Pasca Tewasnya Daeng Koro, Sulawesi Tengah Kondusif

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2015 22:47 WIB
Pasca Tewasnya Daeng Koro, Sulawesi Tengah Kondusif Polisi memeriksa tempat kejadian perkara tewasnya salah satu teroris anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso usai baku tembak antara Densus 88 Anti Teror Polri, Brimob dengan sedikitnya 12 orang teroris, di pegunungan Desa Sakina Jaya Kecamatan Parigi Utara, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). (ANTARA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Situasi di Sulawesi Tengah pasca tewasnya pentolan kelompok teroris Santoso, Daeng Koro, tetap kondusif. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto, kemungkinan serangan balik pun belum terdeteksi. 

"Secara umum kondusif. Mudah-mudahan tidak terjadi (serangan balik)," kata Agus melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia, Selasa (7/4). 

Dia menyatakan, Polri didukung seluruh komponen masyarakat dan TNI selalu melakukan upaya untuk tetap menjaga situasi situasi agar selalu kondusif. 


Karena itu, saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski Daeng Koro menjadi korban dalam baku tembak antara Densus  88 dan kelompok teroris di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, akhir pekan lalu. 

Sebelumnya, pengamat terorisme Al Chaidar menyebut salah satu yang mesti diwaspadai Polri adalah serangan balasan. “Tapi kemungkinan serangan balasan itu tergantung kemampuan dan kesempatan kelompok itu,” kata dia.

Aksi balasan sebelumnya pernah dilakukan kelompok Santoso, Oktober 2012. Ketika itu mereka balas dendam karena Densus menangkap salah satu anggotanya pada September 2012. Anak tiri teroris Abu Umar yang sudah dianggap keponakan sendiri oleh Daeng Koro pun mati ditembak polisi. Belum lagi orang kepercayaannya, Sutarno alias Wahid, ditangkap di Ambon.

Aksi balas dendam Daeng Koro saat itu menewaskan dua anggota Polres Poso.

Pasca tewasnya Daeng Koro, menurut Al Chaidar, bisa jadi kelompoknya yang berjumlah sekitar 60 orang menyusun rencana baru, termasuk aksi balasan. Inilah yang harus terus dipantau oleh Polri.

Daeng Koro dan Santoso pada tahun 2013 disebut Ansyaad Mbai yang saat itu menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebagai teroris berbahaya di Indonesia. Mereka bersama-sama melatih calon teroris di Poso, Sulawesi Tengah. (hel)