Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Rusia masa bodoh dengan pernyataan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang mengatakan pintu tetap terbuka bagi Ukraina jika ingin bergabung.
"Pernyataan yang dibuat Sekretaris Jenderal NATO, John Stoltenberg, saya masih tidak mengerti. Itu tak menarik bagi kami," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, saat konferensi pers pada Rabu (16/2), dikutip TASS.
Zakharova lalu berkata, "Dia bukan orang yang pernyataannya dianggap sebagai argumen serius di Moskow. Dia sudah menjadi NATO."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ukraina diketahui memutuskan membatalkan keinginan yang sudah lama untuk bergabung dengan NATO demi meredakan krisis yang terjadi.
Meski demikian, dia tetap berharap pembicaraan yang konstruktif dengan Amerika Serikat dan NATO tentang jaminan keamanan akan berlanjut.
"Masalah ini (krisis Ukraina dan Rusia) butuh dialog yang mendalam dan substantif. Atau itu akan jadi pembicaraan yang sama seperti dengan Menteri Luar Negeri Inggris di Moskow: dialog antara orang bisu dan orang tuli alias tak menghasilkan apa-apa," lanjut Zakharova
Para pihak yang berkepentingan, sambung dia, harus saling mendengar satu sama lain alih-alih memberi ceramah atau membuat pernyataan kosong.
"Itu hanya membuang waktu, bukannya menghormati kekhawatiran satu sama lain," ujar Zakharova.
Sebelumnya Sekjen NATO, John Stoltenberg, menyatakan tetap membuka pintu bagi Ukraina jika suatu waktu ingin bergabung dengan aliansi militer.
"NATO sangat percaya semua negara punya hak untuk memilih jalan mereka sendiri dan pintu NATO tetap terbuka," kata Stoltenberg saat ditanya kemungkinan Ukraina bergabung dalam konferensi pers dikutip Sunday Evening pada Selasa (15/2) lalu.
Dia juga menyambut keinginan Moskow untuk berdialog guna menangani krisis keamanan paling serius di Eropa dalam beberapa dasawarsa.
Rusia, menurutnya, belum terlambat untuk mundur dan memilih jalan damai.
"NATO bukan ancaman bagi Rusia," kata Stoltenberg.
Aliansi militer ini juga mengungkapkan sekutu menyambut baik upaya diplomatik Rusia dan negosiasi harus dilanjutkan.
Tak ada tanda-tanda ketegangan mereda, baca di halaman berikutnya...
Tak Ada Tanda Ketegangan Mereda
Tank-tank Rusia ditarik dari perbatasan dekat Ukraina. (AP/)
Konflik di perbatasan Ukraina-Rusia belum menunjukkan tanda-tanda ketegangan mereda. Krisis ini mendidih bermula saat Moskow mengerahkan 100 ribu pasukan dan peralatan militer ke wilayah perbatasan.
Amerika Serikat menuding Rusia akan menginvasi Ukraina. Namun, Moskow membantahnya. Beragam diplomasi pun sudah dilakukan, tapi tak menghasilkan apa-apa sejauh ini.
Beberapa waktu lalu, sejumlah media juga ramai memberitakan Rusia akan menyerang Ukraina pada Rabu (16/2).
Di hari yang sama, Rusia justru mengklaim menarik pasukan, dan menyatakan siap bernegosiasi serta tak mau perang. Namun, sejumlah pihak ragu akan hal ini.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengaku belum memverifikasi penarikan pasukan itu. NATO juga tak melihat ada penurunan ketegangan di kawasan perbatasan kedua negara ini, sementara Ukraina menyatakan Moskow hanya merotasi pasukan.
Barat terus menyarankan Ukraina agar tetap waspada. Sebab, invasi masih ada kemungkinan dilakukan kapan saja dengan dalih operasi bendera palsu.