Aparat kepolisian khusus melakukan patroli di Xinjiang. (REUTERS/THOMAS PETER)
Sejak 1990, separatis Uighur disebut melakukan tindakan teroris seperti rutin mengebom bus, melakukan serangan dengan pisau, di Xinjiang serta wilayah lain di China. Beijing sering menyamakan ideologi ekstrem itu dengan Islam pada umumnya
Kemudian pada 2013, setelah Xi Jinping menjadi Presiden China, pemerintah mulai menindak lebih agresif kelompok separatis termasuk Uighur dan minoritas Muslim lain di Negeri Tirai Bambu.
Xi menitikberatkan kampanye melawan separatis, dan tindakan dia terhadap etnis Uighur memuncak dalam beberapa tahun belakangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2018 lalu, Human Rights Watch merilis laporan yang berisi penahanan sewenang-wenang China terhadap satu juta etnis Uighur. Berdasarkan kesaksian warga, pemerintah Beijing, bahkan telah melakukan penahanan sejak 2014.
China juga disebut melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dengan menyiksa atau memperkosa etnis Uighur.
Namun, China membantah tuduhan itu. Mereka mengklaim penahanan itu sebagai bentuk pelatihan dan upaya mereduksi paham ekstremisme.
China yang seolah takut dengan paham ekstremisme dan mungkin sebagai upaya menjaga ketahanan negaranya, menerapkan pula sederet kebijakan brutal terhadap muslim Uighur.
Kebijakan itu di antaranya melarang berpuasa saat Ramadan bagi PNS, pengajar dan pelajar, serta para pensiunan, seperti dikutip dari NYMAG. Mereka juga melarang memberi nama anak dengan Muhammad.
Selain itu, China melarang etnis Uighur berhijab, berjanggut, masuk masjid bagi sejumlah muslim, memaksa mereka memakan daging babi, minum alkohol, memantau sepanjang waktu agar mereka tak salat dan menghancurkan 1.500 masjid.
Adapun aturan brutal lain yakni, menerapkan kerja paksa di Xinjiang, melarang berkomunikasi dengan keluarga, meminta negara lain mendeportasi anggota etnis Uighur yang kabur, dan mengatur kelahiran, memaksa aborsi, sterilisasi serta memangkas rata-rata kelahiran.
China seperti alergi terhadap etnis Muslim Uighur sampai mengeluarkan kebijakan yang represif dan brutal. Alasannya beragam, mulai dari ingin mengurangi ekstremisme hingga dugaan ketakutan akan separatisme.
Akar konflik Xinjiang bermula karena China yang ingin mengendalikan wilayah selama abad ke-20, demikian dikutip New York Mag.
Di era Mao Zedhong, China membatasi kebebasan budaya dan agama Uighur, sembari mendorong migrasi massal orang-orang Han ke tempat yang dikenal sebagai Daerah Otonomi Uighur Xinjiang dari tahun 1950-an hingga 1970-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Etnis Han di Xinjiang mencapai 42 persen, sementara Uighur 45 persen. Selama satu dekade terakhir, sekitar 2 juta etnis Han telah bermigrasi ke wilayah tersebut.
Langkah itu disebut sebagai upaya Sinicization, yang bertujuan mencairkan karakter etnis dan agama di Xinjiang dan melumpuhkan gerakan atau kelompok separatisme.
Kelompok separatis Uighur di Xinjiang mendapat dukungan dari Uni Soviet selama Perang Dingin, sebagai persaingan dengan China di kawasan Asia.
Gerakan Islamisme Uighur
Pascaperang Dingin, separatis Uighur meningkatkan gerakan islamismenya. Kelompok ekstremis Islam yang dibentuk pada 1989, Partai Islam Turkic (TIP) berusaha menggulingkan pemerintahan China di Uighur dan menggantinya dengan mendirikan negara Islam.
TIP mulai dikenal saat konflik Kotaparaja Baren berkecamuk pada April 1990. Saat itu, kelompok milisi ini bentrok dengan polisi dan tentara China.
Peristiwa itu kerap digambarkan sebagai percikan api yang menyulut konflik di Xinjiang.
TIP mendirikan kamp di Afghanistan pada 1990-an dan menjalin hubungan dengan Al Qaeda serta kelompok jihad lain: Turkestan Timur, yang menjadi salah satu front dalam gerakan jihad global.
Koneksi jihadis ini memungkinkan China melihat keinginan otonomi di pihak Uighur sebagai ancaman teroris yang serupa dengan yang ditimbulkan Al Qaeda dan ISIS.
Sebagai salah satu upaya China memangkas gerakan TIP dan kelompok ekstremis lain, mereka bersedia investasi di Afghanistan untuk mencegah mendirikan pangkalan baru.
Gerakan terorisme separatis Uighur sejak 1990-an bikin China gerah, baca di halaman berikutnya...
Aparat kepolisian khusus melakukan patroli di Xinjiang. (REUTERS/THOMAS PETER)
Sejak 1990, separatis Uighur disebut melakukan tindakan teroris seperti rutin mengebom bus, melakukan serangan dengan pisau, di Xinjiang serta wilayah lain di China. Beijing sering menyamakan ideologi ekstrem itu dengan Islam pada umumnya
Kemudian pada 2013, setelah Xi Jinping menjadi Presiden China, pemerintah mulai menindak lebih agresif kelompok separatis termasuk Uighur dan minoritas Muslim lain di Negeri Tirai Bambu.
Xi menitikberatkan kampanye melawan separatis, dan tindakan dia terhadap etnis Uighur memuncak dalam beberapa tahun belakangan.
Pada 2018 lalu, Human Rights Watch merilis laporan yang berisi penahanan sewenang-wenang China terhadap satu juta etnis Uighur. Berdasarkan kesaksian warga, pemerintah Beijing, bahkan telah melakukan penahanan sejak 2014.
China juga disebut melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dengan menyiksa atau memperkosa etnis Uighur.
Namun, China membantah tuduhan itu. Mereka mengklaim penahanan itu sebagai bentuk pelatihan dan upaya mereduksi paham ekstremisme.
China yang seolah takut dengan paham ekstremisme dan mungkin sebagai upaya menjaga ketahanan negaranya, menerapkan pula sederet kebijakan brutal terhadap muslim Uighur.
Kebijakan itu di antaranya melarang berpuasa saat Ramadan bagi PNS, pengajar dan pelajar, serta para pensiunan, seperti dikutip dari NYMAG. Mereka juga melarang memberi nama anak dengan Muhammad.
Selain itu, China melarang etnis Uighur berhijab, berjanggut, masuk masjid bagi sejumlah muslim, memaksa mereka memakan daging babi, minum alkohol, memantau sepanjang waktu agar mereka tak salat dan menghancurkan 1.500 masjid.
Adapun aturan brutal lain yakni, menerapkan kerja paksa di Xinjiang, melarang berkomunikasi dengan keluarga, meminta negara lain mendeportasi anggota etnis Uighur yang kabur, dan mengatur kelahiran, memaksa aborsi, sterilisasi serta memangkas rata-rata kelahiran.