KILAS INTERNASIONAL

Partai Arab Ogah Gabung Eisenkot sampai Ancaman Perang Baru AS-Iran

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 06:15 WIB
Hasil pemilu Israel yang mentok membuat partai PM petahana, Benjamin Netanyahu, dan rivalnya, Gadi Eisenkot, harus melobi partai lain agar cukup membentuk pemerintahan. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkembangan hasil pemilu Israel hingga ancaman perang baru antara Amerika Serikat vs Iran menjadi sorotan selama akhir pekan.

Berikut kilas berita internasional selama akhir pekan:

Partai Arab Ogah Gabung Koalisi Eisenkot, Lebih Dukung Depak Netanyahu

Partai Arab, Joint List memilih untuk tak bergabung dengan koalisi Gadi Eisenkot yang berupaya membentuk pemerintahan. Namun, mereka menyatakan bakal mendukung blok tersebut dari luar agar Benjamin Netanyahu tak lagi duduk di kursi perdana menteri.

Ketua Joint List Ahmad Tibi mengatakan tak ingin pemerintah potensial dalam hal ini Eisenkot kesulitan membentuk koalisi karena penolakan dari partai sayap kanan terhadap partai Arab.

"Kami tak akan menjadi bagian dari pemerintahan. Proses koalisi (kami ingin) lebih mudah bukan sulit," kata Tibi dalam wawancara Meet the Press, Sabtu (31/10) melansir dari Jerusalem Post.

Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Panjang Usai Diancam Trump

Iran memperingatkan perang baru melawan Amerika Serikat (AS) bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya.

Peringatan itu disampaikan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan masih ada sejumlah target yang harus 'ditangani'.

"Perang yang mungkin terjadi di masa depan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Presiden Amerika Serikat tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu ataupun syarat berakhirnya perang tersebut," kata juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia melalui televisi pemerintah Iran, dikutip AFP, Minggu (1/11).

Menlu Arrmanatha di G20: Tak Ada Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Perdamaian

Menteri Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan kestabilan kawasan demi keberlangsungan perekonomian dunia dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM)G20 di Atlanta, Amerika Serikat.

"Dalam sesi pleno pertama Pertemuan Menteri Luar Negeri (FMM) G20 di Atlanta, saya menegaskan bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa perdamaian dan stabilitas," ujar Arrmanatha melalui akun Instagram miliknya, Sabtu (31/10).

Arrmanatha kemudian menyoroti konflik yang terjadi di Selat Hormuz, Laut Hitam, maupun Laut Merah telah mengganggu arus perdagangan global serta mengancam ketahanan energi dan pangan dunia.

Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan itu, tetapi juga berimbas luas kepada masyarakat internasional.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK