"Menurut pengamatan saya, persoalan hukum hanya di permukaan saja. Namun secara tersembunyi ada faktor politik yang bergerak sangat cepat," kata Bambang Widodo kepada CNN Indonesia, Selasa (27/1). Persoalan hukum yang ia maksud adalah pelaporan seluruh pimpinan KPK ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.
Bambang Widodo mengatakan konflik sudah berada pada tataran masif, sistematis, dan bergulir cepat. Sejauh ini, sudah ada tiga pimpinan KPK yang dilaporkan ke Bareskrim Polri, yakni Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dan Ketua KPK Abraham Samad. Sebaliknya dari Kepolisian, calon tunggal Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus rekening gendut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Adnan Pandu Praja dilaporkan atas dugaan pemalsuan akta notariat dalam saham PT Desy Timber di Erau, Kalimantan Timur. Ia dituduh mengambil paksa saham perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di Berau, Kalimantan Timur itu pada tahun 2006, saat menjadi penasihat hukum untuk PT Desy Timber.
Terakhir, Zulkarnain, Rabu esok (28/1) dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait dugaan korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur tahun 2008.
Sementara di KPK, calon Kapolri Komjen Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penerimaan gratifikasi dan hibah, serta indikasi rekening gendut.
Terkait 'perang' KPK-Polri tersebut, Bambang Widodo mengatakan Presiden Jokowi mesti bersikap cepat, sebab ia memprediksi persoalan antara KPK dan Polri saat ini tidak akan selesai dengan sendirinya, melainkan akan terus membesar dan menjadi kekacauan masif yang ujung-ujungnya berdampak pada kelumpuhan dan ketidakberdayaan seorang Presiden.
"Kondisi ini sudah agak keruh antara masalah hukum dan politik, seperti kejar-mengejar. Kalau tidak dirumuskan secara cepat akan terus menggelinding yang ujung-ujungnya kekacauan masif yang memperlihatkan ketidakberdayaan seorang Presiden ," ujar dia.
Reshuffle kabinet, kata Bambang Widodo, mungkin terjadi jika ada tekanan pada Presiden Jokowi untuk mengganti komposisi kabinetnya karena dianggap tidak kuat untuk menangani konflik antar lembaga penegak hukum.
Soal hubungan antarlembaga tersebut, Bambang menilai hal itu masih kurang harmonis, terutama antara Kepolisian, Kejaksaan, dengan KPK. Urusan pemberantasan korupsi pun masih berjalan sektoral dan tidak terjadi interdependensi kelembagaan. Kondisi inilah yang menurut Bambang menyebabkan potensi konflik sangat mudah untuk terjadi.
[Gambas:Video CNN] (utd/agk)