Meski berhasil melakukan penangkapan jenderal Bintang 3 itu, namun Indonesia Police Watch menilai, Budi tidak disiapkan untuk menduduki kursi tertinggi di Polri. Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menyebut Budi sebagai sosok buldoser yang dibentuk untuk memberantas kasus-kasus besar.
"Kami melihat Budi Waseso bukan disiapkan untuk Kapolri. Dia dimasukan ke Bareskrim untuk membuldoser kasus-kasus besar, salah satunya seperti kasus BW. Dia dibuat untuk menumpaskan kasus-kasus di sana," kata Neta kepada CNN Indonesia, Jumat (6/2).
Dia menambahkan, walau demikian perjalanan Budi ke pucuk tertinggi Polri akan sangat mudah terjegal. Neta menyebut, ada tiga alasan yang sangat mungkin menjadi penghalang Budi. Halangan pertama adalah tidak adanya catatan Budi yang pernah duduk sebagai Kapolda saat dirinya mengusung bintang dua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini Kepala Staf TNI angkat '83, sementara Budi Waseso angkatan '84. Kondisi itu sangat mungkin membuat konstelasi politik keamanan dengan TNI dan Polri," kata Neta.
Walau demikian, ketiga hal tersebut diakui Neta tidak menjadi persyaratan dasar seorang Kapolri. Hanya saja, tiga hal itu bak tradisi yang tak dapat ditampik di tubuh kepolisian selama ini. "Banyak sekali ketentuan yang sifatnya mendasar di Polri, tetapi tidak diatur di Undang-Undang. Tapi benar ada tradisi itu dalam rangka pembuktian pengalaman dan kemapanan dia sebagai pimpinan," ujarnya. (meg)