Jokowi Diminta Tak Takut Usut Tragedi Mei 98

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 14:39 WIB
Keluarga korban berharap negara memberikan pengakuan atas adanya pelanggaran HAM Berat terjadi pada Mei 1998 silam. Sejumlah Mahasiswa Universitas Dr. Soetomo melakukan aksi untuk memperingati Tragedi Trisakti dengan membawa foto Mahasiswa Trisakti di depan Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO) Surabaya, Jawa Timur, Senin (11/5). (AntaraFoto/ Herman Dewantoro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para keluarga korban Tragedi kekerasan dan kerusuhan pada Mei 1998 silam melakukan peringatan peristiwa tersebut pada hari ini, Selasa (12/5) di Mal Citra Klender, Jakarta Timur. Peringatan 17 tahun tragedi kemanusiaan tersebut dilakukan dalam bentuk pergelaran budaya.

Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Zaenal Muttaqin menyatakan ini kali pertama pergelaran budaya untuk memperingati Tragedi Mei 1998 dilakukan di pelataran Mal Citra Klender, yang sebelumnya dikenal dengan Yogya Plasa.

"Tahun-tahun sebelumnya, kami hanya menabur bunga sambil mengitari mal ini. Ternyata, pengelola mal lebih senang kami melakukan peringatan dalam bentuk pergelaran budaya," kata Zaenal yang merupakan ketua panitia, saat ditemui di sela acara. (Baca Juga: FOKUS Menanti Sikap Jokowi soal Mei 98)


Zaenal kemudian mengatakan dalam peringatan tersebut terdapat acara pertunjukkan musik, pertunjukkan rebana, pameran foto, mural serta bazar. Konsep acara, kata Zenal, memang sengaja dibuat sedemikian rupa agar menarik minat kalangan muda.

"Supaya mereka tahu dan mengerti bahwa pernah terjadi Tragedi Mei 1998. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," katanya.

Turut hadir dalam peringatan tersebut anggota komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Kebangkitan Bangsa Maman Imanulhaq. Ia berpendapat pemerintah harus segera mengakui Tragedi Mei 1998.

"Jokowi seharusnya tidak boleh takut! Selama ini ia dan Presiden-Presiden sebelumnya ketakutan mengakui kasus pelanggaran berat hak asasi manusia yang sudah terjadi," katanya. (Baca Juga: JK: Pemerintah Sudah Upaya Maksimal usut Tragedi Mei 98)

Pernyataan serupa turut dilontarkan para keluarga korban. "Pengakuan negara itu penting. Pemerintah harus bertanggung jawab dan bukannya malah menuduh para korban sebagai penjarah dalam kerusuhan itu," kata Maria Sanu (67).

Maria menceritakan tujuh belas tahun lalu, ia kehilangan sang buah hati yang bernama Stevanus Sanu. "Kala itu, Stevanus masih 16 tahun. Sampai sekarang belum jelas apa yang terjadi kepadanya," kata Maria. (Lihat Juga: Keluarga Korban Tragedi Mei 98 Kecewa dengan Jokowi)

Pada 14 Mei 1998 silam, Mal Citra Klender yang pada waktu itu bernama Yogya Plasa menjadi salah satu tempat kerusuhan. Mal ini dibakar dan ratusan korban meninggal. Berdasarkan keterangan dari Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), puluhan pemuda berseragam SLTA datang membawa jerigen yang diturunkan dari sebuah truk warna merah.

Sampai dengan detik ini, menurut keterangan Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) diperkirakan terdapat ratusan keluarga korban yang masih tidak mengetahui keberadaan keluarganya. (utd/utd)