Pilot senior Garuda Stephanus Gerardus Setitit menyatakan Badan SAR Nasional harus segera menemukan keberadaan QZ8501 sebelum baterai ELT habis. "Setelah 2 x 24 jam, baterai ELT habis dan tak bisa memancarkan sinyal lagi," kata Stephanus kepada CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Plt Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo sebagai Ketua Krisis Center QZ8501 menegaskan bahwa pesawat tersebut masih berstatus hilang. Ia berharap pesawat mendarat di satu tempat. Pasalnya, tak mungkin pesawat itu terus-menerus terbang karena keterbatasan bahan bakar. (Baca: Bahan Bakar Habis Jika Pesawat Masih Terbang)
Sebelumnya, Deputi Operasi Basarnas Tatang Zaenudin menduga ELT pada QZ8501 rusak atau tak berfungsi dengan baik. Padahal seharusnya dalam keadaan darurat, ELT memancarkan sinyal darurat yang bisa ditangkap oleh Kantor Basarnas dan bandara-bandara terdekat. "Saya cek ke Australia, Singapura, Vietnam, juga tidak ada (sinyal darurat)," kata dia.
Fokus pencarian pagi ini berada di perairan antara Pontianak dan Tanjung Pandang. Tim gabungan mengerahkan pesawat, kapal laut, hingga helikopter. Pencarian juga dilakukan dengan menyisir daratan di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.