Program Ahok

Tahun Depan, Kartu Jakarta Pintar Tak Lagi Dicairkan Tunai

Donatus Fernanda Putra, CNN Indonesia | Selasa, 30/12/2014 12:26 WIB
Tahun Depan, Kartu Jakarta Pintar Tak Lagi Dicairkan Tunai Warga menunjukan Kartu Jakarta Pintar (KJP) seusai mengantre di depan Bank DKI untuk mencairkan dana KJP di Bank DKI cabang Dewi Sartika, Jakarta, Selasa (9/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono_
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyampaikan, mulai 2015 dana dalam Kartu Jakarta Pintar (KJP) tak lagi dapat dicairkan dalam bentuk tunai. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan uang oleh oknum orang tua murid.

"Dulu dana KJP lama turun karena APBD terlambat orang tua murid marah-marah. Tapi begitu cair, uangnya dipakai untuk beli handphone baru. Tahun depan dana 600 hingga 800 ribu itu tidak bisa lagi dicairkan kontan supaya betul-betul digunakan siswa yang tidak mampu," kata Ahok di acara 'Deklarasi Sekolah yang Indah, Damai dan Anti Korupsi se-Jakarta' di kawasan Monas, Selasa (30/12) pagi.

Ahok menilai, dana yang dicairkan secara tunai rawan disalahgunakan. Padahal, seharusnya dana KJP digunakan untuk keperluan sekolah. Dia juga menganggap perilaku ini sebagai bentuk korupsi yang harus segera diberantas.


Untuk itu, menurut Ahok, penyaluran dana KJP akan dilakukan secara online dan otomatis dengan menggunakan mesin debet. Saat membutuhkan buku misalnya, siswa juga bisa datang ke Jakarta Book Fair dan saat membayar dapat menggunakan KJP yang dimilikinya. Sisa saldo yang ada di KJP juga, dikatakan Ahok, juga dapat menjadi simpanan bagi siswa yang kurang mampu. 

"Kantin di sekolah nanti diwajibkan ada mesin debet. Jadi siswa yang punya KJP tinggal tap kartunya. Nanti kan kelihatan siswa makannya sehari berapa, kalau sekali makan Rp 50 ribu bukan miskin namanya," ucap Ahok.

Dana KJP yang tidak lagi bisa dicairkan secara tunai, bagi Ahok, juga sebagai upaya pendidikan anti korupsi bagi siswa sekolah. Jika dulu siswa diharuskan menunjukkan kuitansi pembelian keperluan sekolah untuk mencairkan dana, maka nantinya kuitansi itu tidak lagi diperlukan.

"Dulu ada yang bikin kuitansi palsu untuk beli sepatu, padahal sepatunya masih baik, hanya supaya dananya cair. Itu kan mendidik anak untuk korupsi," ujar mantan Bupati Belitung Timur ini.

Di kesempatan yang sama, Ahok juga berpesan kepada seluruh siswa sekolah se-Jakarta agar menjauhi berbagai macam bentuk tindakan korupsi.

"Tunjukkan bahwa anak-anak muda lebih berintegritas daripada oknum guru maupun orangtua yang melakukan korupsi," ucap Ahok.