Singapura Diterpa Gelombang Baru Covid: Gejala Tak Parah, Tetap Siaga

CNN Indonesia
Selasa, 05 Jul 2022 20:46 WIB
Singapura diterjang gelombang Covid Omicron subvarian BA.4 dan BA.5. Menkes Singapura mengatakan gelombang ini tak separah sebelumnya, tapi mereka tetap siaga. Ilustrasi. Singapura diterjang gelombang Covid Omicron subvarian BA.4 dan BA.5. (AFP/Roslan Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Singapura diterjang gelombang Covid-19 Omicron subvarian BA.4 dan BA.5. Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan gelombang ini tak separah sebelumnya, tapi mereka tetap siaga.

Pernyataan itu Ong sampaikan saat merespons pertanyaan dari anggota parlemen soal tanggapan pemerintah menangani gelombang virus corona kali ini di rapat parlemen, Selasa (5/7).

Ong mengaku pihaknya telah mengambil langkah antisipasi saat mereka mempelajari subvarian BA.4 dan BA.5. Subvarian tersebut, lanjutnya, berkembang secara signifikan dibanding pendahulunya, BA.2.

"Untuk gelombang ini, penilaian kami itu tak akan separah gelombang Omicron yang kami alami sebelumnya tahun ini," tutur Kong, seperti dikutip Channel NewsAsia.

Ia kemudian berujar, "Ini karena banyak dari kami memiliki sistem imun yang lebih kebal, baik karena suntikan booster atau pemulihan usai terinfeksi."

Menurut Kong, kondisi tersebut akan secara signifikan menghambat sirkulasi dan penularan BA.4 dan BA.5.

Saat puncak gelombang Omicron sebelumnya, Singapura mencatat sekitar 18.000 kasus Covid-19 setiap hari.

Kini, Singapura diperkirakan hampir mencapai puncak gelombang terbaru. Per Selasa ini, kasus Covid-19 diperkirakan melebihi 12.000 kasus atau naik sekitar 10 persen dari pekan lalu.

"Ada indikasi kita mendekati puncak, atau bahkan sudah puncak, dan kita seharusnya lega pekan ini jumlahnya tak mencapai dua kali lipat dari minggu lalu. Kalau tidak, kita akan berada di 24.000 atau 22.000 kasus minggu ini," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Ong, dari semua infeksi saat ini, sekitar 50 persen berasal dari subvarian BA.4 dan BA.5

"Ini jelas merupakan subvarian yang lebih dominan dibandingkan dengan BA.2," ujarnya, sebagaimana dilansir The Straits Times.

Ong mengatakan, kunci menangani gelombang ini yakni memastikan kapasitas rumah sakit Singapura tak terlalu terbebani.

Cara lainnya, memastikan cakupan vaksinasi dan booster tinggi, serta institusi dan fasilitas kesehatan siaga meningkatkan kapasitas jika jumlah pasien bertambah.

Per Senin (4/6) siang, tercatat 631 orang dirawat di rumah sakit, 74 membutuhkan bantuan oksigen, dan 14 pasien di unit perawatan intensif.

"Rumah sakit kami tetap siap meningkatkan ICU khusus dan kapasitas tempat tidur isolasi jika ada peningkatan jumlah pasien Covid-19 yang memerlukan rawat inap," kata Ong.

Ia juga mengklaim Singapura memiliki cukup tempat tidur di fasilitas perawatan Covid-19 untuk kasus yang serius, tapi sebenarnya tidak perlu perawatan di rumah sakit. Fasilitas perawatan tersebut sudah terisi sekitar 25 persen.

"Seiring waktu, kami berharap semakin banyak [fasilitas perawatan Covid-19] kami yang bisa menjadi fasilitas isolasi dan perawatan multiguna, baik untuk pasien Covid-19 maupun non-virus corona," kata dia.

(isa/has)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER