Nelangsa WNI Pelatih Badminton Antre BBM 7 Jam saat Sri Lanka Bangkrut
Anisa Dewi Anggriaeni | CNN Indonesia
Rabu, 22 Jun 2022 14:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Selain BBM langka, obat-obatan untuk penyakit akut pun susah ditemukan sehingga banyak orang sakit yang meninggal di Sri Lanka. (Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Salah satuwarga negara Indonesia yang pernah tinggal di Sri Lanka, Tony Wahyudi, menceritakan susahnya hidup di negara yang kini berada di ambang kebangkrutan.
Sri Lanka diklaim bangkrut karena gagal membayar utang luar negeri (ULN) yang mencapai US$51 miliar atau Rp754,8 triliun.Kondisi ekonomi Sri Lanka semakin memburuk setelah pemerintah dicap gagal mengelola keuangan hingga korupsi yang diperburuk oleh pandemi Covid-19.
Demonstrasi menuntut pemerintah diganti pun terus terjadi selama beberapa bulan. Kabinet pemerintahan terus berganti hampir setiap bulan gegara banyak menteri dan pejabat yang mengundurkan diri hingga dipecat.
Pemerintah saat ini bahkan memutuskan menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintahan demi menghemat cadangan bahan bakar yang hampir habis.
Negara berpenduduk 22 juta orang itu mengalami krisis ekonomi terburuk setelah kehabisan devisa untuk membiayai impor sejumlah komoditas termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Kepada CNNIndonesia.com, Tony menceritakan pengalamannya pernah antre beli bahan bakar minyak (BBM) hingga 7 jam. Ia baru sepekan pulang ke Indonesia setelah lima tahun tinggal di Kolombo dan bekerja sebagai pelatih badminton tim nasional Sri Lanka.
"Saat itu, saya setiap hari berjuang 5 sampai 7 jam [antre BBM], terus juga kadang kita was-was sama gas, kalau habis bisa dapat atau enggak," ujar Tony saat dihubungi pada Selasa (21/6).
Tony bercerita setiap pekan harga BBM melonjak. Terakhir saat ia membeli BBM harga per liter 384-482 rupee Sri Lanka (LKR) atau sekitar Rp14 ribu hingga Rp19 ribu per liter. Padahal sebelum krisis melanda, harga perliter sekitar Rp4.900.
Selain harga BBM, harga barang pokok seperti beras dan daging ayam juga merangkak naik.
"Terakhir saya beli beras lokal di sana satu kilo sudah LKR500 [sekitar Rp20 ribu], yang tadinya LKR350 [sekitar Rp14 ribu]," jelas Tony.
Adapun untuk daging ayam yang mulanya dibanderol LKR700 atau sekitar Rp28.795 sekarang menjadi 1.100 LKR atau sekitar Rp45.249.
Mengingat situasi yang semakin akut di Sri Lanka, Tony dan keluarga memutuskan pulang ke Tanah Air.
Saat perjalanan pulang, Tony bercerita jalanan tampak lengang. Sejauh mata memandang yang tampak hanya antrean orang di pom bensin yang sudah mengular panjang berjam-jam.
Sebelum pulang, Tony mengungkapkan ia dan sejumlah perwakilan masyarakat lain sempat bertemu dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kolombo membahas krisis yang melanda.
Tony mengatakan hingga kini KBRI belum di Sri Lanka belum mengeluarkan imbauan agar seluruh WNI di negara Asia Selatan itu pulang.
"Jadi KBRI belum ada imbauan untuk pemulangan karena KBRI masih melihat kalau [situasi] belum parah," ujar Tony.
Sejauh ini, Tony bercerita belum ada bantuan dari KBRI bagi para WNI di Sri Lanka padahal beras cukup sulit didapatkan. Mereka, kata Tony, menjanjikan akan memberi beras jika warga RI tak mendapat makanan pokok itu.
CNNIndonesia.com sudah menguhubungi staf KBRI Kolombo dan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Juhda Nugraha, untuk menanyakan apakah ada imbauan terkait pemulangan WNI menyusul kondisi yang semakin parah di Sri Lanka. Namun keduanya belum merespons hingga berita ini dirilis.
Banyak orang meninggal gegara sakit tak ada obat, dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
Banyak yang Meninggal karena Tak Ada Obat
Tony juga menuturkan obat-obatan untuk penyakit berat sudah langka. Namun, pasokan obat-obatan untuk penyakit yang tergolong ringan masih aman.
"Kalau obat-obatan seperti misal jantung, makanya banyak orang yang mau operasi, banyak yang meninggal karena enggak ada obat," ucap dia.
Senada dengan Tony, seorang WNI lainnya yang juga tinggal di Sri Lanka, Binsar, juga menceritakan hal serupa.
Menurutnya, kelangkaan BBM menimbulkan antrean panjang di setiap pom bensin.
"Kalau pengalaman teman-teman lokal sih sekitar 5-6 jam antre bisa dapat 25 liter maksimal untuk mobil, jika beruntung," ucap dia.
Namun, kebanyakan dari mereka baru bisa mendapat BBM usai antre sekitar 8-12 jam. Itu pun, harus mulai mengunjungi pom bensin saat dini hari, sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Binsar mengaku beruntung telah menjual mobil sebelum Sri Lanka dilaporkan bangkrut, sehingga ia tak bersusah-payah antre BBM untuk kendaraanya. Namun, ia harus tetap menunggu untuk mendapat gas LPG.
"Untungnya saya sudah melepaskan mobil saya tahun lalu persis sebelum krisis BBM terjadi," ujar dia.
Namun, ia mengakui harga barang terutama impor merangkak naik. Barang-barang rak di toko juga sudah banyak yang kosong, katanya.
"Jika barang datang ,jumlahnya juga sedikit pasti dalam hitungan hari akan habis," ujar Binsar.
Krisis valuta asing, lonjakan harga makanan, obat-obatan hingga bahan bakar membuat Sri Lanka semakin terpuruk dan meminta bantuan dana ke Dana Moneter Internasional (IMF).
Kekurangan mata uang asing juga membuat Sri Lanka tak mampu membayar impor penting seperti bahan bakar minyak.
Sri Lanka juga menghadapi rekor inflasi tinggi dan pemadaman listrik yang berkepanjangan sehingga memancing protes selama berbulan-bulan.
Sekitar 5 juta penduduk di Sri Lanka juga dilaporkan akan mengalami kekurangan pangan akibat krisis ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan empat dari lima orang di negara itu mulai tidak bisa makan karena mereka tidak mampu membayar harga makanan yang tinggi.
PBB mengatakan kondisi ini memperingatkan krisis kemanusiaan yang mengerikan dengan jutaan orang membutuhkan bantuan.
Salah satuwarga negara Indonesia yang pernah tinggal di Sri Lanka, Tony Wahyudi, menceritakan susahnya hidup di negara yang kini berada di ambang kebangkrutan.
Sri Lanka diklaim bangkrut karena gagal membayar utang luar negeri (ULN) yang mencapai US$51 miliar atau Rp754,8 triliun.Kondisi ekonomi Sri Lanka semakin memburuk setelah pemerintah dicap gagal mengelola keuangan hingga korupsi yang diperburuk oleh pandemi Covid-19.
Demonstrasi menuntut pemerintah diganti pun terus terjadi selama beberapa bulan. Kabinet pemerintahan terus berganti hampir setiap bulan gegara banyak menteri dan pejabat yang mengundurkan diri hingga dipecat.
Pemerintah saat ini bahkan memutuskan menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintahan demi menghemat cadangan bahan bakar yang hampir habis.
Negara berpenduduk 22 juta orang itu mengalami krisis ekonomi terburuk setelah kehabisan devisa untuk membiayai impor sejumlah komoditas termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Kepada CNNIndonesia.com, Tony menceritakan pengalamannya pernah antre beli bahan bakar minyak (BBM) hingga 7 jam. Ia baru sepekan pulang ke Indonesia setelah lima tahun tinggal di Kolombo dan bekerja sebagai pelatih badminton tim nasional Sri Lanka.
"Saat itu, saya setiap hari berjuang 5 sampai 7 jam [antre BBM], terus juga kadang kita was-was sama gas, kalau habis bisa dapat atau enggak," ujar Tony saat dihubungi pada Selasa (21/6).
Tony bercerita setiap pekan harga BBM melonjak. Terakhir saat ia membeli BBM harga per liter 384-482 rupee Sri Lanka (LKR) atau sekitar Rp14 ribu hingga Rp19 ribu per liter. Padahal sebelum krisis melanda, harga perliter sekitar Rp4.900.
Selain harga BBM, harga barang pokok seperti beras dan daging ayam juga merangkak naik.
"Terakhir saya beli beras lokal di sana satu kilo sudah LKR500 [sekitar Rp20 ribu], yang tadinya LKR350 [sekitar Rp14 ribu]," jelas Tony.
Adapun untuk daging ayam yang mulanya dibanderol LKR700 atau sekitar Rp28.795 sekarang menjadi 1.100 LKR atau sekitar Rp45.249.
Mengingat situasi yang semakin akut di Sri Lanka, Tony dan keluarga memutuskan pulang ke Tanah Air.
Saat perjalanan pulang, Tony bercerita jalanan tampak lengang. Sejauh mata memandang yang tampak hanya antrean orang di pom bensin yang sudah mengular panjang berjam-jam.
Sebelum pulang, Tony mengungkapkan ia dan sejumlah perwakilan masyarakat lain sempat bertemu dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kolombo membahas krisis yang melanda.
Tony mengatakan hingga kini KBRI belum di Sri Lanka belum mengeluarkan imbauan agar seluruh WNI di negara Asia Selatan itu pulang.
"Jadi KBRI belum ada imbauan untuk pemulangan karena KBRI masih melihat kalau [situasi] belum parah," ujar Tony.
Sejauh ini, Tony bercerita belum ada bantuan dari KBRI bagi para WNI di Sri Lanka padahal beras cukup sulit didapatkan. Mereka, kata Tony, menjanjikan akan memberi beras jika warga RI tak mendapat makanan pokok itu.
CNNIndonesia.com sudah menguhubungi staf KBRI Kolombo dan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Juhda Nugraha, untuk menanyakan apakah ada imbauan terkait pemulangan WNI menyusul kondisi yang semakin parah di Sri Lanka. Namun keduanya belum merespons hingga berita ini dirilis.
Banyak orang meninggal gegara sakit tak ada obat, dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
Banyak yang Meninggal karena Tak Ada Obat
Foto: REUTERS/ADNAN ABIDI
Banyak yang Meninggal karena Tak Ada Obat
Tony juga menuturkan obat-obatan untuk penyakit berat sudah langka. Namun, pasokan obat-obatan untuk penyakit yang tergolong ringan masih aman.
"Kalau obat-obatan seperti misal jantung, makanya banyak orang yang mau operasi, banyak yang meninggal karena enggak ada obat," ucap dia.
Senada dengan Tony, seorang WNI lainnya yang juga tinggal di Sri Lanka, Binsar, juga menceritakan hal serupa.
Menurutnya, kelangkaan BBM menimbulkan antrean panjang di setiap pom bensin.
"Kalau pengalaman teman-teman lokal sih sekitar 5-6 jam antre bisa dapat 25 liter maksimal untuk mobil, jika beruntung," ucap dia.
Namun, kebanyakan dari mereka baru bisa mendapat BBM usai antre sekitar 8-12 jam. Itu pun, harus mulai mengunjungi pom bensin saat dini hari, sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Binsar mengaku beruntung telah menjual mobil sebelum Sri Lanka dilaporkan bangkrut, sehingga ia tak bersusah-payah antre BBM untuk kendaraanya. Namun, ia harus tetap menunggu untuk mendapat gas LPG.
"Untungnya saya sudah melepaskan mobil saya tahun lalu persis sebelum krisis BBM terjadi," ujar dia.
Namun, ia mengakui harga barang terutama impor merangkak naik. Barang-barang rak di toko juga sudah banyak yang kosong, katanya.
"Jika barang datang ,jumlahnya juga sedikit pasti dalam hitungan hari akan habis," ujar Binsar.
Krisis valuta asing, lonjakan harga makanan, obat-obatan hingga bahan bakar membuat Sri Lanka semakin terpuruk dan meminta bantuan dana ke Dana Moneter Internasional (IMF).
Kekurangan mata uang asing juga membuat Sri Lanka tak mampu membayar impor penting seperti bahan bakar minyak.
Sri Lanka juga menghadapi rekor inflasi tinggi dan pemadaman listrik yang berkepanjangan sehingga memancing protes selama berbulan-bulan.
Sekitar 5 juta penduduk di Sri Lanka juga dilaporkan akan mengalami kekurangan pangan akibat krisis ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan empat dari lima orang di negara itu mulai tidak bisa makan karena mereka tidak mampu membayar harga makanan yang tinggi.
PBB mengatakan kondisi ini memperingatkan krisis kemanusiaan yang mengerikan dengan jutaan orang membutuhkan bantuan.