Alireza Arafi Gantikan Sementara Khamenei Jadi Pimpinan Tertinggi Iran

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 20:06 WIB
Iran telah menunjuk ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan mengambil alih tugas mendiang Khamenei sementara.
Iran telah menunjuk ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan mengambil alih tugas mendiang Khamenei sementara. (Foto: AFP/HANDOUT)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran telah menunjuk ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei.

CBS mengutip laporan kantor berita mahasiswa Iran ISNA, menyatakan Arafi akan memimpin bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei dalam Dewan Kepemimpinan sementara itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dewan ini akan memimpin negara untuk sementara Iran melakukan transisi kepemimpinan dan memilih penerus Khamenei.

"Dewan Penilaian Kepentingan Nasional telah memilih Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota dewan kepemimpinan sementara," kata juru bicara dewan tersebut, Mohsen Dehnavi, dalam sebuah posting di X, melansir AFP, Minggu (1/3).

Dewan sementara, yang beranggotakan presiden dan kepala kekuasaan yudisial, ini akan memimpin negara hingga Majelis Ahli memilih pemimpin permanen secepat mungkin.

Melansir Al Jazeera, Arafi yang berusia 67 tahun ini, merupakan anggota Dewan Pengawas yang nantinya akan memilih pemimpin tertinggi pengganti Khamenei.

Pengangkatan Arafi menandai transisi kepemimpinan tertinggi kedua sejak Revolusi Islam 1979, menguji kemampuan politik Iran untuk menjaga kohesi.

Berikut merupakan profil Ayatollah Alireza Arafi yang secara tidak langsung merupakan salah satu pemimpin tertinggi yang mengontrol untuk mengisi kekosongan sementara kursi pemimpin tertinggi.

Siapa Ayatollah Alireza Arafi?

Dilansir First Post, Ayatollah Alireza Arafi, lahir pada 1959 di Meybod, provinsi Yazd. Arafi berasal dari keluarga ulama dan menghabiskan puluhan tahun belajar di lembaga teologi serta birokrasi Iran.

Ia menempuh pendidikan di Qom di bawah bimbingan ulama terkemuka dan meraih gelar mujtahid, yang memberinya hak mengeluarkan fatwa secara independen.

Kariernya berkembang di bawah kepemimpinan Khamenei, yang memberinya berbagai posisi penting, termasuk memimpin salat Jumat di Meybod dan Qom.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga menjabat sebagai ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, pusat pelatihan ulama dari dalam dan luar Iran.

Pada 2019, Arafi diangkat menjadi anggota Dewan Penjaga yang berpengaruh, yang bertugas mengawasi undang‑undang dan calon dalam pemilu di Iran.

Jabatan itu menempatkannya di antara elit ulama yang berperan penting dalam menjaga kesinambungan hierarki keagamaan negara itu.

Peran politik Arafi

Berdasarkan konstitusi, Pemimpin Tertinggi Iran harus seorang ulama Syiah senior yang dipilih Majelis Pakar, badan yang terdiri dari para cendekiawan agama.

Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk untuk menjalankan fungsi penting hingga Majelis menentukan pengganti tetap.

Posisi Arafi di Dewan Penjaga dan Majelis memberikan pengaruh besar dalam proses suksesi, bersaing dengan kandidat ulama garis keras maupun pragmatis.

Tantangan kepemimpinan Arafi

Arafi menekankan peran seminari dan ulama dalam politik, solidaritas dengan kaum tertindas, dan pandangan internasional.

"Seminari harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis, revolusioner, dan berwawasan internasional," ujarnya.

Meski memiliki kredibilitas tinggi di kalangan elit, Arafi relatif tidak memiliki basis politik independen, yang bisa mempengaruhi kepemimpinannya di tengah konflik eksternal dan ketidakstabilan internal.

(rnp/rds)


[Gambas:Video CNN]