5 Derita Warga Atasi Krisis 100 Hari Taliban: Jual Anak hingga Narkoba

CNN Indonesia
Jumat, 26 Nov 2021 09:05 WIB
Usai Taliban berkuasa, warga Afghanistan terus didera krisis. Seratus hari sudah mereka menempuh berbagai cara untuk bertahan, dari menjual anak hingga narkoba. Ilustrasi warga Afghanistan. (AFP/Bulent Kilic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah Taliban berkuasa pada 15 Agustus lalu, warga Afghanistan terus didera krisis. Seratus hari sudah mereka menempuh berbagai cara untuk bertahan hidup, mulai dari menjual anak hingga narkoba.

Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afghanistan, Deborah Lyons, memang sudah memperingatkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di negara itu bisa memicu peningkatan berbagai kejahatan.

Menurutnya, peredaran obat-obatan terlarang, aliran senjata, dan perdagangan manusia kemungkinan akan melonjak di tengah krisis ini.


Kondisi itu semakin parah mengingat komunitas internasional enggan membantu Afghanistan lantaran Taliban belum memenuhi janji menjunjung hak-hak asasi manusia.

Keadaan kian pelik karena Taliban juga disebut menargetkan mantan pejabat di pemerintahan sebelumnya, aktivis, dan membatasi ruang gerak perempuan.

Banyak warga Afghanistan akhirnya kehilangan pekerjaan dan kian sengsara. Di tengah penderitaan itu, para warga terus bersiasat. Berikut beberapa siasat mereka.

1. Jual anak perempuan

Seorang bapak di Afghanistan, Fazal, menjual dua anak perempuan untuk dinikahkan demi menghidupi keluarga di tengah krisis ekonomi.

Kepada Reuters, Fazal bercerita bahwa ia tak punya banyak pilihan. Opsi yang ada hanya menikahkan sang putri atau seluruh keluarga mati kelaparan.

Fazal memilih opsi pertama. Awal Oktober lalu, ia menjual putrinya yang berusia 13 dan 15 tahun kepada laki-laki yang usianya beda jauh. Ia menerima US$3 ribu atau setara Rp42 juta.

Selain Fazal, seorang bapak lainnya, Abdul Malik, juga mengaku terpaksa menjual anaknya yang baru berusia 9 tahun.

Dengan harga 200 ribu Afghani atau setara Rp31,5 juta, Malik menjual anaknya untuk dinikahi pria berusia 55 tahun. Ia menyerahkan sang putri sembari menangis.

"Ini pengantin Anda. Tolong jaga dia. Anak bertanggung jawab atas dia sekarang. Tolong jangan pukuli dia," katanya, seperti dikutip CNN.

Kedua anak tersebut hanya sebagian kecil dari banyak gadis Afghanistan lain yang dijual untuk dinikahi di tengah krisis berkepanjangan di negara itu.

Meski usia pernikahan legal di Afghanistan setidaknya 15 tahun. Namun, penjualan anak seperti ini sudah biasa terjadi di Afghanistan sejak dulu.

Aktivis hak asasi manusia di Badghis, Mohammad Naiem Nazem, mengatakan bahwa jumlah penjualan anak ini meningkat sejak Agustus lalu karena kelaparan yang semakin parah.

2. Jual peralatan rumah tangga

Mantan pejabat perempuan di pemerintahan sebelumnya, Sharifia, juga mengaku melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Ia bahkan menjual seluruh barang-barang rumah tangga yang dimiliki.

"Saya sudah tidak bekerja selama tiga bulan. Saya jual semua perkakas rumah tangga dan membeli makanan dari hasil penjualan itu," tutur Sharifia, seperti dikutip Deutsche Welle.

3. Mengemis hingga jadi buruh harian

Situasi di Afghanistan juga terasa sangat sulit bagi para eks pejabat di pemerintahan Ashraf Ghani. Mereka tak punya pekerjaan, dan nyawanya terancam.

Beberapa di antara eks pejabat itu kini dilaporkan menjadi pengemis atau buruh harian.

"Para mantan pejabat pemerintah sayangnya mengemis sekarang, dan beberapa yang lain beralih menjadi buruh harian," kata salah satu eks pejabat pemerintahan sebelumnya, Jamal, kepada Deutsche Welle.

Siasat warga Afghanistan jual senjata hingga narkoba bisa dibaca di halaman selanjutnya >>>

Geliat Warga Afghanistan Jual Senjata hingga Narkoba

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER