
Pemerintah juga dikabarkan berencana membuka perbatasan di akhir tahun 2021 ini, lanjut Ratri.
"Ada wacana mereka juga mau buka border (perbatasan) kan akhir tahun ini."
Meski sejumlah aturan dilonggarkan dan pembatasan akan dibuka, Ratri sendiri mengaku tetap berjaga-jaga dan memilih untuk tidak pergi ke mana-mana dahulu.
"Kalau saya, border mau buka, buka saja. Tapi saya enggak ke mana-mana dulu. Karena kalau sampai kenapa-kenapa ngeri juga sih," katanya.
Ratri menilai ada hal dilematis bagi Singapura. Mereka tak bisa terus menutup perbatasan hingga tahun depan, apalagi posisi negara itu sebagai hub penerbangan.
Di Singapura sendiri ia merasakan betul pembatasan yang diterapkan pemerintah.
"Kita merasakan banget menderitanya. Singapura dengan border (perbatasan) ditutup dua tahun ini kerasa banget sih dampaknya," ungkap Ratri.
Ia juga menyinggung situasi dan kondisi di Indonesia yang menurutnya tak bisa terus menerus menerapkan penguncian wilayah, sementara ekonomi harus terus berjalan.
"Memang bagaimanapun juga ekonomi harus jalan suka atau tidak suka. Tapi sekarang yang harus diperhatikan sistem kesehatan publik. Orang sudah divaksin prokes (protokol kesehatan), tetap dijaga dan mengurangi mobilitas. Itu satu-satunya cara membuka border," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) di Singapura, Maria Ratri, mengungkapkan kondisi masyarakat di negara tersebut di tengah kenaikan kasus Covid-19 akhir-akhir ini.
Beberapa hari ini kasus harian Covid-19 di Singapura mencapai ribuan. Pada hari Selasa (21/9) saja kasus harian sebanyak 2.095, di hari berikutnya kasus bertambah hingga 1.495.
Ratri mengatakan meski kasus Covid-19 tengah meningkat kondisi di Singapura tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Hanya saja masyarakat lebih berhati-hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita pakai masker dimana-mana. Masyarakat juga lebih hati-hati, hanya boleh dine ini (makan di tempat) kalau sudah vaksinasi lengkap, sekolah lokal juga akan menerapkan sistem online," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/8).
Sejauh ini, kata Ratri, tak ada imbauan dari pemerintah mengenai pengurangan kapasitas di transportasi publik.
"Sekarang lebih pelayanan publiknya balik normal. Jadi tinggal bagaimana orang-orang mengambil pencegahan untuk diri sendiri. Bahkan katanya di MRT sudah penuh gitu," tuturnya.
Untuk mengurangi laju penularan virus, pemerintah kata Ratri, juga kerap melakukan inspeksi dadakan di kantor-kantor di Singapura. Sebab, negara ini masih menekankan para pekerja untuk bekerja dari rumah (WFH). Jika didapati ada satu orang yang positif, maka satu gedung harus ditutup.
Ihwal fasilitas kesehatan, pemerintah juga sudah mengantisipasinya. Mereka, kata Ratri, mengimbau bagi pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan agar karantina di rumah.
"Misalkan ada yang positif tapi cenderung ringan dan tak ada gejala mereka boleh di rumah. Tapi semua keluarga harus di rumah sampai katakanlah 10 hari atau dua minggu," lanjutnya.
Sebelumnya, pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan akan ditempatkan di pusat karantina yang disediakan pemerintah.
Pemerintah juga tak mengizinkan pengunjung ke rumah sakit menghindari klaster baru, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Meski tren kasus Covid-19 terus naik, tak ada kabar dari pemerintah mengenai circuit breaker atau semacam penyekatan, sebagaimana April lalu.
"Sepertinya pemerintah cenderung untuk optimistis kita nggak akan kembali ke circuit breaker kemarin sih," kata Ratri.
Total 97 persen kasus Covid-19 di Singapura tergolong ringan dan sedang, bahkan tanpa gejala.
Kondisi pelayanan publik lainnya dan rencana pembukaan di Singapura, buka di halaman berikutnya...
Suasana di Mal Singapura
Singapura seperti sudah kembali normal meski kasus Covid-19 kembali naik. (REUTERS/EDGAR SU)
Di Singapura, mal-mal sudah buka secara normal pula. Anak-anak juga boleh masuk. Namun, semua yang masuk mal harus sudah divaksin.
Meski demikian, para penjaga yang bertugas juga mengingatkan pengunjung mal mengenai pemakaian masker. Mereka terus memantau agar tak ada interaksi antar meja di tempat makan atau jumlah orang dalam satu meja.
Pemerintah juga dikabarkan berencana membuka perbatasan di akhir tahun 2021 ini, lanjut Ratri.
"Ada wacana mereka juga mau buka border (perbatasan) kan akhir tahun ini."
Meski sejumlah aturan dilonggarkan dan pembatasan akan dibuka, Ratri sendiri mengaku tetap berjaga-jaga dan memilih untuk tidak pergi ke mana-mana dahulu.
"Kalau saya, border mau buka, buka saja. Tapi saya enggak ke mana-mana dulu. Karena kalau sampai kenapa-kenapa ngeri juga sih," katanya.
Ratri menilai ada hal dilematis bagi Singapura. Mereka tak bisa terus menutup perbatasan hingga tahun depan, apalagi posisi negara itu sebagai hub penerbangan.
Di Singapura sendiri ia merasakan betul pembatasan yang diterapkan pemerintah.
"Kita merasakan banget menderitanya. Singapura dengan border (perbatasan) ditutup dua tahun ini kerasa banget sih dampaknya," ungkap Ratri.
Ia juga menyinggung situasi dan kondisi di Indonesia yang menurutnya tak bisa terus menerus menerapkan penguncian wilayah, sementara ekonomi harus terus berjalan.
"Memang bagaimanapun juga ekonomi harus jalan suka atau tidak suka. Tapi sekarang yang harus diperhatikan sistem kesehatan publik. Orang sudah divaksin prokes (protokol kesehatan), tetap dijaga dan mengurangi mobilitas. Itu satu-satunya cara membuka border," katanya.