Curhat Warga Ukraina Ikut Referendum sambil Ditodong Senjata Rusia
CNN Indonesia
Jumat, 30 Sep 2022 09:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Putin bersiap mendeklarasikan pencaplokan wilayah Ukraina kala sebagian besar masyarakat di wilayah pendudukan mengaku dipaksa mendukung referenum gabung Rusia. (Foto: AFP/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia bersiap mendeklarasikan pencaplokan empat wilayah Ukraina hari ini, Jumat (30/9). Peresmian pencaplokan ini dilakukan Rusia usai referendum semu yang digelar mengklaim lebih dari 90 persen penduduk di empat wilayah itu ngebet bergabung dengan Rusia.
Empat wilayah Ukraina yang ingin direbut Rusia itu yakni Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia serta beberapa daerah kecil lain di sekitarnya.
Namun, banyak warga Ukraina di daerah-daerah "jajahan" Rusia itu mengaku dipaksa untuk ikut referendum dan memberikan suara dukungan terhadap penggabungan dengan Negeri Beruang Merah. Sebagian dari mereka bahkan bercerita bahkan memberikan suara referendum di bawah todongan senjata pasukan Rusia.
Tentara Rusia dengan masker balaclavas menemani petugas referendum kala mengunjungi rumah-rumah penduduk di wilayah Ukraina yang diduduki mereka dengan surat dan kotak suara. Tentara terus berdiri di samping masyarakat saat mengisi surat suara.
"Bagaimana mereka bisa mengatakan pemungutan suara berlangsung secara sukarela jika mereka datang membawa senjata?" kata seorang warga di salah satu desa di Kherson, Natalia (bukan nama sebenarnya), ketika di wawancara via telepon pada Sabtu (24/9).
Natalia juga bercerita penduduk desa menyambut delegasi dua tentara dan tiga perempuan yang membawa kotak suara. Natalia bertanya kepada para tentara alasan mereka berada di sana, para tentara kemudian menjawab mereka bertugas melindungi tiga perempuan tersebut.
"Saya bertanya, 'apa yang Anda takutkan sehingga perlu dilindungi?'. Mereka hanya diam," tuturnya.
Sementara itu, gubernur Zaporizhzhia Oleksandr Starukh, menuturkan sekitar tiga perempat populasi di sana telah kabur karena peperangan. Pada Kamis (29/9), Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan Zaporizhzhia dan Kherson secara sepihak.
Starukh juga menyampaikan bagaimana dampak pasukan bersenjata Rusia terhadap pemungutan suara.
"Tidak sulit untuk mengerti tanda apa yang terasa oleh masyarakat di bawah moncong senjata otomatis," tulis Starukh dalam Telegram seperti dikutip The New York Times.
Cerita yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Administrasi Militer Kota Kherson, Galina Luhova. Luhova mengaku telah berbicara dengan 11 orang yang tinggal di Kherson.
Luhova menuturkan ia mendapat kabar bahwa tentara Rusia membawa senapan Kalashnikov saat menemani satu petugas pembawa kotak suara. Mereka kemudian pergi ke setiap pintu apartemen dan rumah warga.
"Referendum di Kota Kherson yang diduduki [Rusia] berlangsung di bawah moncong senjata otomatis," kata Luhova, dikutip dariThe Washington Post.
"Mereka membunyikan bel di beberapa apartemen, mengetuk pintu kepada orang-orang yang tak mau membukanya, dan memaksa orang-orang keluar lalu menandai [surat suara] yang menyatakan mereka setuju bergabung ke Federasi Rusia," lanjutnya.
Luhova juga menuturkan beberapa warga berpura-pura mereka tak ada di rumah, atau memilih kabur dari apartemen mereka dalam waktu tertentu kala pasukan Rusia datang.
"Masyarakat ketakutan," tutur Luhova lagi.
Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah Ukraina, baca di halaman berikutnya >>>
Selain itu, seorang jurnalis Ukraina, Serhii Nikitenko, mengaku ia telah berbicara dengan tiga temannya. Ia mendapatkan informasi kalau kelompok tersebut juga mendatangi sekolah, rumah sakit, dan tempat kerja lain agar pejabat bisa "mendapatkan suara dalam jumlah tertentu."
Petro Adriushchenko, penasihat Wali Kota Mariupol, mengatakan bahwa masyarakat menjadi sasaran pemaksaan pemungutan suara dengan cara mengunjungi langsung setiap rumah ke rumah.
"Komisi [pemungutan suara] terdiri dari dua orang yang membawa kotak suara dan surat suara, dan dua pria bersenjata," kata Adriushchenko, dikutip dari CNN.
"Mereka mengetuk pintu apartemen atau rumah, memaksa masyarakat untuk membuat orang-orang datang ke komisi. Paksaan, paksaan dan lebih banyak paksaan. Faktanya, mereka menawarkan [penduduk] untuk memilih 'ya' atau 'tidak' secara langsung ke laras pistol."
Ia kemudian berkata, "Penandaan dibuat di bawah pantauan ketat pria bersenjata. Itulah tampilan dari demokrasi Rusia."
Adriushchenko sendiri tak berada di Mariupol, yang notabene berada di wilayah Donetsk. Namun, dia memiliki saluran informasi yang dapat dipercaya di kota itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekrit berisikan pengakuan atas kemerdekaan dua wilayah Ukraina yang didudukinya pada Kamis (29/9). Kedua wilayah itu yakni Zaporizhzhia dan Kherson di selatan Ukraina.
Dekrit ini diteken Putin menjelang Rusia mengumumkan peresmian pencaplokan sejumlah wilayah di Ukraina secara sepihak.
"Saya memerintahkan pengakuan kedaulatan negara dan kemerdekaan terhadap wilayah Zaporizhzhia dan Kherson yang ada di selatan Ukraina," kata Putin dalam dekrit yang dirilis Kremlin seperti dikutip AFP.
Selain Zaporizhzhia dan Kherson, Rusia juga berencana mengambil dua wilayah Ukraina lainnya di timur negara eks Uni Soviet itu yakni Donetsk dan Luhansk.
Juru bicara pemerintah Rusia atau Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan sebelumnya bahwa Putin akan mendeklarasikan secara resmi pencaplokan empat wilayah Ukraina itu hari ini.
"Besok di Aula Georgia di Istana Negara Kremlin pukul 15.00, akan digelar upacara penandatanganan untuk memasukkan wilayah baru ke Rusia," ujar Peskov kemarin.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia bersiap mendeklarasikan pencaplokan empat wilayah Ukraina hari ini, Jumat (30/9). Peresmian pencaplokan ini dilakukan Rusia usai referendum semu yang digelar mengklaim lebih dari 90 persen penduduk di empat wilayah itu ngebet bergabung dengan Rusia.
Empat wilayah Ukraina yang ingin direbut Rusia itu yakni Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia serta beberapa daerah kecil lain di sekitarnya.
Namun, banyak warga Ukraina di daerah-daerah "jajahan" Rusia itu mengaku dipaksa untuk ikut referendum dan memberikan suara dukungan terhadap penggabungan dengan Negeri Beruang Merah. Sebagian dari mereka bahkan bercerita bahkan memberikan suara referendum di bawah todongan senjata pasukan Rusia.
Tentara Rusia dengan masker balaclavas menemani petugas referendum kala mengunjungi rumah-rumah penduduk di wilayah Ukraina yang diduduki mereka dengan surat dan kotak suara. Tentara terus berdiri di samping masyarakat saat mengisi surat suara.
"Bagaimana mereka bisa mengatakan pemungutan suara berlangsung secara sukarela jika mereka datang membawa senjata?" kata seorang warga di salah satu desa di Kherson, Natalia (bukan nama sebenarnya), ketika di wawancara via telepon pada Sabtu (24/9).
Natalia juga bercerita penduduk desa menyambut delegasi dua tentara dan tiga perempuan yang membawa kotak suara. Natalia bertanya kepada para tentara alasan mereka berada di sana, para tentara kemudian menjawab mereka bertugas melindungi tiga perempuan tersebut.
"Saya bertanya, 'apa yang Anda takutkan sehingga perlu dilindungi?'. Mereka hanya diam," tuturnya.
Sementara itu, gubernur Zaporizhzhia Oleksandr Starukh, menuturkan sekitar tiga perempat populasi di sana telah kabur karena peperangan. Pada Kamis (29/9), Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan Zaporizhzhia dan Kherson secara sepihak.
Starukh juga menyampaikan bagaimana dampak pasukan bersenjata Rusia terhadap pemungutan suara.
"Tidak sulit untuk mengerti tanda apa yang terasa oleh masyarakat di bawah moncong senjata otomatis," tulis Starukh dalam Telegram seperti dikutip The New York Times.
Cerita yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Administrasi Militer Kota Kherson, Galina Luhova. Luhova mengaku telah berbicara dengan 11 orang yang tinggal di Kherson.
Luhova menuturkan ia mendapat kabar bahwa tentara Rusia membawa senapan Kalashnikov saat menemani satu petugas pembawa kotak suara. Mereka kemudian pergi ke setiap pintu apartemen dan rumah warga.
"Referendum di Kota Kherson yang diduduki [Rusia] berlangsung di bawah moncong senjata otomatis," kata Luhova, dikutip dariThe Washington Post.
"Mereka membunyikan bel di beberapa apartemen, mengetuk pintu kepada orang-orang yang tak mau membukanya, dan memaksa orang-orang keluar lalu menandai [surat suara] yang menyatakan mereka setuju bergabung ke Federasi Rusia," lanjutnya.
Luhova juga menuturkan beberapa warga berpura-pura mereka tak ada di rumah, atau memilih kabur dari apartemen mereka dalam waktu tertentu kala pasukan Rusia datang.
"Masyarakat ketakutan," tutur Luhova lagi.
Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah Ukraina, baca di halaman berikutnya >>>
Curhat Warga Ukraina Ikut Referendum sambil Ditodong Senjata Rusia
Penampakan surat suara referendum Rusia di Ukraina. (Foto: REUTERS/SERGEY PIVOVAROV)
Selain itu, seorang jurnalis Ukraina, Serhii Nikitenko, mengaku ia telah berbicara dengan tiga temannya. Ia mendapatkan informasi kalau kelompok tersebut juga mendatangi sekolah, rumah sakit, dan tempat kerja lain agar pejabat bisa "mendapatkan suara dalam jumlah tertentu."
Petro Adriushchenko, penasihat Wali Kota Mariupol, mengatakan bahwa masyarakat menjadi sasaran pemaksaan pemungutan suara dengan cara mengunjungi langsung setiap rumah ke rumah.
"Komisi [pemungutan suara] terdiri dari dua orang yang membawa kotak suara dan surat suara, dan dua pria bersenjata," kata Adriushchenko, dikutip dari CNN.
"Mereka mengetuk pintu apartemen atau rumah, memaksa masyarakat untuk membuat orang-orang datang ke komisi. Paksaan, paksaan dan lebih banyak paksaan. Faktanya, mereka menawarkan [penduduk] untuk memilih 'ya' atau 'tidak' secara langsung ke laras pistol."
Ia kemudian berkata, "Penandaan dibuat di bawah pantauan ketat pria bersenjata. Itulah tampilan dari demokrasi Rusia."
Adriushchenko sendiri tak berada di Mariupol, yang notabene berada di wilayah Donetsk. Namun, dia memiliki saluran informasi yang dapat dipercaya di kota itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekrit berisikan pengakuan atas kemerdekaan dua wilayah Ukraina yang didudukinya pada Kamis (29/9). Kedua wilayah itu yakni Zaporizhzhia dan Kherson di selatan Ukraina.
Dekrit ini diteken Putin menjelang Rusia mengumumkan peresmian pencaplokan sejumlah wilayah di Ukraina secara sepihak.
"Saya memerintahkan pengakuan kedaulatan negara dan kemerdekaan terhadap wilayah Zaporizhzhia dan Kherson yang ada di selatan Ukraina," kata Putin dalam dekrit yang dirilis Kremlin seperti dikutip AFP.
Selain Zaporizhzhia dan Kherson, Rusia juga berencana mengambil dua wilayah Ukraina lainnya di timur negara eks Uni Soviet itu yakni Donetsk dan Luhansk.
Juru bicara pemerintah Rusia atau Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan sebelumnya bahwa Putin akan mendeklarasikan secara resmi pencaplokan empat wilayah Ukraina itu hari ini.
"Besok di Aula Georgia di Istana Negara Kremlin pukul 15.00, akan digelar upacara penandatanganan untuk memasukkan wilayah baru ke Rusia," ujar Peskov kemarin.