Sejumlah ledakan dahsyat terdengar di Caracas, ibukota Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengumumkan status darurat nasional, dan menuding Amerika Serikat (AS) di balik ledakan-ledakan di negaranya pada hari ini.
Maduro pun sudah meneken dekrit yang memungkinkan mobilisasi militer hingga rakyat untuk mempertahankan kedaulatan negara tersebut.
Mengutip dari Aljazeera, Reuters dan CNN, serangan yang terjadi dini hari waktu setempat itu ternyata bukan hanya terjadi di Caracas saja. Sejumlah negara bagian yakni Miranda, Aragua, dan La Guaira juga dilaporkan terjadi ledakan diduga serangan AS itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, serangkaian ledakan hebat dilaporkan mengguncang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari waktu setempat tadi.Berdasarkan sejumlah kesaksian, Reuters memberitakan sejumlah warga mendengar ledakan dan melihat asap hitam di beberapa penjuru kota Caracas mulai sekitar pukul 02.00 waktu setempat atau pukul 14.00 WIB.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang kian meruncing antara pemerintahan Presiden Nicolas Maduro dengan Amerika Serikat (AS).
Kantor berita The Associated Press melaporkan sedikitnya terdengar tujuh ledakan beruntun disertai suara pesawat yang terbang rendah di atas langit ibu kota negara itu.
Mengutip dari AFP, CNN, dan sejumlah media massa ternama di AS menyatakan militer Negeri Paman Sam itu berada di balik serangkaian serangan berujung ledakan di Caracas akhir pekan ini.
Namun, hingga berita ini ditulis sekitar pukul 15.54 WIB, baik kantor presiden AS alias Gedung Putih, maupun Kemenhan AS atau Pentagon belum memberikan pernyataan resmi. Mengutip dari AFP, media massa di AS seperti CBS News dan Fox News, melaporkan bahwa pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang tak mau disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa militer negaranya terlibat dalam serangan di Caracas.
Sementara itu, Maduro telah menetapkan keadaan darurat usai ibu kota Caracas diserang yang berujung meledaknya sejumlah fasilitas di ibu kota negaranya.
"Republik Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional atas agresi militer berat yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah Venezuela dan penduduknya di Caracas," demikian pernyataan pemerintahan Maduro dikutip dari kantor berita Venezuela, AVN.
Selain itu, Maduro memerintahkan Komando Pertahanan Komprehensif Venezuela serta badan-badan pemerintahan di seluruh negara bagian ikut terjun membela negara.
Mengutip dari AFP, pemerintahan Maduro juga memanggil 'mobilisasi' rakyat Venezuela setelah serangan AS itu untuk mempertahankan kedaulatan negara mereka.
"Pemerintah Venezuela meminta mobilisasi populasi setelah serangan AS," demikian diwartakan AFP.
Aktivasi pertahanan semesta itu dilakukan setelah Maduro menandatangani perintah pelaksanaan "Dekrit yang menyatakan Keadaan Gangguan Eksternal".