"Ya, itu stall. Stall warning juga sempat berbunyi," tegasnya ketika dikonfirmasi. Ia pun menuturkan, pada kondisi tersebut pilot mengalami kesulitan untuk mengembalikan pesawat ke kondisi normal. "Kelihatannya, pilot akan sangat sulit untuk melakukan recover," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pesawat sempat miring ke kiri lalu menanjak dalam waktu sekitar setengah menit, dari ketingggian 32 ribu kaki menuju 37 kaki. Setelah itu, pesawat turun dalam waktu 30 detik ke ketinggian 32 ribu kaki dan kemudian turun perlahan," papar Ertata.
Mardjono beralasan, black box tidak merekam apa yang terjadi berikutnya. "Kemungkinannya banyak, bisa jadi black box yang berada di ekor pesawat sudah terpisah dengan badan pesawat," katanya.
Mardjono mencatat, pesawat itu sempat menanjak tiga ribu kaki atau 1000 meter dalam waktu 30 detik. Dari level ketinggian normal 32 kaki, menurut guru besar aerodinamika Institut Teknologi Bandung ini, AirAsia QZ8501 mencapai level ketinggian teratas di 37.400 kaki.
"Saya perkirakan karena awan Cb karena pesawat lain pada jalur yang sama sudah berada di kiri. Sesuai foto satelit jam 23.00 GMT atau 15 menit sebelum kejadian, memang ada awan Cb. Kemungkinan menghindar karena faktor cuaca," lanjut Ertata. (sip)