Mengupas Partai Sayap Kanan Israel, Sekutu Kuat PM Netanyahu
Partai kecil
Israel juga memiliki sejumlah partai kecil, namun karena ideologinya yang keras partai-parti ini memiliki pendukung bahkan berkoalisi.
Beberapa pemimpin partai ini bahkan sangat vokal bersuara dengan nada rasis, seperti Bezalel Smotrich atau Gideon Sa'ar.
Zionis Religius (HaTzionut HaDatit)
Partai Ortodoks sayap kanan garis keras ini menentang konsesi teritorial kepada Palestina dan dipimpin oleh Bezalel Smotrich, seorang tokoh kontroversial yang menentang hak-hak kaum gay dan membuat pernyataan provokatif tentang pencabutan kewarganegaraan warga Arab Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi)
Didirikan pada tahun 2012, partai ini berhaluan Zionis Religius dan dikenal memiliki pandangan Kahanis serta anti-Arab. Dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, partai ini menentang pembentukan negara Palestina dan secara terbuka menganjurkan aneksasi Tepi Barat.
Menurut laman Institute for Middle East Understanding, ini adalah partai fasis dan rasis yang terang-terangan, terdiri dari pengikut mendiang Meir Kahane , yang partainya, Kach, dilarang dari politik Israel pada tahun 1988 karena rasisme yang sangat kuat dan dianggap organisasi teroris menurut AS.
Partai dan kandidatnya menganjurkan pembersihan etnis Palestina dari Israel dan wilayah pendudukan.
Platformnya (dalam bahasa Ibrani) menyerukan pembentukan "otoritas nasional untuk mendorong emigrasi" warga Palestina. Selama kampanye pemilihan 2019 dan 2020, para pemimpin Jewish Power, Michael Ben-Ari (mantan anggota Knesset dari National Union), Baruch Marzel, dan Bentzi Gopstein dilarang oleh Mahkamah Agung mencalonkan diri karena sejarah panjang mereka.
Harapan Baru (New Hope)
Didirikan pada tahun 2020 oleh Gideon Sa'ar, seorang pembelot dari Likud, partai ini mencakup beberapa mantan anggota Likud lainnya yang sebagian besar memiliki ideologi politik yang sama dengan partai tersebut tetapi menentang Netanyahu.
Akankah berubah?
Israel akan mengadakan pemilu legislatif Oktober mendatang untuk memilih 120 anggota Kneset.
Apakah dominasi Netanyahu akan tumbang?
Para analisi, seperti dilansir laman theguardian, menghadapi prospek bertarung melawan koalisi super sayap kanan-sentris, setelah dua rival politiknya yang paling tangguh menggabungkan kekuatan dalam upaya untuk menggulingkannya.
Dalam langkah yang oleh beberapa analis dibandingkan dengan koalisi kanan-tengah yang menggulingkan Viktor Orbán dari kekuasaan di Hongaria, mantan perdana menteri - Naftali Bennett yang berhaluan kanan dan Yair Lapid yang berhaluan tengah - mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan penggabungan partai mereka, Yamina dan Partai Yesh Atid (Ada Masa Depan).
Langkah itu diambil setelah Netanyahu mengungkapkan bahwa ia baru-baru ini menjalani operasi pengangkatan tumor ganas dari prostatnya, yang menimbulkan pertanyaan tentang waktu pengungkapan yang tidak jelas detailnya dan kesehatannya secara keseluruhan, yang kemungkinan besar akan menjadi isu pemilihan.
"Kita berdiri di sini bersama demi anak-anak kita. Negara Israel harus mengubah arah," kata Lapid sambil berdiri di samping Bennett pada konferensi pers bersama April lalu.
Bennett mengatakan partai baru itu akan bernama Bersama dan dia akan menjadi pemimpinnya. "Setelah 30 tahun, sudah saatnya berpisah dengan Netanyahu dan membuka babak baru bagi Israel," katanya.
Naftali Bennett dan Yair Lapid sebelumnya pernah bergabung, meskipun koalisi mereka berumur pendek. Bennet juga mengundang Gadi Eisenkot, mantan kepala staf Angkatan Pertahanan Israel dan pemimpin partai Yashar, untuk bergabung dengan mereka.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa gabungan ketiga partai tersebut akan menciptakan kelompok terbesar di Knesset.
Sebagai indikasi skala tantangan bagi Netanyahu, jajak pendapat baru-baru ini untuk surat kabar Maariv menunjukkan partai Bennett imbang dengan Likud Netanyahu dengan 24 kursi Knesset, sementara Yesh Atid milik Lapid akan menerima tujuh kursi dan Yashar milik Eisenkot 12 kursi.
Namun, sifat politik koalisi Israel kemungkinan akan menyebabkan Bennett kehilangan sebagian dukungan dalam kemitraan apa pun dengan Lapid, kehilangan pemilih Likud yang kecewa dan sangat menentang Lapid.
Sejak masa jabatan pertamanya pada tahun 1990-an, Netanyahu telah menjadi sosok yang kontroversial di dalam dan luar negeri.
Bennett dan Lapid pernah bergabung sebelumnya, mengakhiri masa jabatan Netanyahu yang berlangsung selama 12 tahun berturut-turut dalam pemilihan umum 2021, hanya untuk membentuk pemerintahan koalisi yang, dengan mayoritas tipis dan sangat terpecah belah atas isu-isu seperti konflik Israel-Palestina, hanya bertahan kurang dari 18 bulan.
Namun meski nanti Netanyahu tersingkir, bukan berarti Israel akan mengubah kebijakan politiknya terutama terkait Palestina.
Sebab baik Bennet maupun Lapid sama-sama politikus garis keras yang anti kemerdekaan Palestina dan mendukung penguasaan Tepi Barat. Bagi para politikus kanan Israel itu, tak ada Palestina.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


