Namun tim investigasi KNKT menyatakan kotak hitam bukan hal utama dalam menganalisis penyebab kecelakaan pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura tersebut.
"Black box memang penting, tapi bukan segalanya. Dibutuhkan data lain seperti reruntuhan pesawat untuk mengkonfirmasi data black box," kata investigator KNKT kasus AirAsia untuk Surabaya, FX Nurcahyo Utomo, kepada CNN Indonesia, Selasa (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka menjadi sangat penting mengumpulkan debris (puing) pesawat sebanyak mungkin untuk konfirmasi data dari black box," kata Nurcahyo.
Hari ini Tim KNKT Jakarta berencana mengunduh data dari FDR. Beberapa personel dari KNKT Perancis beserta personel dari Airbus selaku produsen pesawat AirAsia juga turut mendampingi tim KNKT Jakarta. QZ8501 merupakan Airbus jenis A 320-200.
"Ada ahli pembaca kotak hitam yang didatangkan oleh Tim KNKT Perancis," ujar Nurcahyo.
Ia optimistis pengunduhan dan pembacaan data dari kotak hitam akan berjalan lancar. Sebab selain kondisi kotak yang masih cukup baik, Tim KNKT Indonesia juga sudah punya fasilitas sendiri untuk membaca kotak hitam.
"Tim KNKT Indonesia sudah banyak berhasil baca kotak hitam kok. Misalnya kotak hitam milik pesawat Merpati Nusantara Airlines MA 60 yang jatuh di Teluk Kaimana dan pesawat Sukhoi yang kotak hitamnya terbakar," kata Nurcahyo.
Pesawat QZ8501 hilang pada Minggu pagi (28/12) dalam rute penerbangan dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Singapura. Pesawat itu membawa 155 penumpang yang mayoritas merupakan warga negara Indonesia, serta tujuh kru.
Selain FDR, Cockpit Voice Recorder (CVR) AirAsia QZ8501 juga akan diangkat dari laut hari ini. Sinyal CVR tertangkap berasal dari lokasi yang tak jauh dari penemuan FDR. CVR dan FDR merupakan dua bagian kotak hitam pesawat. CVR memuat percakapan di kokpit pesawat, sedangkan FDR memuat data penerbangan.
(utd/agk)