Ada Gunawan yang kehilangan pelanggan untuk jasa perbaikan perangkat elektroniknya. Iwan Setiawan yang terpaksa meminjam uang dari rentenir untuk modal dagang sotonya. Dan Hendri Yaneppi, dengan beban lebih berat dibandingkan dengan kehidupan sebelum pindah ke Rusunawa Jatinegara Barat.
“Yang bilang enak tinggal di rusun, berantem sama saya,” kata Gunawan.
“Kayak kendaraan taksi aje,” kata Iwan. “Tahu sendiri naik taksi, buka pintu ada argonya. Kami mikir ke situ tiap bulannye.”
Sebagian warga Kampung Pulo menagih janji Joko Widodo saat menjadi gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu, sebelum penggusuran dilakukan. (CNN Indonesia/Anugerah Perkasa) |
Tetapi kali ini, Jokowi bisa jadi masih memikirkan hal lain.
Dia menginginkan Indonesia justru mampu menunjukkan kondisi perekonomian—yang tak terpuruk—saat menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia pada 2018 kelak.
Keinginan itu bisa jadi, tak akan bergema di gang-gang kecil dan rumah-rumah yang berhimpitan di Kampung Pulo. Juga, di sudut-sudut Rusunawa Jatinegara Barat.
“Kalau tahun ini kami diusir,” kata Hendri Yaneppi, “Mau tinggal di mana?” (asa)
Sebagian warga Kampung Pulo menagih janji Joko Widodo saat menjadi gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu, sebelum penggusuran dilakukan. (
Satpol PP menggunakan alat berat saat penggusuran dilakukan di Kampung Pulo. (
Pendapatan Hendri Yaneppi kian tak menentu setelah dirinya tinggal di rusun usai penggusuran terjadi pada 2015. (
Iwan Gunawan kesulitan mendapatkan modal usaha untuk menjajakan sotonya kembali. (