Senator Amerika Serikat (AS) asal Hawaii, Brian Schatz mengecam aksi Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyerangan militer ke Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Hal itu disampaikan X lewat akun media sosial X miliknya, Sabtu siang ini.
Schatz yang juga anggota Komite Senat untuk Hubungan Luar Negeri itu memperingatkan bahwa AS tak memiliki kepentingan nasional yang menjadi justifikasi aksi militer ke Venezuela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita seharusnya sudah belajar untuk tidak terjebak dalam petualangan bodoh lainnya. Dan dia bahkan tak merasa perlu untuk memberitahu rakyat Amerika apa yang sebenarnya terjadi," kata Schatz yang dikutip CNN sebagai kecaman pada Trump atas serangan ke Venezuela.
CNN mewartakan bahwa Schatz adalah salah satu anggota Senat pertama AS yang merespons aksi militer Trump ke Venezuela hari ini.
Usai unggahan itu, Schatz juga menggungah ulang akun lain yang menunjukkan meme menyindir pendukung Trump, 'War is Good Now'.
Lihat Juga : |
Sebelumnya, sejumlah ledakan dahsyat terdengar di Caracas, ibukota Venezuela pada Sabtu dini hari waktu setempat. Presiden Venezuela Nicolas Maduro lewat pernyataan resmi kepresidenan telah mengumumkan status darurat nasional, dan menuding AS di balik ledakan-ledakan di negaranya pada hari ini.
Maduro pun sudah meneken dekrit yang memungkinkan mobilisasi militer hingga rakyat untuk mempertahankan kedaulatan negara tersebut.
Mengutip dari Aljazeera, Reuters dan CNN, serangan yang terjadi dini hari waktu setempat itu ternyata bukan hanya terjadi di Caracas saja. Sejumlah negara bagian yakni Miranda, Aragua, dan La Guaira juga dilaporkan terjadi ledakan diduga serangan AS itu.
Sebelumnya, serangkaian ledakan hebat dilaporkan mengguncang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari waktu setempat tadi.Berdasarkan sejumlah kesaksian, Reuters memberitakan sejumlah warga mendengar ledakan dan melihat asap hitam di beberapa penjuru kota Caracas mulai sekitar pukul 02.00 waktu setempat atau pukul 14.00 WIB.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang kian meruncing antara pemerintahan Presiden Nicolas Maduro dengan AS di bawah kendali Trump.
Kantor berita The Associated Press melaporkan sedikitnya terdengar tujuh ledakan beruntun disertai suara pesawat yang terbang rendah di atas langit ibu kota negara itu.
Mengutip dari AFP, CNN, dan sejumlah media massa ternama di AS menyatakan militer Negeri Paman Sam itu berada di balik serangkaian serangan berujung ledakan di Caracas akhir pekan ini.
"Republik Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional atas agresi militer berat yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah Venezuela dan penduduknya di Caracas," demikian pernyataan pemerintahan Maduro dikutip dari kantor berita Venezuela, AVN.
Selain itu, Maduro memerintahkan Komando Pertahanan Komprehensif Venezuela serta badan-badan pemerintahan di seluruh negara bagian ikut terjun membela negara.
Mengutip dari AFP, pemerintahan Maduro juga memanggil 'mobilisasi' rakyat Venezuela setelah serangan AS itu untuk mempertahankan kedaulatan negara mereka.
"Pemerintah Venezuela meminta mobilisasi populasi setelah serangan AS," demikian diwartakan AFP.
Aktivasi pertahanan semesta itu dilakukan setelah Maduro menandatangani perintah pelaksanaan "Dekrit yang menyatakan Keadaan Gangguan Eksternal".
Terpisah, Trump mengumumkan bahwa pasukan militer AS telah berhasil menangkap Maduro bersama istrinya dan dibawa keluar dari wilayah Venezuela.
Pengumuman penangkapan ini menandai puncak dramatis dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kursi pemerintahan di Venezuela.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa AS telah melakukan 'serangan skala besar terhadap Venezuela'. Ia menekankan operasi militer ini dilakukan 'bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS'.
"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya.
Sementara itu belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela. Mengutip dari Reuters, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez pada Sabtu pagi di stasiun televisi negara itu mengaku tak tahu keberadaan Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Serangan AS itu pun mendapatkan kecaman keras dari negara-negara di kawasan Amerika lainnya seperti Kuba dan Kolombia. Kolombia, mengutip dari AFP, bahkan telah mengerahkan pasukan militer ke perbatasan dengan Venezuela.
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan telah memerintahkan pengerahan pasukan militer ke perbatasan Venezuela menyusul "serangan AS. Petro menggambarkan tindakan Washington sebagai "serangan terhadap kedaulatan" Amerika Latin dan mengatakan bahwa tindakan tersebut akan mengakibatkan krisis kemanusiaan.
(kid)