Teka-teki di Balik Pencopotan Menlu China Qin Gang
CNN Indonesia
Rabu, 26 Jul 2023 10:09 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Menlu China Qin Gang. Foto: AP/Suo Takekuma
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri ChinaQin Gangtiba-tiba dicopot dari jabatannya, setelah nyaris satu bulan tidak muncul di hadapan publik.
Qin Gang menghilang dari publik sejak 25 Juni lalu dan melewatkan beberapa acara penting, seperti pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Jakarta dan sejumlah kunjungan pejabat senior Amerika Serikat.
Selama satu bulan "hilang misterius", Beijing memilih bungkam tentang keberadaan Qin. China hanya menyebut ketidakhadiran Qin karena masalah kesehatan, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Para pengamat di China menyebut ketidakhadiran Qin di publik dalam waktu cukup panjang tampak menjadi hal memalukan bagi China.
Selain itu, ketidakmampuan Beijing untuk mengungkap secara jelas tentang alasan pencopotan Qin, justru semakin menimbulkan pertanyaan mengenai cara pengambilan keputusan di dalam tubuh pemerintahan China.
"Tampaknya pesan Beijing lebih menekankan bahwa Qin memiliki masalah kesehatan," kata direktur program China di Stimson Center Washington, dikutip dari SCMP.
Dia menambahkan, "Sedikit yang mempercayainya, tetapi bagi China memiliki penjelasan yang melekat dan dapat dipatuhi adalah hal penting."
Kementerian Luar Negeri China menyebut Qin terakhir kali terlihat di publik saat bertemu dengan diplomat senior dari Rusia, Vietnam, dan Sri Lanka pada 25 Juni.
Dia lalu dijadwalkan untuk bertemu dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pekan lalu. Namun Beijing tiba-tiba membatalkan pertemuan itu.
Pada tanggal 7 Juli, Kemlu China ditanyai tentang rumor alasan kesehatan Qin di balik pembatalan pertemuan itu. Namun jubir Kemlu Wang Wenbin hanya menjawab dengan mengatakan dia "belum mendengar tentang itu."
Lanjut di halaman berikutnya...
Empat hari kemudian, Wang memberi kabar Qin juga tidak akan hadir pada pertemuan Menlu ASEAN di Jakarta, karena "alasan kesehatan".
Desas-desus mengenai keberadaan Qin pun akhirnya semakin berkembang dalam beberapa minggu terakhir, baik itu di media sosial dalam maupun luar negeri.
Satu hal menarik di tengah hilangnya Qin dari publik adalah pertanyaan dan komentar mengenai keberadaan Qin juga hilang dari situs web Kemlu China.
"Untuk negara lain, ini akan dianggap sebagai penghinaan diplomatik yang besar. Tapi di China, politik selalu mendominasi. Diplomasi adalah aktivitas 'kelas dua' dan menteri luar negeri biasanya tidak sekuat itu," kata pengamat di Pusat Analis China Asia Society Policy, Philippe Le Corre.
Sementara itu pengamat dari Royal United Services Institute di London, Sari Arho Havren, mengatakan kasus Qin merupakan contoh nyata bagaimana sistem beroperasi di China.
Menurutnya Partai Komunis jauh dari kata transparan dan jarang merilis informasi dalam situasi seperti ini, meskipun Qin tak muncul di publik selama beberapa waktu.
"Ketika menyangkut reputasi dan diplomasi China, kasus ini dianggap sebagai urusan internal partai. Menurut saya otoritas China tidak terlalu peduli mengenai bagaimana hal ini menyebar, atau terlihat ke luar," ungkap Sari.
Kini usai Qin dicopot, diplomat senior Wang Yi dipastikan akan kembali diangkat menjadi Menteri Luar Negeri China. Wang Yi sebelumnya juga menjabat sebagai menlu pada 2013 hingga 2022.
"Legislatif tinggi China memilih untuk menunjuk Wang Yi sebagai menteri luar negeri di sesi pada hari Selasa," demikian laporan kantor berita Xinhua.
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri ChinaQin Gangtiba-tiba dicopot dari jabatannya, setelah nyaris satu bulan tidak muncul di hadapan publik.
Qin Gang menghilang dari publik sejak 25 Juni lalu dan melewatkan beberapa acara penting, seperti pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Jakarta dan sejumlah kunjungan pejabat senior Amerika Serikat.
Selama satu bulan "hilang misterius", Beijing memilih bungkam tentang keberadaan Qin. China hanya menyebut ketidakhadiran Qin karena masalah kesehatan, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Para pengamat di China menyebut ketidakhadiran Qin di publik dalam waktu cukup panjang tampak menjadi hal memalukan bagi China.
Selain itu, ketidakmampuan Beijing untuk mengungkap secara jelas tentang alasan pencopotan Qin, justru semakin menimbulkan pertanyaan mengenai cara pengambilan keputusan di dalam tubuh pemerintahan China.
"Tampaknya pesan Beijing lebih menekankan bahwa Qin memiliki masalah kesehatan," kata direktur program China di Stimson Center Washington, dikutip dari SCMP.
Dia menambahkan, "Sedikit yang mempercayainya, tetapi bagi China memiliki penjelasan yang melekat dan dapat dipatuhi adalah hal penting."
Kementerian Luar Negeri China menyebut Qin terakhir kali terlihat di publik saat bertemu dengan diplomat senior dari Rusia, Vietnam, dan Sri Lanka pada 25 Juni.
Dia lalu dijadwalkan untuk bertemu dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pekan lalu. Namun Beijing tiba-tiba membatalkan pertemuan itu.
Pada tanggal 7 Juli, Kemlu China ditanyai tentang rumor alasan kesehatan Qin di balik pembatalan pertemuan itu. Namun jubir Kemlu Wang Wenbin hanya menjawab dengan mengatakan dia "belum mendengar tentang itu."
Lanjut di halaman berikutnya...
Teka-Teki Di Balik Pencopotan Menteri Luar Negeri China Qin Gang
Ilustrasi bendera China. Foto: AP/Suo Takekuma
Empat hari kemudian, Wang memberi kabar Qin juga tidak akan hadir pada pertemuan Menlu ASEAN di Jakarta, karena "alasan kesehatan".
Desas-desus mengenai keberadaan Qin pun akhirnya semakin berkembang dalam beberapa minggu terakhir, baik itu di media sosial dalam maupun luar negeri.
Satu hal menarik di tengah hilangnya Qin dari publik adalah pertanyaan dan komentar mengenai keberadaan Qin juga hilang dari situs web Kemlu China.
"Untuk negara lain, ini akan dianggap sebagai penghinaan diplomatik yang besar. Tapi di China, politik selalu mendominasi. Diplomasi adalah aktivitas 'kelas dua' dan menteri luar negeri biasanya tidak sekuat itu," kata pengamat di Pusat Analis China Asia Society Policy, Philippe Le Corre.
Sementara itu pengamat dari Royal United Services Institute di London, Sari Arho Havren, mengatakan kasus Qin merupakan contoh nyata bagaimana sistem beroperasi di China.
Menurutnya Partai Komunis jauh dari kata transparan dan jarang merilis informasi dalam situasi seperti ini, meskipun Qin tak muncul di publik selama beberapa waktu.
"Ketika menyangkut reputasi dan diplomasi China, kasus ini dianggap sebagai urusan internal partai. Menurut saya otoritas China tidak terlalu peduli mengenai bagaimana hal ini menyebar, atau terlihat ke luar," ungkap Sari.
Kini usai Qin dicopot, diplomat senior Wang Yi dipastikan akan kembali diangkat menjadi Menteri Luar Negeri China. Wang Yi sebelumnya juga menjabat sebagai menlu pada 2013 hingga 2022.
"Legislatif tinggi China memilih untuk menunjuk Wang Yi sebagai menteri luar negeri di sesi pada hari Selasa," demikian laporan kantor berita Xinhua.