"Data cuaca sudah kami berikan. Jika mau terbang harus mempertimbangkan itu. Tapi cuaca bisa berubah setiap saat," kata Direktur Utama AirNav Indonesia, Ignatius Bambang Tjahjono, saat ditemui di Kantor Otoritas Bandara Wilayah 1 Soekarno-Hatta, Senin (29/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui di atas pesawat AirAsia, pada lokasi ketinggian yang diminta oleh pilot Irianto untuk menaikkan pesawat, yakni 38 ribu kaki, ada satu pesawat Garuda Indonesia. "Petugas sedang mencari tahu, Garuda mau ke mana. Tapi tak lama kemudian, sudah hilang kontak dengan AirAsia," kata Bambang. (Baca AirNav: Kalau Diizinkan Naik, AirAsia Bisa Tabrak Garuda)
Koordinator Mitigation, Rescue and Conservation MRC Community A. Lesto P. Kusumo mengatakan awan kumulonimbus merupakan musuh utama pilot. Beberapa awan kumulonimbus memiliki pusaran dan turbulensi yang sangat kuat, ditandai dengan kilatan petir di inti awan sehingga pesawat yang terjebak akan terhisap dan hancur berkeping-keping.
Tak hanya itu, pesawat yang terjebak di awan tersebut bisa terhempas cukup kuat sehingga sistem kelistrikan pesawat akan mati. "Dalam cuaca ekstrem di Indonesia, awan menara ini berbentuk tunggal dan bahkan menjadi satu kelompok awan," kata Lesto seperti dikutip dari situs bpbd.jakarta.go.id.
Sebelumnya, Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Djoko Murjatmodjo, mengatakan cuaca di lokasi saat pesawat hilang kontak memang buruk. Ini berbeda dengan cuaca cerah saat pesawat lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya. Djoko menegaskan, cuaca memang bisa berubah setiap saat.