Kisah Amy Bauernschmidt, Komandan Perempuan Pertama di Kapal Induk AS
isa | CNN Indonesia
Kamis, 19 Mei 2022 22:43 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Komandan perempuan pertama pimpin kapal induk AS, Amy Bauernschmidt. (AP/Mass Communication Spc. 3rd Class Jeremiah Bartelt)
Jakarta, CNN Indonesia --
Amy Bauernschmidt menjadi komandan kapal induk perempuan pertama dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia menjadi satu-satunya perempuan di antara para komandan 11 kapal induk di armada Washington.
Dari banyaknya anggota dan staf di 11 kapal induk itu, Bauernschmidt menjadi satu-satunya perempuan di kapal terbesar dan paling kuat, USS Abraham Lincoln.
Perempuan berusia 51 tahun itu kemudian merasa istimewa dengan penunjukkan tersebut.
"Ini salah satu pekerjaan yang luar biasa di dunia," kata Bauernschmidt kepada CNN, Selasa (17/5).
Ia lalu berujar, "Tak ada hal yang lebih bertanggung jawab, selain mengetahui bahwa saya dipilih memimpin laki-laki dan perempuan yang memutuskan (untuk) membela bangsa kami," katanya kepada wartawan.
Bauernschmidt memimpin kapal induk Abraham Lincoln yang memiliki berat 97 ribu ton, dengan 5.000 penumpang.
Kapal itu menjadi salah satu pusat kekuatan militer AS. Lebih dari 60 pesawat berada di atas USS Lincoln, termasuk pesawat tempur siluman F-35C, pesawat tempur paling canggih dalam penerbangan AL.
Kecintaannya terhadap Laut dan Sains
Besar di Milwaukee membuat Bauernschmidt sadar betul ia tertarik kepada laut.
"Saya selalu mencintai air, dan berenang, dan mendayung secara kompetitif," lanjut dia.
Namun alasan perempuan itu bergabung dengan Angkatan Laut AS karena alasan praktis, alih-alih ambisi.
"Saya datang ke layanan secara tak langsung. Saya tahu saya akan membayar pendidikan perguruan tinggi dan saya ingin menemukan jurusan yang tak hanya diminati tetapi juga akan membuat saya mencari pekerjaan demi membayar kembali pinjaman mahasiswa," jelas dia.
Ketertarikan yang tinggi terhadap matematika dan sains, serta kecintaanya kepada air membuat ia memilih jurusan teknik kelautan.
Namun tak banyak kampus yang menawarkan jurusan tersebut. Bauernschmidt lalu menjatuhkan pilihan ke Akademi Angkatan Laut AS di Maryland.
Saat dia menginjakkan kaki di kampus Annapolis, tak sedikit pun terbersit di benak Bauernschmidt akan menjadi komandan perempuan pertama kapal induk.
"Tentu saja tidak. Saya bahkan tak mengerti bahwa ini adalah sebuah pilihan saat saya pertama memulai petualangan ini," kata dia.
Saat dia masuk ke Akademi Angkatan Laut, itu bukan sebuah opsi.
Pada November 1993, Kongres AS mengizinkan perempuan untuk mendaftar ke kapal tempur AL Washington.
"[Itu] mengubah hampir semuanya soal pelayanan perempuan di Angkatan Laut," ujar Bauernschmidt.
Penerbang di Kapal Induk
Beberapa bulan sebelum ia lulus, Taruna Akademi Angkatan Laut diizinkan meminta tugas pertama mereka. Bauernschmidt memilih penerbangan dan itu menjadi pengantar posisi komandan saat ini.
Dia belajar menerbangkan helikopter, menjadi instruktur penerbangan, ditempatkan di kapal perusak dan kapal induk hingga akhirnya memimpin skuadron serangan helikopter.
Bauernschmidt kemudian mendaftar di Akademi Perang Angkatan Laut dengan mengambil gelar master di kajian strategis sebelum bertugas di Kantor Urusan Perempuan Global, Kementerian Luar Negeri AS.
Setelahnya, perempuan tu mendaftar ke Sekolah Tenaga Nuklir Angkatan Laut. Di tempat ini, ia belajar sains dan rekayasa di belakang pembangkit listrik tenaga nuklir. Program akademik ini disebut-sebut yang paling menuntut di militer AS.
Sebuah survei hubungan gender Departemen Angkatan Laut mengatakan media sosial dipenuhi anekdot dan berbagai pengalaman tentang contoh-contoh seksisme, diskriminasi, akses bantuan, dan laporan pelecehan serta kekerasan seksual.
"Jelas ada tantangan yang harus dihadapi. harus diatasi untuk perubahan yang berarti. Ini adalah tantangan yang lebih besar daripada militer," kata Bauernschmidt.
Ia berjanji akan meningkatkan lingkungan dan program pelaut untuk mendukung sumber daya terpentingnya.
Kesenjangan Perwira Perempuan di AL
Di pangkat kapten ke atas, kesenjangan gender Angkatan Laut bahkan lebih mencolok. Hanya 13 persen dari 3.075 perwira itu adalah perempuan.
Bauernschmidt akan merasakan tanggung jawab ekstra sebagai perempuan pertama yang memimpin kapal induk. Namun, dia tampaknya melihat peluang ini sebagai evolusioner, bukan revolusioner.
"Sementara perempuan telah mencapai banyak hal, saya menantikan hari di mana kita tidak harus merayakan yang pertama," katanya.
Bauernschmidt mengatakan dukungan yang dia dapat dari seluruh komunitas Angkatan Laut sangat penting mengantar dirinya ke salah satu kapal perang terbesar di dunia.
"Mengatasi tantangan apa pun bagi saya dimulai dengan kepemilikan,kenali pekerjaan Anda dan lakukan pekerjaan Anda semaksimal mungkin setiap hari. Sulit untuk berdebat dengan seseorang yang melakukan pekerjaan luar biasa yang mendukung misi dan tim," katanya.
Ribuan pelaut yang dipimpinnya menantang dan membuatnya terus berkembang, katanya.
"Kepemimpinan itu sulit. Untuk memimpin tim, departemen, atau komando secara efektif, Anda harus memahami organisasi dan diri Anda sendiri," kata dia.
Seorang pemimpin, lanjutnya, harus menemui mereka di mana mereka membutuhkan seorang pemimpin. Pemimpin juga harus mengenal diri dengan cukup baik untuk mengetahui bagaimana menghadapi anggotanya.
"Saya mencoba untuk tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi memiliki hasil pekerjaan saya," katanya.
Sebagai inspirasi untuk diri sendiri, dia mengutip seorang superstar sepak bola, JJ Watt.
"Sukses tak dimiliki, itu disewa dan sewa jatuh tempo setiap hari!"
Jakarta, CNN Indonesia --
Amy Bauernschmidt menjadi komandan kapal induk perempuan pertama dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia menjadi satu-satunya perempuan di antara para komandan 11 kapal induk di armada Washington.
Dari banyaknya anggota dan staf di 11 kapal induk itu, Bauernschmidt menjadi satu-satunya perempuan di kapal terbesar dan paling kuat, USS Abraham Lincoln.
Perempuan berusia 51 tahun itu kemudian merasa istimewa dengan penunjukkan tersebut.
"Ini salah satu pekerjaan yang luar biasa di dunia," kata Bauernschmidt kepada CNN, Selasa (17/5).
Ia lalu berujar, "Tak ada hal yang lebih bertanggung jawab, selain mengetahui bahwa saya dipilih memimpin laki-laki dan perempuan yang memutuskan (untuk) membela bangsa kami," katanya kepada wartawan.
Bauernschmidt memimpin kapal induk Abraham Lincoln yang memiliki berat 97 ribu ton, dengan 5.000 penumpang.
Kapal itu menjadi salah satu pusat kekuatan militer AS. Lebih dari 60 pesawat berada di atas USS Lincoln, termasuk pesawat tempur siluman F-35C, pesawat tempur paling canggih dalam penerbangan AL.
Kecintaannya terhadap Laut dan Sains
Besar di Milwaukee membuat Bauernschmidt sadar betul ia tertarik kepada laut.
"Saya selalu mencintai air, dan berenang, dan mendayung secara kompetitif," lanjut dia.
Namun alasan perempuan itu bergabung dengan Angkatan Laut AS karena alasan praktis, alih-alih ambisi.
"Saya datang ke layanan secara tak langsung. Saya tahu saya akan membayar pendidikan perguruan tinggi dan saya ingin menemukan jurusan yang tak hanya diminati tetapi juga akan membuat saya mencari pekerjaan demi membayar kembali pinjaman mahasiswa," jelas dia.
Ketertarikan yang tinggi terhadap matematika dan sains, serta kecintaanya kepada air membuat ia memilih jurusan teknik kelautan.
Namun tak banyak kampus yang menawarkan jurusan tersebut. Bauernschmidt lalu menjatuhkan pilihan ke Akademi Angkatan Laut AS di Maryland.
Saat dia menginjakkan kaki di kampus Annapolis, tak sedikit pun terbersit di benak Bauernschmidt akan menjadi komandan perempuan pertama kapal induk.
"Tentu saja tidak. Saya bahkan tak mengerti bahwa ini adalah sebuah pilihan saat saya pertama memulai petualangan ini," kata dia.
Saat dia masuk ke Akademi Angkatan Laut, itu bukan sebuah opsi.
Pada November 1993, Kongres AS mengizinkan perempuan untuk mendaftar ke kapal tempur AL Washington.
"[Itu] mengubah hampir semuanya soal pelayanan perempuan di Angkatan Laut," ujar Bauernschmidt.
Penerbang di Kapal Induk
Beberapa bulan sebelum ia lulus, Taruna Akademi Angkatan Laut diizinkan meminta tugas pertama mereka. Bauernschmidt memilih penerbangan dan itu menjadi pengantar posisi komandan saat ini.
Dia belajar menerbangkan helikopter, menjadi instruktur penerbangan, ditempatkan di kapal perusak dan kapal induk hingga akhirnya memimpin skuadron serangan helikopter.
Bauernschmidt kemudian mendaftar di Akademi Perang Angkatan Laut dengan mengambil gelar master di kajian strategis sebelum bertugas di Kantor Urusan Perempuan Global, Kementerian Luar Negeri AS.
Setelahnya, perempuan tu mendaftar ke Sekolah Tenaga Nuklir Angkatan Laut. Di tempat ini, ia belajar sains dan rekayasa di belakang pembangkit listrik tenaga nuklir. Program akademik ini disebut-sebut yang paling menuntut di militer AS.
Sebuah survei hubungan gender Departemen Angkatan Laut mengatakan media sosial dipenuhi anekdot dan berbagai pengalaman tentang contoh-contoh seksisme, diskriminasi, akses bantuan, dan laporan pelecehan serta kekerasan seksual.
"Jelas ada tantangan yang harus dihadapi. harus diatasi untuk perubahan yang berarti. Ini adalah tantangan yang lebih besar daripada militer," kata Bauernschmidt.
Ia berjanji akan meningkatkan lingkungan dan program pelaut untuk mendukung sumber daya terpentingnya.
Kesenjangan Perwira Perempuan di AL
Di pangkat kapten ke atas, kesenjangan gender Angkatan Laut bahkan lebih mencolok. Hanya 13 persen dari 3.075 perwira itu adalah perempuan.
Bauernschmidt akan merasakan tanggung jawab ekstra sebagai perempuan pertama yang memimpin kapal induk. Namun, dia tampaknya melihat peluang ini sebagai evolusioner, bukan revolusioner.
"Sementara perempuan telah mencapai banyak hal, saya menantikan hari di mana kita tidak harus merayakan yang pertama," katanya.
Bauernschmidt mengatakan dukungan yang dia dapat dari seluruh komunitas Angkatan Laut sangat penting mengantar dirinya ke salah satu kapal perang terbesar di dunia.
"Mengatasi tantangan apa pun bagi saya dimulai dengan kepemilikan,kenali pekerjaan Anda dan lakukan pekerjaan Anda semaksimal mungkin setiap hari. Sulit untuk berdebat dengan seseorang yang melakukan pekerjaan luar biasa yang mendukung misi dan tim," katanya.
Ribuan pelaut yang dipimpinnya menantang dan membuatnya terus berkembang, katanya.
"Kepemimpinan itu sulit. Untuk memimpin tim, departemen, atau komando secara efektif, Anda harus memahami organisasi dan diri Anda sendiri," kata dia.
Seorang pemimpin, lanjutnya, harus menemui mereka di mana mereka membutuhkan seorang pemimpin. Pemimpin juga harus mengenal diri dengan cukup baik untuk mengetahui bagaimana menghadapi anggotanya.
"Saya mencoba untuk tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi memiliki hasil pekerjaan saya," katanya.
Sebagai inspirasi untuk diri sendiri, dia mengutip seorang superstar sepak bola, JJ Watt.
"Sukses tak dimiliki, itu disewa dan sewa jatuh tempo setiap hari!"