Djarot Kritik Pidato Anies soal Kemiskinan Ekstrem di Jakarta

Abi Sarwanto | CNN Indonesia
Rabu, 05 Apr 2017 03:12 WIB
Menurut Djarot, persoalan bukan terletak pada tingkat kemiskinan, melainkan pada tingginya kesenjangan antara kelompok miskin dengan kelompok kaya di Jakarta. Dua ibu menggendong anaknya menyusuri jalan di pemukiman bawah jembatan layang tol Pluit, Jakarta. Djarot mengakui angka ketimpangan di Jakarta masih sangat tinggi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Djarot Saiful Hidayat mengkritik pidato calon gubernur Anies Baswedan soal kemiskinan di Jakarta. Menurut Djarot, permasalahan di ibu kota sebenarnya terletak pada kesenjangan pendapatan, bukan pada kemiskinan seperti yang disorot oleh Anies dalam pidatonya kemarin malam. 

"Kesenjangan makin tinggi karena orang-orang yang super kaya itu numpuk semua di Jakarta, yang miskin juga banyak. Jadi gabung, ya pasti sangat ekstrem. Biaya hidupnya juga tinggi," kata Djarot usai blusukan di Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur, Selasa (4/4).

Calon wakil gubernur nomor urut tiga itu mengatakan problem kemiskinan di Jakarta tak separah yang gambarkan Anies. Sebab, kata Djarot, angka kemiskinan di Jakarta paling rendah se-Indonesia yakni sebesar 3,5 persen.
Yang menjadi persoalan adalah kesenjangan. Djarot mengatakan, untuk mempersempit kesenjangan tersebut diperlukan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan memberikan subsidi kepada warga yang tidak mampu.


"Supaya biaya hidup mereka turun. Apa yang kami bisa subsidi langsung? Transportasi, kemudian sembako, pendidikan, kesehatan," kata Djarot.

Pernyataan Djarot tersebut jelas berseberangan dengan pidato Anies di Hotel Dharmawangsa, kemarin.
Dalam pidatonya Anies bercerita, ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dirinya telah banyak mengunjungi wilayah pelosok yang masuk dalam kategori miskin.

Namun, ketika menjalani kampanye sebagai calon gubernur selama tujuh bulan, Anies mengaku menemui kemiskinan yang ekstrem di Jakarta.

"Sebelum di sini, saya bekerja di pelosok-pelosok, rasanya saya sudah lihat kemiskinan. Tapi di Jakarta, saya melihat kemiskinan dalam kesempitan, dalam polusi, dalam ketimpangan," kata Anies dalam pidatonya.
Situasi itu menurut Anies tak sepadan dengan status Jakarta sebagai pusat perekonomian negara.

Anies kemudian merujuk pada data statistik. Ia mengakui jumlah orang miskin di Jakarta berada di angka 380 ribu jiwa. Namun, angka tersebut akan bertambah jika indikator kemiskinan dilihat dari warga yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta per bulannya.

"Kalau angkanya di bawah Rp 1 juta penghasilannya, angka kemiskinannya bisa menjadi 3,3 juta jiwa," kata Anies.

TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER