Dewan Pertimbangan Presiden

NasDem Usulkan Jan Darmadi Isi Wantimpres

Hafizd Mukti, CNN Indonesia | Senin, 19/01/2015 07:09 WIB
NasDem mengklaim tak pernah meminta jatah kursi Wantimpres. Sebagai partai koalisi pemerintah, NasDem yang diminta mengusulkan nama oleh presiden. Ketu Umum Partai NasDem Surya Paloh (paling kanan). (CNN Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai yang tergabung Koalisi Merah Putih, NasDem telah mengajukan satu nama untuk posisi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ketua Majelis Tinggi NasDem Jan Darmadi diusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk mengisi satu di antara sembilan kursi yang ada.

"Wantimpres dari NasDem sudah diusulkan Pak Jan Darmadi," kata Surya Paloh kepada CNN Indonesia, Ahad (18/1).

Menurut Surya, pihaknya tidak pernah meminta kepada Presiden Jokowi untuk memberikan jatah kursi Wantimpres. NasDem, termasuk partai koalisi, diminta mengusulkan nama oleh presiden.


"Saya rasa yang paling tepat untuk menduduki jabatan dan posisi itu Pak Jan. Tapi belum ada keputusan dari presiden," jelas Surya.

Jan Darmadi adalah salah satu pengusaha sukses dan senior pemilik PT Jakarta Setiabudi International Tbk yang bergerak di bidang properti dengan basis bisnis di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Masa Orde Baru, Jan termasuk pengusaha yang mampu bertahan sebagai non-partisan.

Suatu keberhasilan bagi Surya Paloh untuk meyakinkan Jan masuk di dunia politik yang langsung mendapatkan jabatan vital di tubuh NasDem, sesaat setelah Hary Tanoesoedibjo terlempar dari NasDem 2013 lalu.

Sebelum nama Jan dikemukakan, dua tokoh dijagokan mengisi kursi Wantimpres. Mereka adalah Sidarto Danusubroto dan Ginandjar Kartasasmita. Nama Sidarto muncul dari kalangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sementara nama Ginandjar disebut langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu.

Sidarto merupakan mantan Ketua MPR. Pria yang kini duduk sebagai anggota Dewan Kehormatan PDIP itu menjabat sebagai ketua MPR dari 2013 hingga 2014. Ia ditunjuk menggantikan ketua MPR sebelumnya, Taufiq Kiemas, yang meninggal sebelum menghabiskan masa kerjanya.

Berbeda dengan Sidarto, Ginandjar lebih populer sebagai ekonom. Jabatan strategis di bidang ekonomi pernah disandangnya, antara lain menteri koordinator bidang perekonomian dan kepala badan perencanaan pembangunan nasional. Hingga 19 Januari mendatang, Ginandjar masih menjabat anggota Wantimpres yang dibentuk era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Satu nama lagi keluar dari Partai Hanura, namun hingga kini Ketua Umum Hanura Wiranto belum mau menyebutkan usulan partanya. "Ada, satu saja. Yang jelas bukan saya," kata Wiranto baru-baru ini. (pit/pit)