Bos Wagner Group Rusia Yevgeny Prigozhin saat berada dalam kokpit jet bomber Su-24. (via REUTERS/CONCORD PRESS SERVICE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pasukan tentara bayaran Rusia, Wagner Group, belakangan santer diperbincangkan setelah berkoar bakal merebut Kota Bakhmut menjelang satu tahun invasi di Ukraina pada 24 Februari mendatang.
Wagner juga ramai disorot setelah menyatakan tak mau lagi merekrut pasukan dari narapidana setelah mengalami rugi besar-besaran.
Namun, jauh sebelum itu, kelompok Wagner disorot karena dinilai sebagai kelompok yang brutal dan terlibat dalam banyak peperangan.
Mengenai hal ini, berikut sejumlah sisi gelap Wagner Group:
1. Membunuh atau terbunuh
Wagner punya taktik brutal yang disebut ahli militer sebagai "membunuh atau terbunuh".
Mengutip Visegrad Insight, taktik tak berperasaan itu utamanya dilakukan kala berperang, salah satunya di Ukraina. Wagner membunuh warga sipil di Bucha dan Ukraina timur, menyiksa warga, memperkosa, menjarah, menghilangkan paksa, hingga meledakkan infrastruktur dan bangunan sipil tanpa pandang bulu.
Aksi itu pun sampai membuat Wagner dicap melanggar hukum kemanusiaan internasional oleh intelijen AS. Mereka juga dicap melanggar hak-hak asasi manusia (HAM) oleh sejumlah kelompok HAM.
Ironisnya, sejumlah narapidana yang bergabung dengan Wagner merasa bahwa berperang bersama kelompok itu bisa memperkaya mereka secara spiritual. Padahal, lebih dari 85 persen prajurit Wagner meregang nyawa di medan perang.
2. Penjaga diktator Omar Al-Bashir
Wagner selama ini dikenal mendukung Presiden Sudan Omar Hassan Ahmad al-Bashir, yang memerintah Sudan sejak 1993 sampai 2019.
Mengutip Middle East Monitor, Wagner pernah melakukan operasi di Sudan dan Mozambik untuk menyerang kelompok teroris di sana.
Namun, pada Maret 2022, Kementerian Luar Negeri di Khartoum membantah bahwa Wagner pernah beroperasi di Sudan. Dalam pernyataannya, Kemlu menyebutkan Wagner tak pernah ada di Sudan dan segala aktivitas mereka melanggar "hukum dan pemerintahan" Sudan.
"Pelaksanaan, penambangan, dan misi lain mereka bertentangan dengan aturan hukum dan pemerintahan," demikian keterangan Kemlu, seperti dikutip Middle East Monitor.
Selain Sudan, Wagner juga dikenal beroperasi di Libya karena hubungannya dengan komandan militer Khalifa Hifter.
Mengutip Associated Press News, pakar PBB mengatakan Wagner dikerahkan ke Libya sejak 2018 untuk membantu pasukan Hifter berperang melawan militan Islam di Libya Timur.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
3. Berasal dari masyarakat miskin
Para prajurit Wagner disebut-sebut berasal dari golongan masyarakat miskin.
Seorang pejabat dari Dinas Keamanan dan Intelijen Moldova (SIS) mengatakan prajurit Wagner memiliki "latar belakang sosial yang tidak stabil", seperti dikutip New Lines.
"Mereka tidak punya pekerjaan yang stabil, pendapatan yang stabil," ujarnya.
Para prajurit juga kebanyakan tak mengenyam pendidikan dan berusia antara 18-50 tahun. Namun, sebagian besar pejuang berusia 25 hingga 30 tahun.
Para prajurit Wagner saat awal bergabung, diiming-imingi upah besar mulai dari 2 ribu dolar atau Rp30 juta sebulan atau lebih. Itu merupakan nominal yang cukup besar menurut standar Rusia dan Ukraina.
Bahkan, mereka yang punya pengalaman militer bisa menerima gaji dua kali lipat.
Namun demikian, sejumlah bukti menunjukkan bahwa para prajurit ditipu. Para tentara mengaku hanya mendapat gaji yang dijanjikan tersebut selama beberapa bulan pertama sebelum mereka tak lagi digaji atau mendapat upah yang kurang dari yang dijanjikan.
5. Eksekusi prajurit pembangkang
Sebuah video beredar di media sosial yang menampilkan eksekusi seorang prajurit pembangkang dengan menggunakan palu godam.
Sang pembangkang, dalam video itu, dipukuli kepalanya hingga tewas menggunakan simbol grup Wagner tersebut.
Sadisnya, bos Wagner Yevgeny Prigozhin hanya mengatakan bahwa prajuritnya sedang bersenang-senang.
Lebih dari itu, para prajurit yang kabur atau yang telah menyudahi kontrak dengan Wagner juga mengatakan bahwa Wagner tak pernah memperhatikan prajurit di medan perang. Bahkan, Wagner tak segan mengeksekusi langsung prajuritnya yang menolak berperang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pasukan tentara bayaran Rusia, Wagner Group, belakangan santer diperbincangkan setelah berkoar bakal merebut Kota Bakhmut menjelang satu tahun invasi di Ukraina pada 24 Februari mendatang.
Wagner juga ramai disorot setelah menyatakan tak mau lagi merekrut pasukan dari narapidana setelah mengalami rugi besar-besaran.
Namun, jauh sebelum itu, kelompok Wagner disorot karena dinilai sebagai kelompok yang brutal dan terlibat dalam banyak peperangan.
Mengenai hal ini, berikut sejumlah sisi gelap Wagner Group:
1. Membunuh atau terbunuh
Wagner punya taktik brutal yang disebut ahli militer sebagai "membunuh atau terbunuh".
Mengutip Visegrad Insight, taktik tak berperasaan itu utamanya dilakukan kala berperang, salah satunya di Ukraina. Wagner membunuh warga sipil di Bucha dan Ukraina timur, menyiksa warga, memperkosa, menjarah, menghilangkan paksa, hingga meledakkan infrastruktur dan bangunan sipil tanpa pandang bulu.
Aksi itu pun sampai membuat Wagner dicap melanggar hukum kemanusiaan internasional oleh intelijen AS. Mereka juga dicap melanggar hak-hak asasi manusia (HAM) oleh sejumlah kelompok HAM.
Ironisnya, sejumlah narapidana yang bergabung dengan Wagner merasa bahwa berperang bersama kelompok itu bisa memperkaya mereka secara spiritual. Padahal, lebih dari 85 persen prajurit Wagner meregang nyawa di medan perang.
2. Penjaga diktator Omar Al-Bashir
Wagner selama ini dikenal mendukung Presiden Sudan Omar Hassan Ahmad al-Bashir, yang memerintah Sudan sejak 1993 sampai 2019.
Mengutip Middle East Monitor, Wagner pernah melakukan operasi di Sudan dan Mozambik untuk menyerang kelompok teroris di sana.
Namun, pada Maret 2022, Kementerian Luar Negeri di Khartoum membantah bahwa Wagner pernah beroperasi di Sudan. Dalam pernyataannya, Kemlu menyebutkan Wagner tak pernah ada di Sudan dan segala aktivitas mereka melanggar "hukum dan pemerintahan" Sudan.
"Pelaksanaan, penambangan, dan misi lain mereka bertentangan dengan aturan hukum dan pemerintahan," demikian keterangan Kemlu, seperti dikutip Middle East Monitor.
Selain Sudan, Wagner juga dikenal beroperasi di Libya karena hubungannya dengan komandan militer Khalifa Hifter.
Mengutip Associated Press News, pakar PBB mengatakan Wagner dikerahkan ke Libya sejak 2018 untuk membantu pasukan Hifter berperang melawan militan Islam di Libya Timur.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
5 Sisi Gelap Pasukan Bayaran Rusia Wagner Group
Markas besar Wagner Group di St Petersburg. (AFP/OLGA MALTSEVA)
3. Berasal dari masyarakat miskin
Para prajurit Wagner disebut-sebut berasal dari golongan masyarakat miskin.
Seorang pejabat dari Dinas Keamanan dan Intelijen Moldova (SIS) mengatakan prajurit Wagner memiliki "latar belakang sosial yang tidak stabil", seperti dikutip New Lines.
"Mereka tidak punya pekerjaan yang stabil, pendapatan yang stabil," ujarnya.
Para prajurit juga kebanyakan tak mengenyam pendidikan dan berusia antara 18-50 tahun. Namun, sebagian besar pejuang berusia 25 hingga 30 tahun.
Para prajurit Wagner saat awal bergabung, diiming-imingi upah besar mulai dari 2 ribu dolar atau Rp30 juta sebulan atau lebih. Itu merupakan nominal yang cukup besar menurut standar Rusia dan Ukraina.
Bahkan, mereka yang punya pengalaman militer bisa menerima gaji dua kali lipat.
Namun demikian, sejumlah bukti menunjukkan bahwa para prajurit ditipu. Para tentara mengaku hanya mendapat gaji yang dijanjikan tersebut selama beberapa bulan pertama sebelum mereka tak lagi digaji atau mendapat upah yang kurang dari yang dijanjikan.
5. Eksekusi prajurit pembangkang
Sebuah video beredar di media sosial yang menampilkan eksekusi seorang prajurit pembangkang dengan menggunakan palu godam.
Sang pembangkang, dalam video itu, dipukuli kepalanya hingga tewas menggunakan simbol grup Wagner tersebut.
Sadisnya, bos Wagner Yevgeny Prigozhin hanya mengatakan bahwa prajuritnya sedang bersenang-senang.
Lebih dari itu, para prajurit yang kabur atau yang telah menyudahi kontrak dengan Wagner juga mengatakan bahwa Wagner tak pernah memperhatikan prajurit di medan perang. Bahkan, Wagner tak segan mengeksekusi langsung prajuritnya yang menolak berperang.