Curhat Pelajar RI di AS Hadapi Inflasi: Biaya Hidup Naik Rp6,7 Juta
CNN Indonesia
Rabu, 20 Jul 2022 18:04 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Harga BBM sampai roti ikut meroket gegara inflasi gede-gedean di AS. (Foto: AP/Marta Lavandier)
Zafran mengatakan bahwa harga bensin di AS naik hampir dua kali lipat.
"itu benar-benar paling terasa sekali karena sudah hampir dua kali lipat. [Harga bensin] relatif murah di kota saya, yaitu awalnya sekitar US$2,7 [Rp40 ribu] per galon atau US$3 [Rp44 ribu] per galon, sekarang itu sudah [sampai] US$5,4 [Rp80 ribu] atau US$5,6 [Rp83 ribu] per galon. Dua kali lipat kalau dari US$2,7 [Rp40 ribu]," ujarnya.
Selain itu, Zafran menyampaikan harga pangan juga naik hampir dua kali lipat.
"Yang saya lihat sendiri, harga makanan itu sebenarnya sama aja, sama-sama naik. Harganya enggak sama [di tiap pasar], cuma sama-sama naik. Bahkan bisa hampir dua kali lipat gitu, harga daging, kentang, ayam, ikan terutama. Itu naik semua," katanya.
WNI lainnya yang juga tinggal di AS, Refo Yudhanto, juga merasakan biaya hidup meningkat gegara kenaikan harga barang.
"Hampir semuanya [barang di AS naik]. Yang paling terasa adalah makanan dan bahan pokok, bensin, mobil baru dan mobil bekas, dan sewa rumah," kata WNI yang tinggal di Los Angeles, California, itu saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Rabu (20/7).
Refo juga mengaku kenaikan harga di wilayahnya terjadi dengan cepat.
"Dan lebih parahnya, di Los Angeles, kenaikan harga itu benar-benar melaju cepat. Seperti contoh, harga bensin yang tadinya US$3 [Rp44 ribu] sampai U$4 [Rp59 ribu] sekarang rata-rata menjadi US$6 [Rp89 ribu] bahkan lebih," ujarnya.
Selain itu, Refo mengaku mengalami kesulitan akibat inflasi ini.
"Cukup menyusahkan. Saya harus mulai lebih ketat dalam perencanaan pengeluaran bulanan. Di mana gaji saya naik tidak seberapa dibanding harga-harga yang sedang naik," kata Refo.
Dalam mengatasi kesulitan imbas inflasi di AS, Refo merasa beruntung karena masih sempat menabung.
"Untungnya saya sudah mulai menabung sejak lama, di mana saya merasa cukup aman dalam kejadian seperti ini. Jadi di mana harga akan naik, tabungan saya akan cukup untuk membantu jika terjadi sesuatu darurat," ujarnya.
Zafran Arif, warga Indonesia (WNI) yang sedang menempuh pendidikan di Washington State University Amerika Serikatbercerita biaya hidupnya naik sekitar US$450 atau setara Rp6,7 juta.
Kenaikan yang sangat signifikan ini imbas dari tingkat inflasi Amerika Serikat yang mencapai 9,1 persen pada Juni 2022, rekor tertinggi dalam 41 tahun terakhir.
Akibatnya, ribuan warga AS rela antre bantuan makanan dari pemerintah karena harga yang kian meroket mahal hingga tak sanggup membeli sendiri.
Zafran, yang kini tinggal di Kota Pullman, negara bagian Washington, mengatakan biaya rumah tangga di AS harus bertambah sekitar US$400 (Rp5,9 juta) sampai US$500 (Rp7,4 juta) saat inflasi, dibandingkan biasanya. Kenaikan biaya hidup ini juga dialami Zafran.
"Iya betul, naiknya bisa sampai angka itu [US$400 atau setara Rp5,9 juta]. Terutama saya [pengeluaran] yang paling tinggi itu di bensin. Karena saya suka pergi ke luar kota," tutur Zafran saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Sabtu (16/7).
"Hanya yang paling parah itu di bensin sih. Dan itu bisa naik tidak sampai US$500 [Rp7,4 juta], mungkin sekitar US$450 [Rp6,7 juta] dibanding biasanya. Kalau di bahan makanan karena saya jarang makan ke restoran, lebih sering makan sendiri, itu saya masih bisa mengatur keuangan," katanya menambahkan.
Zafran juga bercerita rata-rata pengeluaran mahasiswa di AS sekitar US$1600 (Rp23 juta) hingga US$2000 (Rp29 juta) per bulan saat inflasi belum separah saat ini.
Namun, biaya hidup yang sudah mahal itu mesti bertambah lagi sekitar US$400 (Rp5,9 juta) sampai US$500 (Rp7,4 juta) akibat inflasi.
Zafran memilih sejumlah jurus menghemat guna mengurangi biaya hidup di tengah inflasi, salah satunya mengurangi menggunakan kendaraan pribadi.
"Jadi lebih sering jalan kaki atau naik bus kalau jauh. Terus saya juga masak sendiri, tidak membeli di restoran atau doordash [semacam jasa pesan antar makanan via online]. Saya juga mengurangi beli daging dan lebih banyak beli sayur karena jauh lebih murah," kata Zafran.
"Sejauh ini yang paling terasa hanya harga bahan makanan dan bensin, untuk yang lainnya tidak terlalu jadi masalah untuk saya," lanjutnya.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Harga BBM sampai Roti Meroket
Harga BBM sampai roti ikut meroket gegara inflasi gede-gedean di AS. (Foto: AP/Marta Lavandier)
Zafran mengatakan bahwa harga bensin di AS naik hampir dua kali lipat.
"itu benar-benar paling terasa sekali karena sudah hampir dua kali lipat. [Harga bensin] relatif murah di kota saya, yaitu awalnya sekitar US$2,7 [Rp40 ribu] per galon atau US$3 [Rp44 ribu] per galon, sekarang itu sudah [sampai] US$5,4 [Rp80 ribu] atau US$5,6 [Rp83 ribu] per galon. Dua kali lipat kalau dari US$2,7 [Rp40 ribu]," ujarnya.
Selain itu, Zafran menyampaikan harga pangan juga naik hampir dua kali lipat.
"Yang saya lihat sendiri, harga makanan itu sebenarnya sama aja, sama-sama naik. Harganya enggak sama [di tiap pasar], cuma sama-sama naik. Bahkan bisa hampir dua kali lipat gitu, harga daging, kentang, ayam, ikan terutama. Itu naik semua," katanya.
WNI lainnya yang juga tinggal di AS, Refo Yudhanto, juga merasakan biaya hidup meningkat gegara kenaikan harga barang.
"Hampir semuanya [barang di AS naik]. Yang paling terasa adalah makanan dan bahan pokok, bensin, mobil baru dan mobil bekas, dan sewa rumah," kata WNI yang tinggal di Los Angeles, California, itu saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Rabu (20/7).
Refo juga mengaku kenaikan harga di wilayahnya terjadi dengan cepat.
"Dan lebih parahnya, di Los Angeles, kenaikan harga itu benar-benar melaju cepat. Seperti contoh, harga bensin yang tadinya US$3 [Rp44 ribu] sampai U$4 [Rp59 ribu] sekarang rata-rata menjadi US$6 [Rp89 ribu] bahkan lebih," ujarnya.
Selain itu, Refo mengaku mengalami kesulitan akibat inflasi ini.
"Cukup menyusahkan. Saya harus mulai lebih ketat dalam perencanaan pengeluaran bulanan. Di mana gaji saya naik tidak seberapa dibanding harga-harga yang sedang naik," kata Refo.
Dalam mengatasi kesulitan imbas inflasi di AS, Refo merasa beruntung karena masih sempat menabung.
"Untungnya saya sudah mulai menabung sejak lama, di mana saya merasa cukup aman dalam kejadian seperti ini. Jadi di mana harga akan naik, tabungan saya akan cukup untuk membantu jika terjadi sesuatu darurat," ujarnya.