Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah negara di Afrika banyak dipimpin oleh diktator hingga kini usai kelompok militer masing-masing negara melancarkan kudeta.
Guinea Ekuatorial adalah salah satu negara di Afrika yang memiliki kepala negara diktator terlama di dunia yang menjabat sejak 1979. Presidennya adalah Teodoro Obiang Nguema Mbasogo, eks pemimpin Garda Nasional Guinea yang kini berusia 81 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obiang dikenal sebagai diktator brutal karena kerap menindak oposisi yang berbeda pendapat dengan memenjarakan bahkan membunuh mereka. Obiang juga menyebut dirinya 'dewa' dengan segala kekuasaan atas manusia dan hal-hal lain.
Selain Guinea Ekuatorial, beberapa negara Afrika lain seperti Kamerun, Uganda, Eritrea, Kongo, hingga Rwanda juga dipimpin oleh diktator.
[Gambas:Video CNN]
Para pemimpin itu masing-masing Paul Biya (memerintah Kamerun 41 tahun sejak 1982), Yoweri Museveni (memerintah Uganda 37 tahun sejak 1986), Isaias Afwerki (memerintah Eritrea 30 tahun sejak 1993), Denis Sassou Nguesso (memerintah Kongo 26 tahun sejak 1997), dan Paul Kagame (memerintah Rwanda 23 tahun sejak 2000).
Banyak negara Afrika selama ini belum sepenuhnya menyentuh demokrasi. Meski beberapa negara sudah mengumumkan peralihan pemerintahan, namun faktanya praktik demokrasi masih jauh dari harapan.
Alasannya, karena para pemimpin di negara Afrika sebagian besar dipilih berdasarkan afiliasi etnis dan keturunan dengan penguasa sebelumnya.
"Dalam sejarahnya, negara-negara Afrika memang menjadi langganan kudeta. Ini karena proses demokratisasi tidak berjalan dan hanya bersifat artifisial," kata pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, kepada CNNIndonesia.com.
Persoalan pendidikan
Selain itu, kurangnya wawasan dalam teknologi dan pendidikan juga menjadi salah satu faktor Afrika, yang kaya akan sumber daya alam, menjadi ladang subur bagi para diktator.
Kondisi ini yang dibidik pihak asing, seperti Prancis dan Inggris, yang ingin mengeruk sumber daya alam Afrika. Kedua negara ini memang cukup memengaruhi negara-negara di Afrika karena pernah menjajah di sana.
Menurut profesor dari ilmu politik di Universitas Kyambogo Uganda, Sultan Kakuba, negara-negara Barat seperti ini memberikan dukungan bagi pemimpin kuat yang mau melayani mereka, demikian dikutip Anadolu Agency.
Pendapat ini juga senada dengan yang disampaikan peneliti senior di Media Review Network, Mustafha Mheta. Ia menilai "Prancis terlalu terlibat dalam urusan banyak negara Afrika Barat, dan masih ingin memanipulasi negara-negara ini serta terus memeras mereka."
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Taktik Hadiah dan Hukuman
Presiden Kamerun Paul Biya (kiri) bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Konferensi Rusia-Afrika. (AFP/ARTEM GEODAKYAN)
Sementara itu, Asisten Profesor Ilmu Politik di University of Connecticut, Yonatan Morse, mengatakan para diktator di Afrika bisa berkuasa, bahkan dengan sangat langgeng, karena mereka cerdik menggunakan taktik wortel dan tongkat untuk memanipulasi perpecahan etnis.
Wortel dan tongkat adalah metafora yang merujuk pada pemberian hadiah dan hukuman guna mendorong sikap tertentu.
"Kami sering berasumsi bahwa autokrasi di Afrika bertahan karena para penguasa dengan cerdik menggunakan hadiah dan hukuman, sebagian untuk memanipulasi perpecahan etnis untuk membentuk hasil pemilu," kata Morse dalam tulisannya yang dimuat di laman Democracy in Africa.
Morse juga mengatakan diktator atau autokrat di Afrika bisa memerintah karena kerap menggunakan "klientelisme dan etnisitas sebagai dasar kekuasaan politik."
Klientelisme adalah fenomena di mana para pemilih diberikan imbalan bantuan atau manfaat material apabila memberikan dukungan elektoral.
Para diktator ini mengandalkan etnis yang sama untuk meraup dukungan sehingga bisa memerintah di suatu negara. Di samping itu, mereka juga menggunakan kekerasan untuk mencegah kekalahan.
"Dalam kasus seperti Kamerun, autokrat hanya dapat membangun kembali dukungan pemilih dengan mengkooptasi kelompok etnis," ujar Morse.
Selain itu, diktator juga mempertahankan kekuasaan di balik partai politik yang besar. Menurut Morse, partai yang dibangun rezim otoriter ini menargetkan daerah pedesaan dan sengaja mendekat dengan rakyat dalam kegiatan sehari-hari mereka.
Tanzania merupakan salah satu contoh negara Afrika yang meraih dukungan lewat pengaruh partai. Di Tanzania, rezim sengaja membuat rakyat bergantung pada satu partai besar ketimbang pada individu perseorangan.