KILAS INTERNASIONAL

RI Kritik Kembali Vanuatu hingga Xi Jinping soal Taiwan

CNN Indonesia | Senin, 27/09/2021 06:45 WIB
Sejumlah kabar dunia sejak akhir pekan lalu masih meramaikan berita-berita di kanal internasional pagi ini. Wakil RI kritik Vanuatu yang terus mendukung Papua. (ANTARA FOTO/Indrayadi TH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah kabar dunia sejak akhir pekan lalu masih meramaikan berita-berita di kanal internasional pagi ini.

Wakil Republik Indonesia di PBB yang kembali mengkritik Vanuatu karena dianggap melakukan tuduhan palsu atas soal Papua salah satu kabar hangat hingga saat ini.

Begitu pula komentar Presiden China Xi Jinping yang menilai situasi suram di Selat Taiwan.


Berikut Kilas Internasional di kanal CNNIndonesia.com Senin (27/9) pagi ini:


1. Wakil RI di Sidang PBB Minta Vanuatu Buka Mata soal HAM Papua

Perwakilan Indonesia dari Kementerian Luar Negeri kembali melontarkan. kritik terhadap Vanuatu yang terus mendukung kemerdekaan Papua dalam sidang umum PBB beberapa waktu lalu.

Pihak Kementerian Luar Negeri RI yang diwakili Sindy Nur Fitri, Sekretaris Ketiga pada PTRI New York menyebut Vanuatu telah melakukan tuduhan palsu, tidak berdasar bahkan keliru terkait Hak Asasi Manusia (HAM) yang disebut-sebut telah dilanggar di Papua.

"Vanuatu mencoba mengesankan dunia dengan apa yang disebut kepeduliannya terhadap masalah hak asasi manusia," ungkap Sindy saat membacakan pernyataannya dan diunggah dalam akun YouTube MoFa, Minggu (26/9).

Padahal, kata dia, hak asasi manusia yang terus digaungkan Vanuatu terkait Papua ini dipelintir. Vanuatu seolah menutup mata atas tindakan teror yang malah dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua yang jelas-jelas melanggar HAM.

"Vanuatu sengaja menutup mata ketika kelompok kriminal separatis bersenjata ini membunuh perawat, petugas kesehatan, guru, pekerja bangunan, dan aparat penegak hukum," kata dia.

2. Xi Jinping Sebut Situasi di Selat Taiwan Suram

Presiden China Xi Jinping menyebut situasi di Selat Taiwan "kompleks dan suram". Pernyataan itu ditulis dalam surat ucapan selamat dirinya kepada pemimpin baru partai oposisi utama Taiwan, Minggu (26/9), yang berjanji akan memperbarui perbincangan dengan Beijing.

Kuomintang Taiwan (KMT) memilih pemimpin baru mereka pada Sabtu (25/9), mantan Wali Kota New Taipei City, Eric Chu. Usai terpilih, Chu menyebut akan menghidupkan kembali komunikasi tingkat tinggi dengan Partai Komunis China yang sempat terhenti.

China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari negaranya dan meningkatkan tekanan militer juga politik untuk memaksa pulau yang menganut sistem demokratis itu menerima kedaulatan China. Namun sebagian besar penduduk Taiwan menunjukkan tidak berminat diperintah oleh Beijing.

Dalam surat Xi Jinping yang salinannya dipublikasikan oleh KMT, ia menyebutkan kedua pihak memiliki "interaksi yang baik" berdasarkan penentangan mereka atas kemerdekaan Taiwan.

"Saat ini, situasi di Selat Taiwan kompleks dan suram. Semua putra dan putri bangsa China harus bekerja sama dengan satu hati dan maju bersama," kata Xi Jinping yang juga menjabat sebagai pemimpin Partai Komunis China.

3. Islandia Hampir Cetak Sejarah Mayoritas Perempuan di Parlemen

Islandia mulanya diyakini akan menjadi negara pertama di Eropa dengan mayoritas perempuan di parlemen. Namun, catatan sejarah itu gagal terjadi sebab setelah perhitungan ulang ternyata anggota parlemen pria di sana masih lebih banyak.

Seperti dilansir AFP, dari 63 kursi di parlemen, setelah hitung ulang sebanyak 30 yang dimenangkan perempuan atau 47,6 persen. Padahal sebelumnya saat memulai hari Minggu (26/9), perolehan perhitungan suara mulanya adalah 33 kursi didapatkan perempuan atau 52 persen.

Mengutip dari Reuters, saat berita ini ditulis, Komisi Pemilu Nasional Islandia masih belum memublikasikan hasil terbaru dari pemilihan tersebut di situs resminya, dan belum ada pula pejabatnya yang memberikan pernyataan resmi.



(tim/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK