Opium Afghanistan Merajalela di Rezim Taliban

CNN Indonesia
Jumat, 04 Nov 2022 02:10 WIB
Jumlah budidaya opium di Afghanistan meningkat pesat sejak rezim Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021 lalu. Produksi opium Afghanistan meningkat di rezim Taliban. (AFP/JAVED TANVEER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah budidaya opium di Afghanistan meningkat pesat sejak rezim Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021 lalu.

Dalam laporan kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada Selasa (1/11), disebut bahwa tanaman narkotika itu meningkat 32 persen dari tahun sebelumnya menjadi 233.000 hektar.

"Penanaman opium di Afghanistan meningkat sebesar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 233.000 hektar, yang menjadikan panen tahun 2022 sebagai area terbesar ketiga di bawah budidaya opium sejak pemantauan dimulai," demikian laporan UNODC seperti dikutip Kamis (3/11).

Menurut laporan UNODC, budidaya narkotika ini terus berpusat di bagian barat daya Afghanistan yang menyumbang 73 persen, diikuti oleh provinsi-provinsi Barat yang menyumbang 14 persen.

Di beberapa daerah, budidaya opium menempati proporsi signifikan dari keseluruhan lahan pertanian. Misalnya di Provinsi Hilmand, seperlima dari tanah subur di sana didedikasikan untuk opium dan di beberapa distrik proporsinya bahkan lebih tinggi hingga mengalahkan gandum.

[Gambas:Video CNN]

Afghanistan sebelum ini sempat melarang keras warganya menanam dan berjualan opium. Larangan itu tercantum dalam dekrit pemimpin tertinggi Taliban, Haibatullah Akhundzada, yang diumumkan saat jumpa pers Kementerian Dalam Negeri Afghanistan pada 3 April lalu.

Namun, sejak dilarang, harga opium justru melonjak sehingga menguntungkan para petani. Panen di tahun ini pun disebut jadi yang paling menguntungkan sejak 2017.

Pada Maret, opium sempat menyentuh USD 116 dan setelah dilarang naik hampir dua kali lipat menjadi USD 203.

Karenanya, pendapatan para petani meningkat hingga tiga kali lipat dari semula USD 425 juta pada 2021 menjadi USD 1,4 miliar pada tahun ini. Jumlah itu disebut hanya mewakili sebagian kecil dari pendapatan yang dihasilkan dari produksi dan perdagangan dalam negeri.

"Jumlah yang makin besar makin bertambah di sepanjang rantai pasokan obat-obatan terlarang di luar negeri," tulis laporan UNODC.

Penanaman dan penjualan opium telah meningkat sejak sebelum pemerintah Taliban mengeluarkan dekrit. Hal itu lantaran krisis ekonomi yang kian parah usai mereka berkuasa.

Pada awal 2000, Taliban sudah sempat melarang penanaman opium demi mendapat pengakuan internasional. Namun keputusan itu tak terlaksana dengan baik.

(blq/bac)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER