Sebutan Petugas Partai Mega ke Jokowi Terlalu Merendahkan

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Jumat, 17/04/2015 18:06 WIB
Sebutan Petugas Partai Mega ke Jokowi Terlalu Merendahkan Presiden Joko Widodo (kedua kiri), Wapres Jusuf Kalla (kanan), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (ketiga kiri) dan Menko PMK Puan Maharani (kiri) menghadiri acara pembukaan Kongres IV PDI di Hotel Inna Grand Bali Beach, Bali, Kamis (9/4).(ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pola komunikasi Presiden Joko Widodo terhadap partai-partai politik dan PDIP selaku partai pengusungnya dikatakan memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut muncul karena Joko Widodo bukan merupakan Presiden yang memiliki latar belakang sebagai pemimpin partai di Indonesia.

"Jokowi adalah Presiden pertama sejak 1999 yang bukan pemimpin partai politik. Sehingga dia memiliki pola hubungan yang unik dengan partai politik pengusungnya," ujar peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syamsuddin Haris di Kantor LIPI, Jakarta, Jumat (17/4).

Keunikan pola komunikasi antara Jokowi dan PDIP lah yang dipandang menjadi pemicu terjadinya dinamika dalam penyelenggaraan Kongres Nasional PDIP minggu lalu. Posisi Jokowi yang dianggap 'hanya' petugas partai muncul karena tidak adanya jabatan internal PDIP yang dimiliki mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.


Lebih lanjut Haris mengatakan bahwa istilah 'petugas partai' yang digunakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebenarnya terlalu merendahkan posisi Presiden Joko Widodo pada Kongres PDIP yang baru saja berlalu.

Haris memandang bahwa penggunaan kata 'kader partai' dapat lebih pantas digunakan dibanding dengan istilah 'petugas partai' yang sudah diucapkan Megawati kala pembukaan Kongres PDIP.

"Penggunaan istilah petugas partai cenderung merendahkan. Ada istilah yang standar dalam penyebutan petugas partai sebenarnya, yaitu kader. Oleh karena itu sangat wajar apabila ungkapan Megawati menimbulkan kontroversi," kata Haris menjelaskan.

Istilah petugas partai melekat ke Jokowi sejak Megawati mengatakan hal itu saat menyatakan PDIP mengajukan mantan wali kota Solo tersebut saat Pilpres 2014 lalu. Usai terpilih, hubungan Jokowi dengan Mega dan PDIP kurang harmonis. Beberapa elite PDIP mengingatkan Jokowi bahwa dirinya hanyala seorang petugas partai.

Dalam pidato penutupan Kongres PDIP Megawati Soekarnoputri kembai membahas soal petugas partai.  Menurutnya banyak kader yang merasa malu dengan sebutan "petugas partai" padahal sebutan itu memang merupakan sebutan bagi kader partai. (Baca juga: Megawati: Jika Tak Mau Disebut Petugas Partai, Keluar!)

Oleh sebab itu, Megawati pun menegaskan agar kader yang tidak suka dipanggil "petugas partai" untuk keluar saja dari PDI Perjuangan. "Untuk kader di DPR dan Fraksi PDI Perjuangan, ingatlah bahwa kalian adalah petugas partai dan merupakan perpanjangan tangan partai," kata Megawati di Grand Inna Bali Beach Sanur, Bali, Sabtu (11/4)"Jika tidak mau disebut petugas partai, keluar! Petugas partai wajib melakukan instruksi partai," ujarnya tegas. (Baca juga: Tak Diberi Waktu Pidato, Jokowi Beri Arahan Secara Tertutup)

Terkait hal tersebut, Megawati mengatakan dirinya pun merupakan seorang petugas partai. Dia petugas partai yang dikukuhkan kongres partai untuk memimpin PDI Perjuangan lima tahun lagi. Menurutnya dia harus tegas kepada kader yang menolak dipanggil petugas partai. Dirinya pun mengaku dirinya adalah seorang yang lembut tapi jika sudah berurusan dengan partai maka dia akan menjadi perempuan yang galak. (Baca Fokus: Kongres Partai Penguasa)


(hel)