ANALISIS

Konsulat AS di Yerusalem dan Motif Biden 'Lirik' Palestina

rds, CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 19:30 WIB
Rencana AS membuka kantor konsulat untuk Palestina di Yerusalem dinilai sejumlah pengamat bentuk keinginan Presiden Joe Biden mendekati dunia Islam. Apa alasannya? Di masa kampanye, Biden berjanji pemerintahannya akan lebih merangkul kaum minoritas AS, terutama Muslim Amerika. (Foto: AFP/Saul Loeb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Relasi Israel dan Amerika Serikat kembali diuji setelah Tel Aviv mengecam rencana Washington yang ingin membuka kembali kantor konsulat di Yerusalem.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menentang langkah AS itu yang dianggap sebagai bentuk pengakuan Amerika terhadap negara Palestina.

Konsulat AS di Yerusalem selama ini menjadi penghubung Gedung Putih dan Ramallah. Namun, mantan Presiden AS, Donald Trump, menutup konsulat itu dan menggabungkannya dengan kedutaan besar AS untuk Israel.


Pada 2017, Trump juga memindahkan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, langkah yang dikecam dunia karena dinilai memperkeruh konflik Palestina-Israel.

Israel dan Palestina telah lama memperebutkan Yerusalem sebagai ibu kota masa depan mereka.

Sejak menjabat sebagai presiden, Trump memang menerapkan sederet kebijakan yang berpihak pada Israel. Politikus Partai Republik itu bahkan merilis serangkaian aturan yang berbau xenofobia dan Islamofobia.

Dia sempat menutup perbatasan AS bagi sejumlah negara mayoritas Muslim atau yang dikenal dengan aturan Muslim Travel Ban dengan alasan keamanan.

Namun, sejak Presiden Joe Biden menjabat di Gedung Putih pada 2020, AS membatalkan sederet aturan Trump yang dinilai rasis tersebut.

Muslim Travel Ban AS menjadi salah satu kebijakan yang dibatalkan Biden di hari-hari pertamanya menjabat di Gedung Putih pada Januari 2021.

Dalam program kampanye Biden, mantan wakil presiden AS itu bahkan memiliki agenda khusus untuk komunitas Muslim Amerika.

"Joe Biden akan bekerja sama dengan Muslim AS menghadapi kekhawatiran yang selama ini mereka rasakan. Joe Biden ingin membuktikan bahwa bangsa Amerika bukan lah negara yang Donald Trump pikirkan, bahwa kita percaya dapat memperlakukan semua orang dengan bermartabat dan hormat," bunyi situs kampanye Biden.

Saat kampanye, Biden bahkan pernah mengatakan "Insya Allah" yang berarti jika Allah menghendakinya saat debat pertama calon presiden AS 2020.

Dalam pidato di Sidang Majelis Umum PBB Ke-76 pada September lalu, Biden bahkan menyerukan kedaulatan dan pembentukan negara Palestina.

Biden percaya bahwa "solusi dua negara adalah cara terbaik memastikan masa depan Israel sebagai negara Yahudi, negara demokratis yang hidup dalam damai bersama negara Palestina yang layak, berdaulat, dan demokratis."

Menurut seorang profesor kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, Biden memang ingin berupaya membangun kembali citra Amerika sebagai polisi dunia yang adil dan tak memihak.

Karena itu, kata Yon, Biden melalui kebijakan AS berupaya membangun dialog dan kepercayaan dengan dunia Islam lagi yang "porak-poranda" di masa pemerintahan pendahulunya.

"Upaya-upaya membangun kepercayaan itu direalisasikan dengan kebijakan-kebijakan nyata, salah satunya dengan membuka lagi kantor konsulat AS untuk Palestina di Yerusalem," ucap Yon saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Kamis (14/10).

Menurut Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia itu, Biden berupaya mengembalikan sikap netral AS.



AS Ingin Ubah Citra Sepeninggal Trump

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK