Langkah Mendekat SBY ke Megawati dan Jokowi

, CNN Indonesia | Jumat, 15/05/2015 06:07 WIB
Langkah Mendekat SBY ke Megawati dan Jokowi Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato politiknya saat penutupan Kongres IV Partai Demokrat di Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5). (Antara/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hiruk-pikuk Kongres IV Partai Demokrat telah usai. Selama penyelenggaraan Kongres, mulai pra hingga penutupan, satu hal tergambar jelas: betapa Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Umum Demokrat berupaya keras mengundang Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Megawati Soekarnoputri dan 'petugas partainya', Presiden Jokowi, untuk menghadiri pembukaan Kongres di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/5).

Usaha ekstra SBY itu misalnya terpampang di akun Twitter @SBYudhoyono. Pada 8 Mei atau empat hari sebelum pembukaan Kongres Demokrat, @SBYudhoyono memajang potret para elite Demokrat dan PDIP, termasuk Megawati. Mereka berfoto berjajar di depan lukisan Megawati. Di atas foto itu, tercantum tulisan “Utusan khusus PD (Partai Demokrat) bersama Ibu Megawati usai mengundang dan silaturahmi berkaitan dengan Kongres PD mendatang.”

Tak hanya menggunakan kata ‘utusan,’ @SBYudhoyono memilih memakai kata ‘utusan khusus.’ Siapa mereka yang ‘khusus’ itu? Tak lain putra bungsu SBY, Sekretaris Jenderal Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas; Ketua Harian Demokrat Syarif Hasan; dan adik ipar SBY, Wakil Ketua Umum Demokrat Agus Hermanto yang juga menjabat Wakil Ketua DPR. Mereka semua kini demisioner sampai SBY selaku Ketua Umum Demokrat 2015-2020 membentuk ‘kabinet’ barunya.



Pada 8 Mei itu, SBY berbagi cerita soal potret petinggi Demokrat dan PDIP tersebut lewat Akun Twitter-nya. “Alhamdulillah, kemarin (7 Mei) di kediaman beliau, Ibu Megawati berkenan menerima utusan khusus Partai Demokrat dalam suasana yang baik. Tiga pimpinan PD (Syarif Hasan, Edhie Baskoro, dan Agus Hermanto) mengundang dan mohon restu beliau sehubungan dengan Kongres PD.”

“Semoga ini menjadi langkah baik bagi terjalinnya silaturahmi yang lebih dekat antara Ibu Megawati dan PDIP dengan kami dan PD di masa depan. Sungguh indah jika konstituen Ibu Megawati dan konstituen saya tidak terus ‘berjarak’ dan bisa bersatu demi kepentingan bangsa dan negara,” kata SBY. Tulisan itu ia posting sendiri, dicirikan dengan tanda *SBY* yang mengakhiri tiap kalimat.

Pada hari saat para utusan khusus SBY menemui Megawati itu, SBY juga mem-posting di Twitter harapannya agar Jokowi dapat menghadiri pembukaan Kongres Demokrat. “Atas permohonan saya, Presiden Jokowi berkenan dan berjanji untuk hadir dalam pembukaan Kongres, bersama pejabat negara dan pemerintahan.”

Dini hari usai pembukaan Kongres Demokrat, Rabu (13/5), empat foto terpampang di akun Twitter SBY, di antaranya memperlihatkan SBY dan Jokowi yang sedang bercengkerama sambil tertawa bersama pada malam pembukaan Kongres Demokrat. Keduanya tampak cukup relaks, dengan wajah segar berseri-seri, jauh dari kesan letih meski SBY berhari-hari sebelumnya sibuk mempersiapkan Kongres, sedangkan Jokowi sepekan terakhir terbang ke sana ke mari terkait kunjungan kerjanya ke Maluku, Papua, dan Papua Nugini.


Sikap santai Jokowi ditunjukkan pula dalam pidatonya pada pembukaan Kongres Demokrat. “Pak SBY, mohon Ruhut diberi penghargaan,” kata Jokowi memulai pidatonya dengan menyinggung upaya Ruhut Sitompul mendatangkannya ke Surabaya. Cerita Jokowi sontak mengundang gelak tawa riuh peserta Kongres, mengawali suasana cair malam itu. (Baca: Dipuji Jokowi, Ruhut Beber Cara Datangkan Presiden ke Kongres)

Jokowi kembali membuat gegap-gempita ruangan Kongres dengan bercerita soal pilihan pakaiannya malam itu, yakni setelan jas lengkap dengan dasi merah, bukan sekadar kemeja putih polos yang jadi favoritnya selama ini.

“Tadi waktu berjalan, ada yang nyelutuk ke saya, ‘Pak, kok enggak pakai baju putih? Kok pakai jas? Enggak biasanya,’” ujar Jokowi. “Perlu saya sampaikan, sudah saya perkirakan saya pasti berjejer dengan Pak SBY. Pak SBY kan biasanya rapi. Sudah tinggi besar, pakai pakaian rapi. Kalau saya pakai pakaian putih, langsung…” kata Jokowi tak menyelesaikan kalimatnya, namun memberi kode dengan menggerakkan tangan kanannya ke bawah sembari membalikkan telapak tangan. Maksud dia: jomplang.

Jokowi rupanya tak mau dilihat tak seimbang dengan SBY bak bumi dan langit. Ucapan dan cara Jokowi memperagakan maksudnya itu langsung disambut ledakan tawa hadirin. Ani Yudhoyono, SBY, mantan Wakil Presiden Boediono, Syarif Hasan, dan Ibas yang menempati bangku deret pertama di ruangan Kongres sampai terpingkal-pingkal mendengar ‘banyolan’ Jokowi.

“Sekali-sekali saya kan boleh tampil rapi seperti ini. Kalau kalah dengan Pak SBY, ya sedikit-sedikit kalahnya. Mengenai kerapian loh,” kata Jokowi lagi, sementara seisi ruangan dipenuhi tawa membahana peserta Kongres dan tamu undangan.

Kehangatan yang terpancar dari Jokowi dan SBY malam itu dilengkapi dengan datangnya karangan bunga ‘Selamat dan sukses’ berukuran 2 x 3 meter dari Megawati keesokannya di lokasi Kongres.

Jangan ganggu Jokowi

‘Kemesraan’ antara Demokrat dan PDIP itu terlihat nyata –setidaknya selama Kongres. Namun sesungguhnya sekitar dua pekan sebelum itu, ketika SBY mengumumkan kesediaannya maju sebagai calon ketua umum, sinyal Demokrat mendekat ke PDIP sang partai penguasa sudah tampak.

Di hadapan kader muda Demokrat, SBY meminta mereka mendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. “Pemerintahan jangan diganggu. Jangan. Dulu 10 tahun (saya memimpin) ada elemen yang konsisten mengganggu saya dan kita tak perlu lakukan hal yang sama. Beri kesempatan kepada Jokowi. Dukunglah. Kami berharap selama lima tahun pemerintahan bisa berprestasi supaya kita senang,” kata Presiden RI keenam itu.

Dukungan itu ia tegaskan pada pembukaan Kongres. Di hadapan Jokowi, SBY memerintahkan kepala daerah asal Demokrat untuk loyal kepada Presiden dan membantu penuh pemerintah tanpa kehilangan sikap kritis. Kader Demokrat pun diinstruksikan untuk mendukung seluruh kebijakan pemerintah selama kebijakan itu pro-rakyat, tanpa meniadakan fungsi pengawasan mereka terhadap eksekutif.

Ke mana elite KMP?

Ingar-bingar mesranya SBY dan Jokowi itu lantas memunculkan pertanyaan: ke mana Prabowo? Dia tak terlihat di pembukaan Kongres Demokrat. Walau bukan presiden, Ketua Umum Gerindra itu terhitung pentolan di dunia politik tanah air. Prabowo, selain Ketua Umum Golkar Munas Bali Aburizal Bakrie, merupakan tokoh inti Koalisi Merah Putih –rival Koalisi Indonesia Hebat yang mengusung Jokowi pada Pemilu Presiden 2014.

Meski kubu-kubuan antara KMP dan KIH kerap diklaim tak ada lagi, nyatanya pengelompokan dua kekuatan politik besar itu tetap muncul saat ada kepentingan politik salah satu pihak terganggu, misalnya ketika Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly –yang asal PDIP– memilih untuk mengesahkan pengurus Partai Persatuan Pembangunan kubu Romahurmuziy dan pengurus Golkar kubu Agung Laksono yang keduanya mendukung pemerintahan dan berada di sisi KIH.

Memang walau Prabowo tak menghadiri pembukaan Kongres Demokrat, ada tokoh KMP lain yang ada di sana. Sebut saja Zulkifli Hasan dan Taufik Kurniawan dari Partai Amanat Nasional, Setya Novanto dari Golkar, dan Fadli Zon dari Gerindra. Foto-foto mereka pun ikut dipasang di akun Twitter SBY meski kesan yang ditimbulkan tak se-wah seperti saat elite Demokrat bertemu Megawati.

Tokoh-tokoh KMP yang hadir di pembukaan Kongres Demokrat bisa jadi datang lebih karena kapasitas mereka selaku pemimpin lembaga negara. Zulkifli misalnya menjabat Ketua MPR, Setya Ketua DPR, Taufik dan Fadli Wakil Ketua DPR. Jadi mungkin supaya praktis, mereka ini paket two in one, mewakili partai sekaligus lembaga, sama seperti Jokowi yang mewakili eksekutif sekaligus PDIP.

Walau begitu, ada satu perbedaan yang amat kentara terkait upaya SBY mengundang Megawati-Jokowi dan para elite KMP. Sementara SBY terlihat ‘mati-matian’ mendatangkan Megawati dan Jokowi ke Kongres, ia seperti tak menerapkan ikhtiar serupa terhadap para pemimpin partai politik anggota KMP, termasuk Prabowo.

Mungkin karena Prabowo bukan presiden. Mungkin juga karena Demokrat punya kepentingan berbeda ke KMP dan KIH. Yang jelas, menurut Fadli Zon, Prabowo memang terhalang kesibukan. Dia sedang berada di luar negeri.

Apapun, betulkah sikap ‘pilih kasih’ SBY itu hanya demi memperbaiki hubungan masa lalunya yang buruk dengan Megawati? Mungkin tidak. Nyaris selalu ada alasan politis di balik langkah yang diambil politikus, dan SBY merupakan politikus kawakan yang dikenal kerap mengukur matang strateginya bak pemain catur. Bila tidak, mana mungkin dia bertahan dua periode memimpin Republik ini?

SBY, menurut pengamat politik Indria Samego, tengah berupaya merangkul kekuatan nasionalis yang ada di PDIP untuk memulihkan elektabilitas partainya yang porak-poranda pada pemilu legislatif lalu. Pun, Demokrat yang telah menegaskan memosisikan diri di luar pemerintahan dan tak mengincar kursi menteri, bukan berarti tak bisa menggandeng PDIP dalam pemilihan kepala daerah serentak yang digelar akhir tahun ini.

Benar atau tidaknya analisis itu, waktu yang akan membuktikan.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS