Warga Iran Ribut usai Piala Dunia, Pendukung Demo Ditampar-Diteriaki

Tim | CNN Indonesia
Rabu, 30 Nov 2022 08:22 WIB
Warga Iran yang menonton Piala Dunia terbelah, antara pendukung tim nasional dan pembela demonstrasi di kampung halaman mereka. Warga Iran yang menonton Piala Dunia terbelah, antara pendukung tim nasional dan pembela demonstrasi di kampung halaman mereka. (Cinema for Peace Foundation via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Iran yang menonton Piala Dunia terbelah, antara pendukung tim nasional dan pembela demonstrasi di kampung halaman mereka. Selama Piala Dunia, para warga itu kerap terlibat cekcok.

Keributan memuncak menjelang laga timnas Iran melawan Amerika Serikat di Piala Dunia Qatar pada Selasa (29/11).

Para pendukung demo tak mau mendukung timnas. Mereka menganggap rezim memanfaatkan timnas untuk memperbaiki citra di tengah gelombang demonstrasi di Iran.

Di sisi lain, para pendukung timnas menganggap warga Iran seharusnya tetap mendukung perjuangan para pemain sepak bola di Piala Dunia.

Sebelum pertandingan dimulai pada Selasa, kedua kubu warga Iran ini sudah panas. Dua warga Iran yang memakai kaus dengan slogan protes berulang kali diganggu ketika diwawancarai jurnalis Associated Press.

Salah satu yang diwawancarai, Maryam, ditampar sangat keras oleh seorang pria Iran. Petugas langsung melerai mereka, tapi tak menahan pria yang menampar tersebut.

Seorang pria lain meniup vuvuzela untuk mengganggu wawancara itu. Salah satu pria berteriak dalam bahasa Farsi, "Mengapa kalian menganggap Iran tidak baik?"

Tak peduli, Maryam melanjutkan wawancaranya. Menurutnya, seorang temannya yang lain juga dilecehkan ketika menonton pertandingan Iran melawan Wales pada Jumat pekan lalu.

"Mereka tak bisa menghentikan kami. Orang-orang dibunuh dan saya tak akan bisa dihentikan oleh orang tak dikenal. Saya tidak takut mereka," ucapnya.

Mehrdad dan Eli, warga Iran dari Arizona, juga mengaku mendapatkan perlakuan tak menyenangkan karena membawa foto perempuan yang tewas dalam demonstrasi. Eli akhirnya menyimpan foto itu di tas.

Menurut mereka, atmosfer ketegangan sangat terasa di dalam stadion. Mereka merasa dimata-matai oleh agen dari sayap elite angkatan bersenjata Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Saya merasa dikelilingi agen IRGC. Semua orang memantau kami," katanya.

Amarah pendukung timnas kian membara ketika Iran kalah pada Selasa, membuat negara mereka benar-benar terdepak dari Piala Dunia.

Tak lama setelah pertandingan usai, cekcok pecah antara demonstran Iran yang mengacungkan potret mantan pesepak bola pendukung gerakan protes, Ali Karimi, dengan jurnalis dari media pemerintah.

Keributan sempat terjadi ketika jurnalis itu hendak merekam para demonstran. Namun, petugas keamanan kemudian memisahkan mereka.

[Gambas:Video CNN]

Laga Iran di Piala Dunia memang dibayangi konflik di kampung halaman mereka. Selama beberapa bulan terakhir, warga turun ke jalan, memprotes kematian Mahsa Amini, perempuan 22 tahun yang tewas di tahanan.

Amini diduga ditahan karena melanggar aturan berpakaian tertutup. Dalam gelombang demonstrasi ini, para pengunjuk rasa pun memprotes berbagai regulasi yang mendiskriminasi perempuan.

Banyak pihak mendukung demonstrasi ini, termasuk para pemain timnas Iran sendiri. Mereka sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan di laga pembuka Piala Dunia Qatar pekan lalu.

Seorang sumber keamanan mengatakan kepada CNN bahwa mereka lantas dipanggil menghadap IRGC. Dalam pertemuan itu, IRGC mengancam bakal menyiksa dan membui keluarga para pemain timnas jika mereka tak "jaga sikap" di Piala Dunia.

Meski demikian, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad, membantah laporan tersebut. Menurutnya, berita itu karangan belaka kelompok anti-Iran.

"Mereka mencoba untuk membuat fitnah dan berita bohong untuk merusak atmosfer baik timnas Iran dan mencegah kesuksesan Iran pada ajang bergengsi ini," kata Azad kepada CNNIndonesia.com.

(has/has)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER