SBY: Mesti Cermat dan Jangan Gegabah Tetapkan Tersangka

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2015 07:06 WIB
SBY: Mesti Cermat dan Jangan Gegabah Tetapkan Tersangka Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berbincang dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (ketiga kanan) disaksikan oleh Ibu Ani Yudhoyono (kanan) dan mantan Wapres Boediono (kiri) saat pembukaan kongres Partai Demokrat ke-IV di Hotel Shangrila, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/5). ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Surabaya, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyinggung ketegangan antara dua lembaga hukum, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri, dalam pidato penutupan Kongres IV di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5) malam.

"Selamatkan KPK dan Polri agar keduanya tetap bisa melaksanakan tugasnya secara efektif. Fungsi tidak boleh terganggu karena terjadinya benturan perorangan," kata SBY dalam salah satu poin rekomendasinya terhadap pemerintahan Joko Widodo.

Dia berharap dalam pemerintahan Jokowi dapat terus menjaga dan menghidupkan iklim pemberantasan korupsi. "Karena rakyat Indonesia makin ke depan menginginkan Indonesia makin bersih."


Untuk mencapai itu, kedua institusi hukum mesti mengutamakan pencegahan dan penindakan korupsi secara agresif dan tidak pandang bulu.

"Cermat dan tidak gegabah menetapkan sebagai tersangka, jangan ada unsur subjektif dan politis," kata SBY.

Kedua institusi memang belakangan menegang pascapenetapan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan gratifikasi. Menyusul perkara itu, satu demi satu pimpinan KPK kemudian terjerat masalah hukum.

Terakhir, Ketua KPK nonaktif Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK nonaktif Bambang Widjojanto yang sama-sama sudah berstatus tersangka nyaris ditahan oleh kepolisian. Dalam hal ini, Samad terjerat kasus pemalsuan dokumen dan Bambang disangka mengarahkan saksi untuk memberikan kesaksian palsu dalam persidangan. (Baca: Abraham Samad Pertimbangkan Ajukan Praperadilan)

Kongres IV Demokrat di Hotel Shangri-La resmi ditutup Rabu (13/5) malam. SBY secara aklamasi kembali terpilih menjadi Ketua Umum partai yang membawanya memimpin Indonesia selama dua periode. (obs/obs)