LIPUTAN KHUSUS

Menguak Kisah Para Penjaja Jasa Nikah Bawah Tangan

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 18:34 WIB
Menguak Kisah Para Penjaja Jasa Nikah Bawah Tangan Ilustrasi pernikahan. (SOMATUSCANI)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Siap, pak! Tinggal atur saja waktunya. Kapan Bapak bisa pulang dari Kalimantan, nanti saya siapkan tempat. Pernikahan kita bikin singkat.. "

Penggalan obrolan itu lantas disudahi oleh Agus setelah pria di ujung sambungan telepon memutus percakapan. Ustaz kelahiran Tasikmalaya itu lantas memasukkan telepon genggamnya ke saku kanan kemeja batik yang terbungkus jaket hitam. Dia merebahkan badan pada kursi sambil menghela napas panjang.

Agus adalah penyedia jasa nikah siri yang menjalankan usahanya di Bandung, Jawa Barat. Pria di ujung telepon itu merupakan calon klien yang mengaku sebagai seorang pengusaha. Dia hendak menikahi calon istri mudanya yang merupakan mojang Kota Kembang, namun kesibukkannya yang mendera di Kalimantan tak memungkinkan si pengusaha menyiapkan persiapan pernikahan.


Tim CNN Indonesia kala itu berkesempatan bertatap muka dengan Agus di ruang kerjanya. Markas operasi yang dianggap Agus sebagai "kantor" itu berada di sebuah pojok ruangan mal yang ada di Bandung. Di ruang petak seukuran 3x5 meter persegi, Agus menjalankan usahanya.

"Saya sudah puluhan tahun jadi penghulu. Ratusan orang sudah saya nikahkan," ujar Agus membuka percakapan, akhir Januari lalu.

Agus mengaku sudah terbiasa dengan permintaan calon klien yang meminta agar persiapan nikahnya diatur oleh Agus. Mereka biasanya datang dari kalangan pejabat atau pengusaha yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi detil persiapan nikah.

Dalam satu bulan, Agus mengaku bisa menikahkan hingga mencapai 10 pasangan. Masa pergantian akhir tahun kemarin menjadi pekan tersibuk bagi Agus. Dalam satu pekan, Agus menikahkan delapan pasangan secara berturut-turut.

Ketika itu, Agus terpaksa bolak-balik ke luar kota lantaran lokasi klien yang hendak menikah berbeda-beda. Kala itu Agus bolak-balik kota Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Bandung. "Saya bahkan tahun baruan di Puncak, Bogor, karena ada pasangan yang minta dinikahkan malam itu juga," ujar Agus.

Agus mengatakan, tempat menikah bisa dilakukan di mana saja. Jika mendesak dan ingin cepat, calon mempelai biasanya akan disuruh Agus untuk datang ke "kantornya" yang juga dijadikan sebagai etalase untuk menjual buku-buku berharga miring.

Agus juga menerima panggilan sesuai lokasi yang diinginkan oleh para calon pelanggannya. "Biasanya saya menikahkan pasangan di kamar hotel. Tapi baiknya di rumah makan, jadi selesai menikah bisa langsung makan-makan," ujar Agus setengah berkelakar.

Meski mendorong pasangan agar segera menikah dan menghindari zina, tak semua klien dinikahkan oleh Agus. Bagaimanapun, Agus tetap memilah dan memberikan pertimbangan terhadap para calon klien yang datang kepadanya.

Agus bercerita, pernah ada mahasiswi berusia 26 tahun yang ingin menikah dengan kekasihnya, seorang pemuda pengangguran yang usianya tiga tahun lebih muda. Mereka tidak mendapat banyak modal untuk menikah namun sudah tak sabar merajut hidup bersama dalam mahligai rumah tangga.
Ilustrasi buku nikah. (CNN Indonesia/Utami Widowati)


Mengetahui hal itu, Agus memilih menunda pernikahan mereka. Agus menghendaki si calon suami agar terlebih dulu memiliki pekerjaan, sebab kewajiban suami adalah menafkahi istri. Enam bulan kemudian mereka datang kembali dan si calon pria mengaku sudah dapat kerja. "Dari situ saya baru mau menikahkan mereka," ujar Agus.

Lain lagi cerita dengan sepasang kekasih yang terpisah jarak ribuan kilometer. Kala itu calon pria terpaksa meninggalkan kekasih di kampung halamannya, Flores, karena telah memilih untuk mencari uang di Kota Kembang.

Tak punya uang untuk pulang, si pria asal Flores itu ketar-ketir menanggapi desakan kekasihnya yang sudah tak sabar ingin dinikahi. Si perempuan gelisah pacarnya kepincut perempuan lain di tanah orang.

Agus punya solusi. Pernikahan menurut Agus tidak perlu melibatkan kehadiran kedua mempelai. Maka prosesi sakral itu pun digelar lewat sambungan telepon. "Ketika mempelai perempuan itu mengiyakan kesanggupan untuk dinikahi mempelai pria, pernikahan pun sah," ujar Agus.

Metode itu pula yang sempat ditawarkan oleh Agus kepada calon kliennya yang dirundung kesibukan di Kalimantan. Namun pengusaha kaya raya itu memilih agar Agus mempersiapkan segala urusan pernikahan. Demi tujuan yang menurutnya mulia, Agus tak berkeberatan. Sebab, kata Agus, "Daripada zina, lebih baik menikah." (sip)