Apakah Rusia Setop Invasi Ukraina jika Kuasai Donbas?
CNN Indonesia
Jumat, 17 Jun 2022 07:53 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Konvoi pasukan Rusia di wilayah timur Ukraina. (AFP/ARIS MESSINIS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah Rusia gagal menguasai Kyiv, mereka mengubah arah serangan dan berfokus menyerang wilayah timur Ukraina.
Kini, Kota Severodonetsk merupakan titik panas pertarungan Rusia-Ukraina. Kota tersebut merupakan satu dari dua kota terakhir di Luhansk, Donbas, yang masih dipegang Ukraina.
Sebagaimana diberitakan Reuters, keberhasilan Kremlin menguasai Kota Severodonetsk dan Lysychansk bakal membuat Rusia berkuasa atas seluruh provinsi Luhansk. Provinsi Luhansk sendiri merupakan satu dari dua provinsi yang berada di Donbas.
Sementara itu, kedua provinsi Donbas ini telah lama mengalami pergolakan.
Luhansk dan Donetsk sama-sama dikuasai oleh kelompok separatis pro-Rusia. Kedua wilayah itu bahkan sempat diakui kemerdekaannya oleh Presiden Vladimir Putin sebelum ia memerintahkan operasi militer di Ukraina.
Lantas, apakah Rusia akan setop invasi Ukraina apabila Rusia kemudian menguasai wilayah Donbas?
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, kemenangan Rusia atas wilayah Donbas tak akan membuat perang di Ukraina selesai.
"Tidak, karena untuk selesai, Ukraina harus mengakui penyerobotan wilayah tersebut," ujar Suzie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/6).
Suzie juga mengatakan perang hanya akan berakhir jika negara-negara sekutu memaksa Presiden Volodymyr Zelensky untuk menyerahkan wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia.
Namun, hal itu tampaknya sukar terjadi, mengingat beberapa negara Eropa Barat tampak takut mereka bakal diserang juga dengan Ukraina.
Hal tersebut, menurut Suzie, membuat negara Eropa Barat kemungkinan bakal terus membantu Ukraina.
Selain itu, pengamat hubungan internasional, Suzie Sudarman, menilai negara Eropa Barat berpotensi memperkuat kekuatan militer mereka.
"Yang akan terjadi adalah peta pertahanan Eropa Barat dengan masing-masing negara meningkatkan jumlah dan kemampuan militernya, kembali mempersiapkan hot war atau perang fisik," kata Suzie.
Selain Suzie, pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa, juga setuju bahwa perang Rusia-Ukraina tak akan selesai meski Kremlin menguasai Donbas.
"Menurut saya tidak, karena tujuan Rusia adalah demiliterisasi Ukraina dan itu hanya bisa dicapai dengan mengganti rezim di Kyiv," tutur Yosef saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (14/6).
Yosef juga mengungkapkan sulit untuk memprediksi kapan perang di Ukraina berakhir.
"Sulit sekali memprediksi akhir perang di Ukraina, karena ada beberapa faktor. Pertama, soal semangat rakyat Ukraina yang akan tetap melawan. Ingat, Zelensky ini terpilih secara demokratis, fakta bahwa dia masih mampu bertahan sampai sekarang menunjukkan rakyat Ukraina tetap solid mendukung beliau," kata Yosef.
"Faktor kedua, kemampuan militer Rusia, apakah mereka bisa mengalahkan Ukraina dan mencapai sebuah kesepakatan yang diterima kedua belah pihak untuk mengakhiri perang ini. Selama tidak ada kesepakatan yang bisa diterima kedua belah pihak, akan sulit mengakhiri perang ini," ungkapnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah Rusia gagal menguasai Kyiv, mereka mengubah arah serangan dan berfokus menyerang wilayah timur Ukraina.
Kini, Kota Severodonetsk merupakan titik panas pertarungan Rusia-Ukraina. Kota tersebut merupakan satu dari dua kota terakhir di Luhansk, Donbas, yang masih dipegang Ukraina.
Sebagaimana diberitakan Reuters, keberhasilan Kremlin menguasai Kota Severodonetsk dan Lysychansk bakal membuat Rusia berkuasa atas seluruh provinsi Luhansk. Provinsi Luhansk sendiri merupakan satu dari dua provinsi yang berada di Donbas.
Sementara itu, kedua provinsi Donbas ini telah lama mengalami pergolakan.
Luhansk dan Donetsk sama-sama dikuasai oleh kelompok separatis pro-Rusia. Kedua wilayah itu bahkan sempat diakui kemerdekaannya oleh Presiden Vladimir Putin sebelum ia memerintahkan operasi militer di Ukraina.
Lantas, apakah Rusia akan setop invasi Ukraina apabila Rusia kemudian menguasai wilayah Donbas?
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, kemenangan Rusia atas wilayah Donbas tak akan membuat perang di Ukraina selesai.
"Tidak, karena untuk selesai, Ukraina harus mengakui penyerobotan wilayah tersebut," ujar Suzie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/6).
Suzie juga mengatakan perang hanya akan berakhir jika negara-negara sekutu memaksa Presiden Volodymyr Zelensky untuk menyerahkan wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia.
Namun, hal itu tampaknya sukar terjadi, mengingat beberapa negara Eropa Barat tampak takut mereka bakal diserang juga dengan Ukraina.
Hal tersebut, menurut Suzie, membuat negara Eropa Barat kemungkinan bakal terus membantu Ukraina.
Eropa Barat Siaga, Susun Perkuat Kemampuan Militer
Kota Severpdonetsk, Luhansk, Donbas, Ukraina dibombardir Rusia. (REUTERS/ALEXANDER ERMOCHENKO)
Selain itu, pengamat hubungan internasional, Suzie Sudarman, menilai negara Eropa Barat berpotensi memperkuat kekuatan militer mereka.
"Yang akan terjadi adalah peta pertahanan Eropa Barat dengan masing-masing negara meningkatkan jumlah dan kemampuan militernya, kembali mempersiapkan hot war atau perang fisik," kata Suzie.
Selain Suzie, pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa, juga setuju bahwa perang Rusia-Ukraina tak akan selesai meski Kremlin menguasai Donbas.
"Menurut saya tidak, karena tujuan Rusia adalah demiliterisasi Ukraina dan itu hanya bisa dicapai dengan mengganti rezim di Kyiv," tutur Yosef saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (14/6).
Yosef juga mengungkapkan sulit untuk memprediksi kapan perang di Ukraina berakhir.
"Sulit sekali memprediksi akhir perang di Ukraina, karena ada beberapa faktor. Pertama, soal semangat rakyat Ukraina yang akan tetap melawan. Ingat, Zelensky ini terpilih secara demokratis, fakta bahwa dia masih mampu bertahan sampai sekarang menunjukkan rakyat Ukraina tetap solid mendukung beliau," kata Yosef.
"Faktor kedua, kemampuan militer Rusia, apakah mereka bisa mengalahkan Ukraina dan mencapai sebuah kesepakatan yang diterima kedua belah pihak untuk mengakhiri perang ini. Selama tidak ada kesepakatan yang bisa diterima kedua belah pihak, akan sulit mengakhiri perang ini," ungkapnya.