Mahathir kembali menjabat sebagai PM pada 2018 lewat koalisi Pakatan Harapan. Namun, peralihan kekuasaan tak pernah terjadi.
Mahathir mundur pada 2020 di tengah gejolak politik, dan Anwar harus menunggu dua tahun lagi sebelum akhirnya dilantik sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia pada 2022.
Kini, sejarah kembali berulang.
Mahathir dan Anwar kembali saling berseberangan, kali ini dengan Mahathir di posisi oposisi vokal terhadap orang yang dulu pernah ia percaya sebagai pewaris kekuasaannya.
Mantan Perdana Menteri Mahathir yang kini berusia 100 tahun, secara terbuka menyerukan agar Anwar mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Malaysia.
Dalam sebuah kampanye berjudul Himpunan Mandat Negarawan di Alor Setar pada (17/07), Mahathir menuduh Anwar tak layak memimpin negara.
Ia menilai Malaysia kini tengah dilanda berbagai krisis, dan Anwar telah gagal memberikan solusi.
"Saya sendiri mundur dari jabatan perdana menteri karena desakan partai. Sekarang, Anwar menghadapi tekanan yang lebih besar bahkan dari oposisi publik, jadi dia harus mundur sesegera mungkin," ujar Mahathir, dikutip dari The Rakyat Post.
Tak berhenti di situ, Mahathir juga mengunggah 11 poin seruan di platform X (dulu Twitter), pada 21 Juli 2025, yang intinya menuntut agar Anwar lengser.
Ia menuduh Anwar tidak terpilih langsung oleh rakyat, melakukan nepotisme, kronisme, hingga mempertanyakan keabsahan pengampunan yang diterimanya.
"Anwar tidak dipilih oleh rakyat. Ia kalah. Namun melalui koalisi dengan partai yang juga kalah, ia berhasil membentuk pemerintahan," tulis Mahathir.
Mahathir juga menyentil masa lalu, mengungkap bahwa pengampunan terhadap Anwar pada 2018 dilakukan atas saran yang ia terima saat menjabat kembali sebagai perdana menteri. Namun kini, ia mempertanyakan legalitas pengampunan itu.
"Anwar diampuni ketika saya jadi Perdana Menteri untuk kedua kalinya. Saya melakukan apa yang disarankan. Saya yakini itu benar saat itu. Tapi sekarang muncul keraguan."
Jawaban Anwar
Menanggapi desakan tersebut, Anwar menegaskan bahwa ia tidak akan mundur, kecuali jika parlemen mengesahkan mosi tidak percaya terhadapnya.
"Insya Allah, saya tidak akan mundur. Jika saya mencuri uang rakyat, mereka (oposisi) baru boleh mendesak saya mundur. Tapi saya tidak melakukannya," kata Anwar, dikutip New Straits Times, Sabtu (19/7).
Ia juga menepis tuduhan korupsi dan menegaskan semua kontrak pemerintah dilakukan melalui sistem tender terbuka dan transparan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Dari Sekutu Jadi Lawan Politik
PM Malaysia Anwar Ibrahim jawab desakan Mahathir Mohamad mundur dari jabatannya. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Sejarah Mahathir dan Anwar bukanlah cerita baru di panggung politik Malaysia.
Hubungan keduanya telah melalui berbagai fase, dari kawan dekat, menjadi musuh bebuyutan, lalu berdamai, dan kini kembali meregang.
Pada era 1980-an, Mahathir yang baru menjabat sebagai Perdana Menteri merekrut Anwar ke dalam UMNO.
Anwar yang saat itu dikenal sebagai aktivis Islam dan pejuang anti-kemiskinan dengan cepat menanjak dalam pemerintahan.
Dari Menteri Pertanian, Menteri Pendidikan, hingga Menteri Keuangan, karier Anwar terus memanjat.
Mahathir kembali menjabat sebagai PM pada 2018 lewat koalisi Pakatan Harapan. Namun, peralihan kekuasaan tak pernah terjadi.
Mahathir mundur pada 2020 di tengah gejolak politik, dan Anwar harus menunggu dua tahun lagi sebelum akhirnya dilantik sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia pada 2022.
Kini, sejarah kembali berulang.
Mahathir dan Anwar kembali saling berseberangan, kali ini dengan Mahathir di posisi oposisi vokal terhadap orang yang dulu pernah ia percaya sebagai pewaris kekuasaannya.