Jakarta, CNN Indonesia -- Kurdi merupakan bangsa yang tak memiliki negara resmi. Kondisi ini, nyaris serupa dengan bangsa Yahudi dengan negara Israel.
Lalu bagaimana perbedaan nasib keduanya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan nasib keduanya terletak pada negara resmi yang mereka miliki. Bangsa Kurdi tak pernah mendapat status sebagai negara era modern, sementara Israel memilikinya.
Kurdi sempat menjadi pemimpin di sejumlah dinasti, yakni Hasanwayhid, Annazid, dan Ayyubid.
Bangsa Kurdi hidup menyebar di berbagai negara. Mereka ada yang tinggal di Pegunungan Taurus di Anatolia, Pegunungan Zagros di Iran, serta beberapa wilayah Irak, Suriah, dan Armenia, demikian dikutip Britannica.
Kebanyakan warga Kurdi hidup di teritori Iran, Irak, dan Turki. Namun, mereka kerap tersingkir.
[Gambas:Video CNN]
Di Turki, pemerintah mencoba menghapus identitas Kurdi dan melarang mereka menggunakan pakaian khas mereka.
Di Iran, Kurdi kerap menjadi sasaran persekusi yang menganut ajaran Muslim Syiah. Pada 1979, Ayatollah Khomeini bahkan memperingatkan akan mengambil tindak tegas.
Sementara itu, di Israel merupakan negara kecil di Timur Tengah. Negara ini berada di Pantai Timur Mediterania.
Asal Mula Israel
Israel pertama muncul sejak akhir abad ke-13 SM, yang saat itu disebut sebagai suatu bangsa, di Prasasti Merneptah Mesir. Mereka mendiami wilayah yang disebut Kanaan.
Beberapa abad kemudian terdapat dua kerajaan di wilayah itu yakni Kerajaan Israel dan Kerajaan Yahudi atau yang disebut Yahudi.
Kemudian sekitar pada 722 SM, Kerajaan Neo-Asyur yang berbasis di Irak menaklukan kerajaan Israel, demikian dikutip The Conversation.
Sejak saat itu, kerajaan Israel tak lagi terdengar gaungnya.
Kurang dari setengah abad kemudian, Kerajaan Romawi berhasil menggulingkan Yahudi. Ibu kota mereka, Jerusalem juga dijarah. Banyak bangsa Yahudi kemudian diasingkan ke Babilonia.
Setelah pengasingan berakhir, banyak Bangsa Yahudi kembali ke wilayah asal.
Mereka sempat melakukan pemberontakan, namun gagal.
Imbasnya, Kaisar Romawi Hadrian mengusir Bangsa Yahudi dari Yerusalem.
Ia memutuskan kota dan wilayah di sekitarnya menjadi bagian dari entitas yang disebut "Suriah-Palestina."
Nama "Palestina" diambil dari wilayah pesisir orang Filistin kuno, musuh bangsa Israel (nenek moyang orang Yahudi).
Pada abad ketujuh, Bangsa Islam melakukan Timur Tengah. Orang-orang Arab juga mulai menetap di bekas Palestina.
Kemudian perang Perang Salib berkecamuk pada 1096 hingga 1270. Perang ini terjadi antara Bizantium Romawi Timur dan Pasukan Muslim memperebutkan wilayah terutama Yerusalem.
Pasukan Romawi berhasil merebut kawasan itu. Perang Salib II kembali berkecamuk pada 1144 hingga 1187. Kali ini, pasukan Muslim menang.
Lanjut ke halaman berikutnya...
Zionisme dan Kendali Inggris
Milisi Kurdi saat memukul mundur ISIS. (AFP PHOTO / SAFIN HAMED)
Zionisme dan Kendali Inggris
Pada abad ke-19, kerinduan orang-orang Yahudi menuntun mereka untuk kembali ke wilayah nenek moyang. Lalu muncul gerakan nasionalistik yang disebut Zionisme.
Penyebab Zionis didorong kebencian yang meningkat tajam terhadap orang-orang Yahudi di Eropa dan Rusia. Orang-orang Yahudi yang berimigrasi bertemu dengan penduduk yang didominasi orang Arab, yang juga menganggapnya sebagai tanah air leluhur mereka.
Pada saat itu, tanah tersebut terdiri dari tiga wilayah administrasi kerajaan Ottoman, tidak ada yang disebut " Palestina ."
Ottoman kemudian terlibat perang dengan Inggris pada pada 1915 hingga 1916.
Pada 1917, tanah itu berada di bawah kekuasaan Inggris.
Lalu pada tahun 1923, "Mandatory Palestine", yang juga termasuk negara bagian Yordania saat ini, terbentuk.
Penduduk Arab melihat diri mereka bukan sebagai "Palestina" dalam arti sebuah bangsa, melainkan sebagai orang Arab yang tinggal di Palestina atau lebih tepatnya, Suriah Raya.
Negara Israel
Para pemimpin Zionis di Mandat Palestina berusaha keras meningkatkan jumlah bangsa Yahudi di wilayah itu untuk memperkuat klaim kenegaraan.
Namun, pada 1939 Inggris sangat membatasi imigrasi Yahudi.
Selain itu, sekitar 1933 sampai 1945 pembantaian terhadap orang Yahudi oleh Nazi Jerman terjadi atau yang dikenal Holocaust.
Lalu keinginan para pemimpin Zionis untuk memperkuat klaim kenegaraan pada akhirnya terwujud, karena kengerian global dalam menanggapi Holocaust .
Pada November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan Resolusi 181. Resolusi ini membagi tanah menjadi "Negara Arab dan Yahudi.
Resolusi tersebut langsung mendapat penolakan Arab. Milisi lalu Palestina menyerang pemukiman Yahudi.
Pada 14 Mei 1948, para pemimpin Zionis mendeklarasikan berdirinya negara Israel.
Setelah itu, konflik antara Israel dan Palestina terus berkecamuk antara keduanya.