Tentara Berjibun, Kenapa Putin Hanya Kerahkan Komcad Rusia di Ukraina?
CNN Indonesia
Jumat, 07 Okt 2022 10:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kenapa Vladimir Putin hanya kerahkan komcad, padahal Rusia punya banyak tentara. (AFP/GAVRIIL GRIGOROV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia merupakan salah satu negara dengan kemampuan militer yang kuat. Rusia memiliki ribuan tentara, tetapi Presiden Vladimir Putin malah memutuskan mengerahkan mobilisasi parsial komando cadangan (Komcad) dari wajib militer untuk perang di Ukraina.
Sebagaimana dilansir Global Fire Power, Rusia memiliki total 1.350.000 personel militer, dengan 850.000 orang adalah personel aktif. Rusia juga memiliki 250.000 tentara cadangan.
"Kalau Rusia menambah mobilisasi terlalu besar, mereka akan keluar dari narasi 'operasi militer khusus' yang selama ini dipertahankan. Makin bisa dikritik dan makin tidak bisa dibela negara negara yang selama ini ragu menekan," kata peneliti Pusat Strategis dan Studi Internasional (CSIS) Waffaa Kharisma saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (4/10).
Menurut Waffaa, langkah tersebut tidak akan populer di dalam Rusia, pun mengganggu "stabilitas negaranya sendiri."
Senada dengan pendapat Waffaa, pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan Yosef Djakababab berpendapat banyak warga Rusia pergi ke negara lain imbas mobilisasi tersebut.
"Kebijakan ini menimbulkan efek banyaknya warga Rusia yang kemudian mengungsi keluar Rusia, seperti ke Finlandia dan Georgia, untuk menghindar dari kewajiban masuk ke dinas militer untuk dikirim ke Ukraina," kata Yosef ketika dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (4/10).
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Istilah operasi militer sendiri, kata Yosef, digunakan untuk melegitimasi invasi Rusia.
"Hal tersebut juga untuk menghindari implikasi legal yg mungkin saja terjadi. Jadi saya pikir tidak terlalu berhubungan dengan jumlah serdadu yg mereka kirim," tutur Yosef ketika ditanya apakah status operasi militer khusus ini membuat Rusia 'terbatas' mengirim pasukannya.
Selain itu, Yosef menilai faktor lain yang membuat Putin menerapkan wajib militer adalah karena moral serdadu Rusia yang melemah. Ini kemudian memengaruhi performa mereka di medan perang.
"Kemampuan militer Rusia memang luar biasa dari segi jumlah tentara dan kualitas alutsistanya, namun kedua faktor tersebut tidak akan cukup apabila tidak disertai moral tempur serdadu yang baik dan motivasi yang tinggi," ujar Yosef.
Yosef juga mengungkapkan, "Ditambah manajemen pengerahan angkatan bersenjata yang disinyalir buruk dan ketinggalan zaman untuk zaman modern saat ini. Kemudian juga ada faktor kepemimpinan di lapangan yang kurang mumpuni sehingga seringkali eksekusi strategi militer di lapangan tidak terlaksana dengan baik."
Sementara itu, Direktur Program Keamanan Transatlantik di Pusat Keamanan Amerika Baru (CNAS), Andrea Kendall-Taylor, menilai Putin menginvasi Ukraina lewat asumsi yang salah.
"Putin melakukan operasi dengan asumsi yang sangat salah. Para diktator personalis berbuat salah. Jadi yang utama, Putin dan Rusia sangat salah paham akan Ukraina," tuturnya, dikutip dari The New York Times.
"Putin percaya mereka [Rusia] dapat menguasai Kyiv, menggulingkan rezim [Ukraina], dan seluruh negara bakal hancur bak rumah kartu. Di sana mereka sangat salah paham terkait Ukraina."
Menurut Kendall-Taylor, Ukraina telah membentuk identitas nasional yang lebih kuat sejak 2014 dan memiliki komitmen untuk lebih mendekat ke Barat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rusia merupakan salah satu negara dengan kemampuan militer yang kuat. Rusia memiliki ribuan tentara, tetapi Presiden Vladimir Putin malah memutuskan mengerahkan mobilisasi parsial komando cadangan (Komcad) dari wajib militer untuk perang di Ukraina.
Sebagaimana dilansir Global Fire Power, Rusia memiliki total 1.350.000 personel militer, dengan 850.000 orang adalah personel aktif. Rusia juga memiliki 250.000 tentara cadangan.
"Kalau Rusia menambah mobilisasi terlalu besar, mereka akan keluar dari narasi 'operasi militer khusus' yang selama ini dipertahankan. Makin bisa dikritik dan makin tidak bisa dibela negara negara yang selama ini ragu menekan," kata peneliti Pusat Strategis dan Studi Internasional (CSIS) Waffaa Kharisma saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (4/10).
Menurut Waffaa, langkah tersebut tidak akan populer di dalam Rusia, pun mengganggu "stabilitas negaranya sendiri."
Senada dengan pendapat Waffaa, pengamat hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan Yosef Djakababab berpendapat banyak warga Rusia pergi ke negara lain imbas mobilisasi tersebut.
"Kebijakan ini menimbulkan efek banyaknya warga Rusia yang kemudian mengungsi keluar Rusia, seperti ke Finlandia dan Georgia, untuk menghindar dari kewajiban masuk ke dinas militer untuk dikirim ke Ukraina," kata Yosef ketika dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (4/10).
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Moral Tentara Rusia Dinilai Melemah
Pasukan Komcad Rusia berangkat ke Ukraina. (REUTERS/ALEXEY MALGAVKO)
Istilah operasi militer sendiri, kata Yosef, digunakan untuk melegitimasi invasi Rusia.
"Hal tersebut juga untuk menghindari implikasi legal yg mungkin saja terjadi. Jadi saya pikir tidak terlalu berhubungan dengan jumlah serdadu yg mereka kirim," tutur Yosef ketika ditanya apakah status operasi militer khusus ini membuat Rusia 'terbatas' mengirim pasukannya.
Selain itu, Yosef menilai faktor lain yang membuat Putin menerapkan wajib militer adalah karena moral serdadu Rusia yang melemah. Ini kemudian memengaruhi performa mereka di medan perang.
"Kemampuan militer Rusia memang luar biasa dari segi jumlah tentara dan kualitas alutsistanya, namun kedua faktor tersebut tidak akan cukup apabila tidak disertai moral tempur serdadu yang baik dan motivasi yang tinggi," ujar Yosef.
Yosef juga mengungkapkan, "Ditambah manajemen pengerahan angkatan bersenjata yang disinyalir buruk dan ketinggalan zaman untuk zaman modern saat ini. Kemudian juga ada faktor kepemimpinan di lapangan yang kurang mumpuni sehingga seringkali eksekusi strategi militer di lapangan tidak terlaksana dengan baik."
Sementara itu, Direktur Program Keamanan Transatlantik di Pusat Keamanan Amerika Baru (CNAS), Andrea Kendall-Taylor, menilai Putin menginvasi Ukraina lewat asumsi yang salah.
"Putin melakukan operasi dengan asumsi yang sangat salah. Para diktator personalis berbuat salah. Jadi yang utama, Putin dan Rusia sangat salah paham akan Ukraina," tuturnya, dikutip dari The New York Times.
"Putin percaya mereka [Rusia] dapat menguasai Kyiv, menggulingkan rezim [Ukraina], dan seluruh negara bakal hancur bak rumah kartu. Di sana mereka sangat salah paham terkait Ukraina."
Menurut Kendall-Taylor, Ukraina telah membentuk identitas nasional yang lebih kuat sejak 2014 dan memiliki komitmen untuk lebih mendekat ke Barat.